Ambisi 'Los Galacticos' Berlanjut di Tangan Solari


Penulis: Satria Sakti Utama - 12 February 2019, 14:15 WIB
GABRIEL BOUYS/AFP
GABRIEL BOUYS/AFP

BANYAK pihak berpendapat bahwa kepergian Zinedine Zidane dan Cristiano Ronaldo akan membuat Real Madrid mustahil kembali mengukir prestasi di Liga Champions Eropa. Namun, kehadiran pelatih anyar Santiago Solari sedikit demi sedikit memudarkan keraguan tersebut.

'Los Galacticos', julukan Madrid, sempat limbung di awal musim karena masa transisi yang buruk pada periode kepemimpinan Julen Lopetegui. Tapi sejak Solari mengambil alih kursi kepelatihan sejak akhir Oktober 2018 lalu, Madrid mulai seimbang.

Solari mencatatkan rasio kemenangan mencapai 76% setelah mengunci 19 hasil positif dalam 25 pertandingan yang telah dijalani bersama Madrid. 

Terakhir Karim Benzema dkk sukses menahan imbang Barcelona di Nou Camp plus mengalahkan rival sekota Atletico Madrid 1-3 di pentas La Liga Spanyol akhir pekan lalu. Hasil ini membuat kepercayaan publik Santiago Bernabeu kembali meninggi kepada tim kebanggaannya.

Selain itu, Real Madrid merupakan tim tersukses di Eropa dengan catatan 13 gelar Liga Champions Eropa. Empat titel terakhir di kejuaraan tersebut diraih hanya dalam waktu lima tahun terakhir, tiga diantaranya didapatkan secara beruntun.

"Menjuarai Liga Champions empat kali berulang? Bukan hal yang mustahil untuk Real Madrid. Sepak bola merupakan penyedia harapan dan mimpi dari yang Maha Kuasa. Terkadang mimpi dan harapan itu tak menjadi kenyataan, tapi sepak bola membuat anda memulainya lagi untuk mendapatkan kesempatan," kata Solari.

 

Baca juga: Setan Merah Berada di Atas Angin

 

Dengan modal di atas, Real Madrid dapat lebih jemawa menghadapi Ajax Amsterdam pada babak 16 besar Liga Champions Eropa, Kamis (14/2) dini hari. Pertandingan leg pertama akan digelar di Stadion Johan Cruijff terlebih dahulu.

Meskipun demikian, Solari tak ingin anak asuhnya tinggi hati ketika melawan Ajax. Tim berjuluk 'de Amsterdammers' dinilai dapat memberikan ancaman bagi Madrid. Diisi pemain-pemain muda bertalenta seperti Matthijs de Ligt, Kasper Dolberg, atau Frenkie de Jong, Ajax tak bisa serta merta dipandang sebelah mata.

Tim asuhan Erik ten Haag mampu dua kali menahan imbang raksasa Jerman Bayern Munchen di babak penyisihan grup beberapa waktu lalu. Kedua tim bermain 1-1 di Munchen pada awal Agustus silam dan terakhir hasil seri 3-3 didapatkan ketika beradu di Amsterdam.

Ajax juga tak terkalahkan jika bermain di kandang sendiri pada ajang Liga Champions Eropa musim ini. Tercatat Ajax meraih lima kali menang dan hanya sekali seri dalam enam laga yang digelar di Stadion Johan Cruijff.

"Ajax dikenal dengan pekerjaan hebat mereka pada sistem akademi usia muda. Mereka selalu berkomitmen mendukung itu. Itulah cara mereka bekerja sejauh ini. Laga ini akan sulit karena nyatanya mereka sangat kompetitif," kata Solari.

Mencoba bangkit
Akan tetapi, kekalahan tipis 0-1 dari Heracles membuat fokus Klaas Jan Huntelaar dkk terganggu. Bek muda Matthijs de Ligt pun mengingatkan rekan-rekannya agar tak melakukan kesalahan sekecil apapun ketika menghadapi Madrid.

"Kami tidak dapat berharap untuk bermain seperti saat melawan Heracles. Jika kami melakukannya kami akan dicincang oleh Madrid. Apa yang kami tunjukkan melawan Heracles merupakan hal memalukan," kata De Ligt.

Kekhawatiran pemain 19 tahun ini juga mungkin diakibatkan dengan isu panasnya ruang ganti pasca keputusan Frenkie de Jong merapat ke Barcelona musim depan. Keputusan tersebut banyak dikritik karena disampaikan dalam waktu yang tidak pas atau jelang laga krusial melawan Madrid.

Sementara itu, gelandang Dusan Tadic memilih tetap berpikir positif.

"Saya yakin kami masih bisa mengalahkan siapa pun. Orang lain mungkin berbicara tentang betapa buruknya kami bermain sekarang, tetapi kami harus keluar dan menunjukkan bahwa kami masih bisa melakukannya," kata Tadic. (OL-3)

BERITA TERKAIT