Confucius dan Keguruan


Penulis: Khairil Azhar Divisi Pelatihan Pendidikan Yayasan Sukma - 11 February 2019, 02:40 WIB
Dok. pribadi
Dok. pribadi

CONFUCIUS (551-479 SM) ialah guru, budayawan, filsuf, ahli politik, dan pemikir Tiongkok yang abadi. Sebagai guru, salah satu ungkapan Confucius terkait dengan proses belajar-mengajar ialah ‘i hear i forget, i see i remember, i do i understand’.

Menggunakan aforisme ini sebagai parameter, kita bisa melihat betapa proses pembelajaran di RI belumlah menggembirakan. Dengan rata-rata panjang waktu mengikuti pendidikan dasar dan menengah ialah 12 tahun, proses belajar-mengajar pada umumnya ialah i hear i forget. Dalam pendidikan usia dini yang tak semua sekolah taman kanak-kanak menjadi ‘taman’ dalam arti yang sebenarnya, bencana auditoris ini sebenarnya telah dimulai lebih dini.

Melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, praktik pembelajaran hakikinya juga tidak banyak berubah. Selama 3-5 tahun pendidikan, dalam ukuran waktu yang dipandang normal, mahasiswa ialah objek yang terus-menerus dipaksa mendengar. Para dosen seperti berasumsi, dengan cara seperti itu para mahasiswa bisa tumbuh dan berkembang.

Alhasil, setelah 15-20 tahun belajar bahasa Inggris, sebagai contoh, tak bisa kita berharap banyak seorang sarjana di Indonesia bisa bercakap-cakap dengan lancar, apalagi mampu menulis dengan baik dan benar. Bahkan, sarjana atau sebagian profesor bahasa Inggris di berbagai perguruan tinggi juga demikian.

Bisa dibuktikan langsung bahwa hal yang kurang lebih sama juga terjadi dalam bidang-bidang lain. Sarjana pertanian belum tentu bisa bertani, sarjana peternakan tak mampu mengurus peternakan, atau sarjana ekonomi yang tak mampu menghidupi diri sendiri.

Dalam bidang pendidikan dan keguruan, sudah bukan rahasia kalau kebanyakan guru di RI tidak memiliki kapasitas memadai. Demikian juga di perguruan tinggi keguruan, dosen-dosen, dan profesor lebih sebagai teoretis, penceramah pendidikan, dan tentu saja bagian dari pelaku birokratisasi pendidikan.

Jika becermin pada aforisme Confucius, kita bisa menyatakan, kegagalan-kegagalan pendidikan itu akibat fasilitasi yang tak memadai. Dalam hal ini, pendidikan kita gagal untuk sampai pada fasilitasi pembelajaran i see i remember dan apalagi i do i understand.

Secara sederhana, i see i remember ialah fasilitasi pembelajaran secara visual. Dalam hal ini, murid mendapat kesempatan melihat dan memperhatikan objek, gambar, peraga, media tayang elektronik, dan lain-lain. Namun, jika sebatas terpapar, kata Confucius, murid akan ingat, tetapi belum tentu mengerti. Oleh karena itu, pembelajaran mestilah sampai tahap melakukan atau berbuat, ‘I do I understand’.

Dengan melakukan, pemahaman tidak lagi sebatas dugaan kognitif yang belum terbukti atau teruji, yang berbentuk hipotesis atau konsepsi imajiner. Pemahaman karena melakukan akan berbuah pengetahuan yang lebih utuh dan bermanfaat.

Terkait dengan perkembangan psikis murid, pengetahuan yang terlahir dari pengalaman atau tindakan mendo­rong berkembangnya apa yang disebut Albert Bandura (1994) sebagai self-efficacy. Ini ialah keyakinan mantap akan diri sendiri sebagai subjek yang mampu berbuat atau bertindak mandiri.
          

Delusi pendidikan

Salah satu penyebab kegagalan fasilitasi pendidikan, yakni untuk mencapai tahap ketiga dalam aforisme Confucius, ialah adanya berbagai delusi dalam dunia pendidikan kita. Ini ialah situasi dan kondisi ketika akal sehat, logika atau nalar bercampur baur dengan mitos-mitos, tafsir-tafsir ajaran agama, gagasan-gagasan klise, dan indoktrinasi dalam berbagai bentuknya.

