Konservasi Tanaman Kopi Mencegah Longsor


Penulis:  (Liliek Dharmawan/N-2) - 12 February 2019, 22:10 WIB
MI/LILIEK DHARMAWAN
 MI/LILIEK DHARMAWAN

UNTUK menuju Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Jawa Tengah, saya harus melewati jalan terjal. Gunung Babadan berada di lereng Gunung Bisma yang berada di kompleks pegunungan api Dieng. Dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, Desa Babadan rawan terjadi longsor. Meski demikian, Desa Babadan selain dikenal sebagai daerah penghasil sayuran, juga penghasil kopi.

Kepala Desa Babadan, Wahyu Setiawati mengungkapkan saat ini mayoritas petani memilih menanam kopi karena pada 2005 pernah terjadi longsor di Sekopel. Empat orang meninggal dunia.

“Kondisi itu membuat masyarakat di sini beralih menanam kopi sejak 2011. Tanaman kopi ini termasuk tanaman konservasi. Kini, sudah ada 185 petani dengan luas lahan 70 hektare ditanami kopi. Bekas longsoran seluas 2 hektare akan ditanami kopi,” ungkapnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Kelompok Tani Rukun Kinaryo, Sugiman Darsono, membenarkan sekarang banyak warga beralih menanam kopi. “Saya sendiri merasakan perbedaaan. Dulu sewaktu menjadi petani sayuran, setiap tahun bisa panen 2-3 kali. Jenis sayur yang ditanam adalah kubis, cabai, dan lainnya. Bahkan, pernah ada warga yang menanam tembakau. Khusus sayuran sekali panen maksimal mendapatkan Rp2 juta. Itu sudah harga bagus,” ujarnya.

Bila harga anjlok, petani merugi. Barulah pada 2013, Sugiman beralih ke tanaman kopi. Saat ini ia memiliki 1.500 batang pohon kopi. Dari jumlah itu, yang sudah bisa dipanen sebanyak 700 batang. Dari kalkulasi yang dibuat Sugiman, setiap tahun tanaman kopinya bisa menghasilkan 2 ton. “Tetapi biasanya saya tidak menjual dalam bentuk kopi petik dari pohon. Saya memprosesnya menjadi green bean. Prosesnya membutuhkan waktu antara 15-30 hari, tergantung kualitasnya. Kalau sudah kering, harganya berkisar antara Rp105 ribu hingga Rp150 ribu per kg,” tambahnya.

Kini, dengan kerja sama antara Kantor Bank Indonesia (BI) Purwokerto dan Pemkab Banjarnegara, Desa Babadan menjadi salah satu wilayah yang memperoleh bantuan bibit kopi dalam program Sejuta Pohon Kopi untuk Konservasi dan Peningkatan Ekonomi Petani.

Wakil Bupati Banjarnegara Syamsuddin mengatakan bahwa sampai sekarang luas lahan kopi di Banjarnegara terus meningkat dan telah mencapai 2.657 hektare (ha). “Dengan meluasnya tanaman kopi tersebut, berarti minat masyarakat untuk menanam kopi terus meningkat. Sampai sekarang, dengan adanya tanaman kopi telah mampu meningkatkan ekonomi masyarakat,” kata Wakil Bupati Syamsuddin.

Kopi Banjarnegara telah meraih berbagai prestasi baik regional maupun nasional. Pada 2017, kopi Banjarnegara meraih juara I Festival Kopi Nusantara di Bondowoso, kemudian pada 2018 juara I Uji Cita Rasa Kopi tingkat Jateng. (Liliek Dharmawan/N-2)

 

BERITA TERKAIT