Terorisme Keluarga di Jolo, Filipina


Penulis: Al Chaidar Program Studi Antropologi Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh - 06 February 2019, 01:15 WIB
MI/Duta
MI/Duta

LEDAKAN dua bom bunuh diri di Gereja Jol, Provinsi Sulu, Filipina selatan, pada 27 Januari 2019 telah mengguncang atmosfer keamanan di wilayah mayoritas muslim itu. Pelaku bom ganda bunuh diri ini ialah suami-istri dari Indonesia yang telah lama bergabung dengan kelompok Abu Sayyaf.

Kelompok Abu Sayyaf ialah korporasi jihad yang ditunjuk IS sebagai komando teritorial Asia Tenggara. Para pengikut fanatik IS di Indonesia pun berduyun-duyun berziarah ke Mindanao, wilayah operasi kelompok teroris Abu Sayyaf. Mereka ialah para tentara anonim yang tak dibayar. Mereka menolak perjanjian damai dan kerja sama dalam bentuk apa pun dengan pihak lawan yang dipersepsikan thogut (musuh).

Pekan lalu, referendum yang diikuti 2,8 juta orang menyepakati pembentukan Wilayah Otonomi Bangsamoro di wilayah Filipina selatan, daerah berpenduduk muslim terbesar di negara itu. Mayoritas pemilih menyetujui pembentukan itu, tetapi para pemilih di Provinsi Sulu yang mencakup Jolo, berbeda. Penduduk daerah itu menolak otonomi khusus itu.

Tujuan dari pasangan Indonesia ini ialah untuk memberi contoh dan memengaruhi teroris Filipina untuk melakukan pengeboman bunuh diri. Presiden Duterte mengatakan pembom bunuh diri suami-istri berada di balik pengeboman gereja dan ia mengecam serangan ini dan memerintahkan militer menghancurkan Abu Sayyaf dengan cara apa pun.

Doktrin baru
Filipina telah mengalami sejarah panjang pemberontakan muslim di Mindanao. Pemberontakan muslim ini mengalami titik balik sebagai sejarah teror sejak 1993. Namun, dari semua rangkaian serangan teror di wilayah selatan ini, tak pernah ada satu serangan pun yang bersifat bom bunuh diri, apalagi yang melibatkan sepasang suami-istri dari sebuah keluarga batih yang utuh. Serangan bom Jolo ini membuktikan adanya doktrin baru yang diimpor dari Indonesia.

Di Indonesia, bom bunuh diri sekeluarga muncul pertama kali 8 dan 9 Mei 2018 di Surabaya yang menerjang gereja-gereja dan kantor polisi. Dunia terperangah oleh aksi yang sulit diterima akal sehat ini. Para peneliti sulit menemukan landasan teoretis untuk memberi eksplanasi yang memadai atas adanya serangan teror yang justru mengorbankan keluarga batih para pelaku, setelah membunuh para jemaat sipil gereja yang dianggap sebagai musuh.

Doktrin takfiri yang dianut kaum agamawan berpaham Wahabi di Timur Tengah dianggap sebagai doktrin destruktif. Doktrin ini telah mempermalukan agama Islam yang penuh damai dan memberikan rahmat bagi sekalian alam. Ada pengembangan baru dari doktrin ini yang dianggap bersifat lokal dan diinisiasi para ulama kekerasan yang fatalis.

Ulama kekerasan ialah kaum intelektual agama yang bersifat organik. Intelektual organik ini, menurut Antonio Gramsci (1971) adalah kaum cendekiawan yang muncul dari kalangan mazhab eksklusif yang mengadopsi aliran pemikiran radikal, dan kemudian menerapkannya secara organik di dalam komunitasnya yang liminal dan tertutup.

Ulama organik inilah yang kemudian melakukan radikalisasi terhadap para jemaah yang merupakan pengikut setianya yang fanatik. Jemaah yang didoktrin sejak lama dengan menggunakan segala dalil dan rujukan kitab-kitab dari aliran tertentu yang sangat selektif. Ulama organik ini kemudian mencoba menjawab banyak pertanyaan yang dihadapi jemaahnya secara cepat, akurat, dan tuntas.

Ketika menghadapi masalah yang sulit diselesaikan di tingkat komunitas, isu-isu strategi perlawanan akhirnya dibawa ke ranah kekerasan untuk menyelesaikannya.

Pada tahap ini, ulama organik menjadi ulama kekerasan yang oleh Bruce Hoffman dikonsepkan sebagai intelektual kekerasan, yang dalam terminologi teoretis saya menyebutkan sebagai ulama kekerasan atau ulama organik kekerasan. Makna kekerasan di sini tidak saja sebagai radikal, tetapi juga sebagai teroris yang menghilangkan unsur kemanusiaan dalam setiap fatwa-fatwanya yang mematikan itu.

Hilangnya kemanusiaan ini ialah indikasi paling kasat mata ketika para ulama kekerasan ini mulai berbicara dengan nada tinggi, marah, penuh ketidakpercayaan, dan sarat dengan ancaman dan makian. Dengan hilangnya rasa kemunusiaan, ulama organik kekerasan ini kemudian menyodorkan solusi perlawanan yang paling fatal: bom bunuh diri sekeluarga.

Sejumlah dalil kemudian diinterpretasikan dalam suatu semiotika berdarah yang diklaim sudah sesuai dengan kehendak Tuhan. Para pelaku bom bunuh diri pun diminta tidak berjuang sendiri, tetapi turut mengajak istrinya agar tidak ditinggal di belakang yang ditakutkan akan dirayu para thogut (musuh setan). Tidak hanya cukup di situ, ulama organik kekerasan ini kemudian bahkan memerintahkan agar anak-anak suami-istri ini juga dibawa serta menjemput surga yang telah dijanjikan menurut keyakinan eskatologisnya.

Strategi baru
Tujuan dari pasangan Indonesia ini ialah untuk memberi contoh dan memengaruhi teroris Filipina untuk melakukan pengeboman bunuh diri. Dari sejarah kita belajar masa lalu bahwa orang Indonesia selalu menjadi faktor pencetus awal (Agung Pribadi, 2013) atas banyak peristiwa. Orang Indonesia yang terlibat dalam perjuangan Bangsamoro di Mindanao, Filipina selatan, malah memberikan solusi mematikan yang sulit diterima akal sehat. Ide fatalis ini tidak hanya diajukan sebagai saran, tetapi juga menawarkan dirinya untuk menjadi martir di dalam serangan itu.

Zamboanga, Davao, dan Cagayan de Oro merupakan sasaran ideal teroris. Pekan lalu, referendum yang diikuti 2,8 juta orang menyepakati pembentukan Bangsamoro Organic Law (BOL) di wilayah Filipina selatan, daerah berpenduduk muslim terbesar di negara tersebut yang juga mencakup wilayah Provinsi Sulu.

Mayoritas pemilih menyetujui pembentukan itu, tetapi para pemilih di Provinsi Sulu yang mencakup Jolo, berbeda. Penduduk daerah Jolo, Kepulauan Sulu, menolak otonomi khusus itu. Presiden Duterte mengatakan pembom bunuh diri suami-istri berada di balik pengeboman gereja dan ia mengecam serangan ini dan memerintahkan militer untuk menghancurkan Abu Sayyaf dengan cara apa pun. Kehadiran anonymous soldier dari Indonesia di Mindanao akan menciptakan kekacauan baru yang sulit diselesaikan.

 

 

BERITA TERKAIT