Di tingkat kebijakan, delusi pendidikan mewujud beragam standar pendidikan, angka prestasi murid, jumlah lulusan sekolah atau perguruan tinggi, jumlah sarjana, anggaran dan infrastuktur fisik pendidikan, dst.

Di tengah masyarakat, delusi itu mengambil bentuk dalam berbagai pandangan tentang adanya sekolah favorit, sekolah unggulan, pendidikan agamis, pendidikan berkarak­ter, dsb.

Sepintas lalu, gagasan itu terlihat baik dan benar. Konsep-konsep yang tampak mentereng ini terasa sesuai dengan hati dan akal sehat. Selama bertahun-tahun semua gagasan itu menjadi buah bibir dalam rapat-rapat dan seminar atau ditulis dalam berita dan visi-misi jutaan sekolah.

Namun, di situlah letak delusinya. Konsep-konsep yang baik menjadi delusif karena berhenti pada cita-cita, harapan, kerja tanpa kompas, dan doa-doa tak terjawab. Konsep-konsep itu pada akhirnya mengeras, sekadar menghibur masyarakat, dan menjadi alat hegemonik kekuasaan.

Di sisi lain, konsep-konsep yang salah secara keguruan, psikologis atau filosofis terlihat atau terasa benar karena ia terus-menerus menggarami wacana publik. Akal sehat, logika, atau nalar individu kemudian menjadi tumpul dan gagal mengkritisi. Apalagi, dalam masyarakat atau dunia pendidikan yang ‘malas membaca’, mitis dan miskin tradisi akademis, konsep-konsep tersebut menjadi sel-sel kanker yang menghancurkan pendidikan dari dalam.

Di tingkat sekolah, guru-guru pada umumnya juga mengalami delusi sendiri. Dalam bingkai ketundukan pada pembuat kebijakan dan opini masyarakat, mereka seperti menjalankan pendidikan ‘tangan Tuhan.’

Artinya, ketika kewajiban-kewajiban keguruan tercatat sebagai telah terpenuhi secara administratif, proses pendidikan atau pembelajaran dianggap berhasil atau selesai. Nasib murid-murid, selanjutnya, kalau tidak dianggap sebagai kesalahan sendiri kalau gagal dalam hidup, diserahkan pada kuasa Tuhan.

Dalam model ‘tangan Tuhan’ ini, tentu saja, proses pembelajaran yang sampai pada parameter ‘i do i understand’ tidak mendapat tempat berarti. Guru-guru sudah merasa cukup kalau murid-murid patuh, mengikuti peraturan, mendapat nilai yang cukup atau tinggi, dan dengan semua itu orangtua murid sudah senang.
          

Kapasitas bertindak

Keluar atau mengambil jarak dari delusi mensyaratkan adanya hasrat untuk bertindak berbeda. Akan tetapi, ini tidaklah cukup. Menggunakan konsep Confucius dan Bandura, perlu apa yang bisa disebut sebagai kemampuan bertindak.

Kemampuan bertindak, selanjutnya, terlahir dari proses belajar berbasis pengalaman, yakni pengalaman yang membuahkan kemantapan hati seseorang bahwa dia memang mampu melakukan. Dalam khazanah psikologi, orang yang memiliki kemampuan bertindak disebut sebagai memiliki agency. Itulah sebabnya kemudian orang yang mampu melakukan atau memotori gerakan perubahan disebut sebagai agent of change.

Sebagai agen utama perubahan, yakni untuk memfasilitasi pembelajaran yang bersandar konsep ‘i do i understand’, guru-guru wajib memiliki hasrat dan kapasitas untuk melakukan itu. Ketika mereka memiliki kemampuan itu, dengan sendirinya mereka memiliki self-efficacy, atau keyakinan dan kemantapan hati untuk memfasilitasi pembelajaran secara berbeda.

Di sinilah kemudian, guru-guru pembelajar menjadi berbeda dari mereka yang delusif, dan jika perubahan hendak dilakukan, pelatihan-pelatihan keguruan yang memberdayakan menjadi amat penting. Terutama karena jumlah guru-guru pembelajar biasanya sama sekali tak sebanding dengan mereka yang delusif.

BERITA TERKAIT