Lukisan Karya Jokowi Dilelang Rp400 Juta


Penulis: Insi Nantika Jelita - 12 February 2019, 07:45 WIB
Ist
 Ist

SAAT mengunjungi Pameran Karya Seni Lintas Generasi di Ballroom Ho­tel Pullman, Central Park, Gro­­gol, Jakarta, tadi malam, capres ­petahana Joko Widodo ikut melukis. Karya Jo­kowi kemudian diteruskan seorang seniman bernama ­Gus­men Heriadi.

Karya tersebut dinamai Estetika Warna. Lukisan itu kemudian ikut dilelang dan dibeli dengan harga Rp400 juta. “Terjual seharga Rp400 juta kepada kursi 32 C, selamat,” kata Choky Sitohang yang menjadi pembawa acara pada acara lelang tersebut.

Sebelumnya, seusai mengha­diri lelang yang digelar Tim Kam­panye Nasional Jokowi-Amin, capres nomor urut 01 itu menuturkan bahwa dirinya ter­libat di acara tersebut untuk membantu TKN mendapatkan dana kampanye. “Saya ngomong apa adanya ya, ini fund raising,” ungkap Jokowi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua TKN Erick Thohir meng-apresiasi para seniman yang ter­libat dalam acara lelang lu­­kisan tersebut. “Ini membuktikan bahwa pergerakan dari para seniman harus ­diapresiasi. ­Jangan sampai nanti, mohon maaf, karya-karya mereka ­akhir­nya dipersulit karena kebe­basan dari ekspresi kan hal yang penting,” jelasnya.

Menurut Erick, hasil dana lelang lukisan tersebut dilaporkan ke KPU secara terbuka dan transparan. “Kami dari tim TKN memang menjaga sekali transparansi, profesionalisme, tidak menutup-nutupi. Kita sedang lelang lukisan Ibu Kartika Affandi, sekarang sudah Rp2 miliar, dan ini merupakan hal-hal yang luar biasa,” katanya.

Kegiatan lelang lukisan itu mengangkat tema #01 Satu arah untuk satu Indonesia maju. Dalam pameran tersebut ada sekitar 73 karya seni yang ditam-pil­kan dan siap dilelang, yang me­rupakan karya 32 seniman.

Sejumlah karya seni yang di­­tampilkan yaitu dari I Nyoman Nuarta, Goenawan Mohamad, Hanafi, Erica, Nasirun, Anton Su­biyanto, Kartika Affandi, Putu Su­tawijaya, Hojatul, Gusmen He­riadi, Deddy Sufriadi, dan Heri Kris.

Sekretaris TKN Jokowi-Amin, Hasto Kristiyanto, menambahkan bahwa dukungan da­ri para seniman dan budayawan sangat penting. Hal itu menjadi titik temu antara ilmu pengetahu­an, kekuasaan, para politikus, dan kebudayaan sehingga membentuk kolaborasi yang di­anggap positif.

“Tanpa kebudayaan, suatu bang­sa akan mati. Tanpa kebu­­dayaan, politik bagaikan di pa­­dang gurun tanpa oase,” ujar­nya. (Ins/X-10)

BERITA TERKAIT