GARIN NUGROHO Atasi Hoaks dengan Norma Luhur


Penulis: Abdillah Muhammad Marzuqi - 10 February 2019, 09:20 WIB
MI/PANCA SYURKANI
MI/PANCA SYURKANI

Menurutnya, keberadaan hoaks seusia dengan tradisi lisan yang mengakar dalam budaya Indonesia. Kunci mengatasinya ialah dengan pengamalan norma-norma luhur yang juga bagian dari budaya bangsa kita.

SUTRADARA kondang Garin Nugroho, 57, mempunyai pendapat tersendiri tentang hoaks yang saat ini begitu meluas. Baginya, hoaks tidak bisa dilepaskan dari gosip. Gosip tidak dapat dipisahkan dari tradisi bangsa Indonesia.

"Sebetulnya, kita kan kurang dalam tradisi baca, kita lebih kuat di tradisi lisan. Nah, lisan itu kan mengandung gosip," ujar Garin saat ditemui di Balai Resital Kertanegara, Jakarta, Senin (4/2).

Menurut Garin, kemunculan hoaks tidak hanya terjadi di masa-masa sekarang, tetapi juga bisa dikaitkan dengan panjangnya akar budaya lisan di Indonesia. Oleh karena itu, publik seharusnya tidak terbawa larut dalam menyikapi hoaks. Publik harusnya tetap tenang dan tidak gampang terpancing.

"Hoaks itu sejarahnya tidak muncul baru saja, jadi enggak usah kaget-kaget," tambah pria yang punya nama asli Garin Nugroho Riyanto itu.

Pun demikian dengan menyebarnya hoaks jelang pemilu, tidak hanya terjadi pada pemilu sekarang. Garin menuturkan, pemilu pertama yang dilakukan bangsa Indonesia, yakni pada 1955, juga diterpa gelombang hoaks.

Pemilu 1955, lanjut Garin, merupakan pemilihan umum pertama di Indonesia. Pemilu itu bertujuan memilih anggota-anggota DPR dan Konstituante. Pemilu 1955 sering disebut sebagai pemilu Indonesia paling demokratis. Pemilu itu dilaksanakan saat keamanan negara masih kurang kondusif. Beberapa daerah masih dirundung kekacauan. Saat itu dampak dari hoaks yang muncul bahkan lebih besar.

"Jika kemarin muncul hoaks tentang surat suara yang sudah tercoblos, pada 1955, ada hoaks makanan beracun, pasukan asing datang, wujudnya setan. Hoaksnya lebih menyeramkan. Sampai satu hari menjelang pemilu, orang-orang enggak berani keluar rumah," tambahnya.

Norma luhur

Garin melanjutkan, meski keberadaan hoaks sudah seusia dengan perjalanan kebudayaan, bangsa Indonesia mempunyai cara tersendiri untuk mengatasinya. Hal itu karena Indonesia mempunyai norma luhur yang sudah ada sejak dahulu, yakni ajaran-ajaran kebaikan untuk hidup bersama dengan orang lain. Menurut Garin, itulah kunci untuk menangkal hoaks.

"Kita punya norma kan? Norma untuk hidup bersama, pesan-pesan yang baik. Jadi, pesan-pesan yang baik itu yang harus kita amalkan betul," pungkas Garin.

Pandangan Garin yang mengaitkan hoaks dengan budaya itu tidak lepas dari sosoknya yang akrab dengan budaya dan tradisi. Beberapa karyanya yang meledak di pasaran internasional juga terinspirasi dari tradisi-tradisi Tanah Air dan membungkusnya dengan nuansa kekinian.

Sebut saja, film Setan Jawa (2016) dan Kucumbu Tubuh Indahku (2018). Karya Garin sudah melanglang buana ke berbagai festival dalam dan luar negeri. Sepanjang 27 tahun berkarier, ia telah mengantongi 62 penghargaan dalam dan luar negeri. (H-2)

BERITA TERKAIT