Nasir Djamil Disebut Terima Rp1 Miliar


Penulis: Dero Iqbal Mahendra - 12 February 2019, 07:30 WIB
ANTARA FOTO/Ampelsa
ANTARA FOTO/Ampelsa

ANGGOTA Komisi III DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Nasir Djamil disebut menerima uang Rp1 miliar dari seorang pengusaha asal Aceh.

Nama Nasir pun terseret da­­lam perkara gratifikasi yang menjerat Gubernur nonaktif Aceh Irwandi Yusuf.

Nama Nasir disebut dalam si­­dang kasus tersebut di Pengadil­an Tipikor Jakarta, kemarin.

“Nasir Djamil itu anggota DPR RI, tapi Pak Nasir tidak ta­hu apa-apa, yang menawarkan pekerjaan itu Rizal kepada saya,” ka­­ta Direktur PT Kempura Alam Nangroe Dedi Mulyadi.

Dedi bersaksi untuk Irwandi Yusuf yang didakwa bersama-sa­­ma Hendri Yuzal selaku staf khu­­sus gubernur dan tim sukses gubernur Teuku Saiful Bahri menerima suap Rp1,05 mi­­liar dari Ahmadi selaku Bupa­­ti Bener Meriah. Ir­­wandi juga didakwa meneri­­ma gratifikasi berupa hadiah de­­ngan jumlah seluruhnya Rp8,717 miliar.

Pemberian suap Rp1,05 miliar itu terkait dengan proyek-pro­­yek yang bersumber dari dana oto­­nomi khusus Aceh 2018 di Ka­­bupaten Bener Meriah.

Tim penyidik KPK menemukan catatan yang dibuat is­tri Dedi, Ramik Riswandi, saat peng­geledahan terkait dengan sejumlah paket pekerjaan yang dilakukan Dedi.

“Itu pekerjaan di kabupaten, ada yang berkaitan dengan pro­­yek seperti pembelian alat Rp1,5 miliar berupa truk dan ekskavator dari Pak Indra, dengan Pak Jufri pinjaman sudah dikembalikan. Lalu dengan Bu Linda itu paket pengerjaan mereka yang punya. Mereka menang tender, saya beri kompensasi itu,” ungkap Dedi.

Commitment fee
Catatan-catatan tersebut juga memuat kata ‘kewajiban’ di depan sejumlah nominal angka.

“Di catatan bahasanya kewajib­an maksudnya apa?” tanya jaksa penuntut umum KPK, Ali Fikri. “Kewajiban artinya commitment fee,” kata Dedi.

Komitmen untuk Nasir Djamil, menurut dia, diberikan melalui Rizal. “Rizal itu asisten Pak Nasir Djamil, Rizal orang dekat Pak Nasir.”

Nasir Djamil ialah anggota DPR dari daerah pemilihan Aceh. “Uangnya Rp1 miliar dise­rahkan ke Rizal. Rizal ini orang dekatnya Pak Nasir Djamil,” tam­­bah Dedi.

Media Indonesia mencoba meminta konfirmasi Nasir perihal pengakuan Dedi itu, tetapi yang bersangkutan tidak bisa dihubungi. Konfirmasi melalui Whatsapp juga tak dibalas.

Pada sidang kemarin, Dedi mengakui untuk mendapatkan proyek dana otonomi khusus Aceh 2018, dia me­ngeluarkan Rp1 miliar yang diserahkan kepada orang dekat ­Irwandi, Teuku Saiful Bahri. “Sai­­ful awalnya minta Rp500 ju­­ta. Katanya terserah mau bantu be­­rapa, la­­lu saya katakan akan berikan Rp500 juta, tapi dia bi­lang kurang, jadi akhirnya saya ­bantu Rp1 miliar.”

Dalam berita acara pemerik­­saan (BAP) nomor 9 yang dibacakan jaksa penuntut umum, Dedi mengaku bahwa Saiful me­­nawarkan proyek di dinas pe­­kerjaan umum. Saiful, tutur­nya, mengatakan kalau berminat dengan pekerjaan di dinas pekerjaan umum, dia bisa bantu mengurus. Namun, Saiful men­­syaratkan harus ada dana partisipasi karena menyambut Lebaran dan kepentingan Irwan­­di Yusuf untuk Lebaran.

“Saya katakan ‘Oke saya ikut’. Pak Saiful mengatakan Rp1 mi­­liar, lalu karena saya mau um­­rah, cek saya titipkan ke staf ke­­uangan saya Hasrudin. Pem­be­­rian saya lakukan agar saya dapat 7 proyek pekerjaan, tapi sa­­ya hanya mendapat 2 paket pe­­kerjaan,” kata jaksa KPK Ali Fikri membacakan BAP Dedi. (Ant/X-8)

BERITA TERKAIT