Saat Rezim Intervensi Industri Film dan Televisi


Penulis: Denny Parsaulian Sinaga/I-2 - 12 February 2019, 03:00 WIB
MATTHEW KNIGHT / AFP
 MATTHEW KNIGHT / AFP

INDUSTRI film dan televisi di ‘Negeri Tirai Bambu’ sedang terhuyung-huyung oleh apa yang disebut kalangan industri sebagai akibat musim dingin yang sangat dingin.

Maksudnya, kondisi itu terjadi karena pengawasan pemerintah yang kian tajam dan kini mengarah pada instruksi yang mewajibkan konten yang lebih ramah terhadap Partai Komunis.

Memang, sektor hiburan telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir melalui dorongan pemerintah yang juga ingin turut serta mengembangkan industri film sebagai aset soft power berskala global.

Tetapi, dorongan yang digelar secara nasional untuk menampilkan lebih banyak materi yang disetujui Partai Komunis di media, musik, dan hiburan itu telah dikombinasikan dengan pengekangan terhadap kenaikan gaji para bintang layar.

“(Sudah) musim dingin, musim dingin yang sangat pahit,” kata Yu Zheng, penulis skenario dan produser seri Story of Yanxi Palace yang sangat populer.

Drama berseri dengan latar di tengah intrik pengadilan Dinasti Qing itu, menarik 18 miliar penonton pada platform China iQIYI. Drama ini merupakan acara TV paling dicari di dunia tahun lalu karena populer di kalangan diaspora Tiongkok.

Program tersebut, sejak rampung, difilmkan di Hengdian World Studios di provinsi timur, Zhejiang. Provinsi itu dianggap sebagai ‘Hollywood -nya Tiongkok’. Kompleks studio yang luas memiliki sekitar selusin set film termasuk versi palsu Kota Terlarang Beijing dan tepi sungai Bund Shanghai.

Seperti dilaporkan surat kabar Cina Economic Observer pada 2017, sekitar 70% film-film Tiongkok dan acara televisi melakukan syuting di sana.

Namun, ketua studio Sang Xiaoqing dalam sebuah wawancara dengan AFP mengungkapkan, Hengdian kini tengah bersiap untuk mengalami pelambatan. Hal itu terutama setelah otoritas pajak pada akhir tahun lalu menargetkan aktris Kelas A Fan Bingbing.

Bingbing diduga menghindari pajak dan bintang-bintang besar dituding dibayar terlalu tinggi. “Dilihat dari situasi saat ini, (industri hiburan) akan pulih lambat pada 2019 ini,” kata Sang. “Beberapa kru telah menunda rencana syuting mereka dan bahkan ada yang sudah dibatalkan.
Bisnis perusahaan film dan televisi juga  sangat dipengaruhi reformasi pajak yang diperkuat.”
Meski menghadapi kendala tersebut, Sang mengatakan berharap melihat pergeseran ke lebih banyak film atau program TV yang fokus pada revolusi yang membawa Komunis berkuasa pada 1949, terutama karena Oktober ini akan menandai peringatan ke-70 acara tersebut.

“Pengawasan (pemerintah) telah lebih ketat dari tahun ke tahun sejak 2016. Itu sudah cukup keras tahun lalu dan mungkin bahkan lebih ketat tahun ini,” kata Krypt Chen, seorang analis media yang berbasis di Shanghai.

Sebagai informasi, industri film Tiongok memperoleh rekor hampir 61 miliar yuan (US$9,1 miliar) dalam pendapatan box office tahun lalu. Jumlah tersebut naik 9% ketimbang 2017.

Kemajuan itu dilaporkan Kantor Berita Xinhua. Disebutkan, meski pertumbuhan melambat dari tahun sebelumnya, industri film tetap moncer. Sementara itu, dari sisi pendapatan, radio dan TV membukukan kenaikan sebesar 20% pada 2017. (Denny Parsaulian Sinaga/I-2)

BERITA TERKAIT