Masyarakat Indonesia Mulai Bergeser Ke Layanan Finansial Digital


Penulis: Fetry Wuryasti - 11 February 2019, 22:04 WIB
ANTARA FOTO/Audy Alwi
ANTARA FOTO/Audy Alwi

MASYARAKAT Indonesia kini mulai akrab dengan layanan keuangan digital dan mulai beralih ke arah digitalisasi sebagai solusi keuangan sehatri-hari.

Hal itu terungkap dari studi McKinsey Indonesia yang menunjukkan nasabah perbankan Indonesia mulai memindahkan 50% saldo rekeningnya ke layanan digital.

Partner McKinsey Indonesia Guillaurme de Gantes mengatakan, meski peredaran uang tunai di Indonesia masih sangat tinggi, penduduk Indonesia mulai menggunakan uang berbasis teknologi walau pertumbuhan kartu kredit dan debut tetap terjadi.

Dua pemimpin pasar layanan keuangan digital itu menurut Gantes berada pada platform teknologi finansial (fintech) pembayaran, OVO dan GoPay.

"Ada dua solusi pembayaran yang muncul seperti Ovo dan GoPay. Jika mereka terus memimpin (pasar uang elektronik) maka akan mempermudah penyebaran layanan di wilayah lain," ujar Gantes di kantor McKinsey, Senin (11/2).

Kedua layanan fintech pembayaran itu tumbuh karena masifnya penggunaan platform tersebut di Pulau Jawa. Hal itu sejalan dengan pertumbuhan telepon pintar (smartphone) yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan rekening perbankan.

Meski demikian, secara total, layanan keuangan digital non-bank di Indonesia saat ini baru mencapai 5%, kalah jauh dibanding Tiongkok yang sudah mencapai 60%.

Baca juga : Fintech Dorong Inklusi Keuangan di Indonesia

Di sisi lain, lanjut Gantes, hal itu juga membuka peluang olaborasi perbankan dengan fintech meski persaingan antar keduanya pun tetap terjadi dalam menggaet nasabah.

Gantes mengungkapkan, transformasi layanan keuangan di Indonesia nantinya akan mengadopsi sistem yang berkembang di Amerika Serikat dan Tiongkok.

""Jadi masyarakat akan tetap menggunakan bank dan layanan keuangan non bank. Uang tunai juga masih akan digunakan. Meskipun secara signifikan akan beralih ke non tunai seperti di India," ujarnya.

Penetrasi layanan keuangan non bank di setiap negara bisa berbeda karena tiga faktor. Pertama, tergantung pada seberapa dalam penetrasi digital. Di Indonesia, pengguna ponsel pintar (smartphone) mencapai 124 juta dan pengguna internetnya 133 juta pada 2017.

Kedua, seberapa besar ketergantungan masyarakatnya terhadap uang tunai. Ketiga, proporsi produk digital yang tersedia.

Sementara itu, Ketua Harian Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) Mercy Simorangkir mengatakan, bahwa infrastruktur seperti Palapa Ring semestinya akan membantu penetrasi layanan keuangan non bank lebih cepat lagi di Indonesia.

"Saya yakin pemerintah bekerja sama untuk membangun ekosistem di industri ini," kata Mercy. (OL-8)

BERITA TERKAIT