Indonesia Alami Penetrasi Terpesat dalam Teknologi Keuangan


Penulis: Fetry Wuryasti - 11 February 2019, 17:43 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

LEMBAGA survei McKinsey menerbitkan laporan seberapa jauh Indonesia telah diserap dengan teknologi keuangan digital dibandingkan dengan beberapa negara emerging di Asia lainnya, kecuali Tiongkok. Personal Financial Services (PFS) Survey 2017 ini dilakukan terhadap 15 negara termasuk Indonesia, dan mensurvey 900 korespondensi di Indonesia. Sementara untuk total , perusahaan ini mensurvei pada 17 ribu orang.

Partner Indonesia, McKinsey & Company , Guillaume de Gantès mengatakan keuangan digital telah mentransformasi ekonomi Indonesia. Indonesia negara ketiga yang memiliki dampak investasi terbesar dalam fintech di Asia setelah Tiongkok dan India.

Empat besar kesimpulan dari survey ini, kata Guillaume de Gantès, Indonesia menunjukkan negara dengan digitalisasi tercepat di dunia. Perkembangan digitalisasi lainnya, dibandingkan dengan Brasil dan Tiongkok , dalam tiga tahun terakhir khususnya dalam layanan keuangan.

Secara keseluruhan, penetrasi digitalisasi keuangan Indonesia telah majubdari 36% pada tahun 2014 menjadi 58% di tahun 2017 atau meningkat 1,6x. Pergeseran kemajuan ini,melebihi dari penetrasi digitalisasi di negara Asia maju dari 94% pada 2014 menjadi 97% di 2017 (+1,1x) dan dari negara emerging Asia yang tumbuh digitalisasinya dari 34% menjadi 52% (+1,5×).

"Kedua, cara masyarakat mengkonsumsi digital telah sangst berubah. Dahulu memang masih berfokus pada ekspansi geografi. Namun setelah Indonesia sendiri menambah kapasitas internetnya, sekarang fokusnya menjadi seberapa dalam sebuah keuangan digital mampu memberi manfaat di kehidupan konsumennya. Sehingga mereka tidak perlu menggunakan berbagai produk dari banyak bank," ujar Guillaume de Gantès dalam bincang Media dengan tema Membangun Kolaborasi antara Bank dan Fintech, di kantornya , Jakarta , Senin (11/2).

Ke tiga, konsumen digital adalah konsumen yang terbaik di Indonesia. Mereka lebih loyal, tidak terlalu sensitif terhadap harga . Yang terpenting bagi karakter konsumer ini adalah kemudahan dan kenyamanan. Ini menjadi segmen menarik di Indonesia untuk menghasilkan profit.

Ke empat, dia akui masyarakat Indonesia masih sanvat berbasis perbankan. Dibandingkan dengan Tiongkok yang 67% konsumennya sudah terbiasa tanpa bank dan memakai fintech non oerbankan sebavai solusi keuangannya, sebut saja Alibaba dan We Chat. Keunggulan ini karena mereka membangun semua sistemnya secara nasional.

Sedangkan Indonesia, kelompok masyarakat yang mengadopsi fintech non bank dalam basis kehidupan hanya 5% atau di bawah Myanmar (6%), Thailand (10%), Malaysia (15%), Vietnam (16%) , Australia (17%) dan Philipina (23%).

"Kami pikir habit Indonesia ke depan akan berubah. Sebab mensurvey mengenai penetrasi ponsel pintar di Indonesia. Pasar penetrasinya menjadi tiga besar target market di Asia Pasifik, dimana 51% populasi Indonesia pengguna aktif internet dan 41% konsumer sudah mulai melakukan pembelanjaan via online dan pembayaran dengan digital banking," jelas Guillaume de Gantès.

Indonesia ke depan akan semakin berkolaborasi antara fintech dan perbankan, dengan providers, dan menghasilkan solusi campuran antara fintech dan bank.

"Perjalanannya memang masih panjang. Tetapi keuangan digitsl di Indonesia menjadi segmen paling atraktif dan kita menghadapi reality terbaru untuk memenuhi layanan dari segmen digital ini," jelas Guillaume de Gantès. (OL-4)

BERITA TERKAIT