Seed Plan, Kaitkan Petani dan Cuaca


Penulis: Siswantini Suryandari - 03 February 2019, 02:20 WIB
MI/Duta
MI/Duta

RAHMAT Aziz Al Hakam, Diffa Dwi Desyawan, dan Riski Midi Wardana yang tergabung dalam tim Permanent Betadev tidak menyangka akan menjadi juara pertama dalam Hackathon 2019: Hackbdgweather yang digelar di Bandung, Jawa Barat, 22-24 Januari. Tiga mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Industri UPN Veteran Yogyakarta ini mengalahkan 14 tim tim yang lolos seleksi kedua.

Pada tahap pertama, ajang yang dijuri Chief Information Officer Indo CISC Budi Rahardjo ini meloloskan 38 tim. Selanjutnya disaring menjadi 15 tim.

Kompetisi ini mencari para pencipta aplikasi cuaca yang akan melengkapi informasi kebencanaan di Bandung. Aplikasi yang dibuat akan menggunakan data yang disediakan Kementerian Komunikasi dan Informasi maupun Dinas Kominfo Kota Bandung.

Diffa mengaku Permanent Betadev mengirimkan proposal beberapa jam sebelum ditutup pada 19 Januari. "Kalau proposal kami lolos, barulah membuat aplikasi terkait dengan lomba. Jadi, kami belum punya ide seperti apa aplikasi yang akan kami ajukan terkait cuaca," terangnya.

Ketiganya pun baru bertolak ke Bandung pada 22 Januari, setelah dinyatakan lolos seleksi. Mereka pun baru mendiskusikan aplikasi yang akan diajukan dalam perjalanan mereka menggunakan kereta.

"Kami diskusi keras akan menyajikan apa untuk Hackathon 2019: Hackbdgweather. Kami belum menemukan yang pas. Lalu, terpikir bagaimana kalau membuat aplikasi tentang pertanian," ujar Rahmat.

Mereka melihat cuaca dan pertanian sebagai perkara krusial. Banyak petani yang merugi atau produksi panen tidak maksimal karena cuaca yang tak menentu. Melalui aplikasi yang diberi nama Seed Plan itu, petani bisa mengetahui kapan bisa menanam, suhu berapa yang cocok agar panen bisa maksimal.

"Setiap tanaman itu mempunyai jadwal tanam. Setiap tanaman itu memiliki ciri khas masing-masing. Kami mengambil data yang sudah disediakan pemerintah dan diolah lagi. Misalnya, tanaman padi itu membutuhkan suhu dan lama tanam hingga panen, sudah diperhitungkan di aplikasi Seed Plan ini," kata Rahmat yang merupakan koordinator dari kelompok Permanent Betadev ini.

Tidak hanya itu, aplikasi ini menyediakan fitur jual-beli bibit tanaman. "Itu (fitur jual beli) yang kami tambahkan di dalam aplikasi dan kelembapan udara. Sebetulnya masih ada yang kurang, terutama keasaman tanah sebab belum ada data yang kami dapatkan dari penyelenggara lomba," tambah Riski.

Disempurnakan

Selama dua hari merancang aplikasi itu, ketiganya tidak ragu untuk bertukar pikiran tentang perkembangan teknologi saaat ini dengan tim lawan. Melalui diskusi itu mereka pun bisa mengubah sejumlah fitur yang dianggap tidak bermanfaat.

"Jadi, kami prioritaskan fitur-fitur yang mendukung pertanian," ujar Rahmat.
Keterbatasan waktu ini pun melahirkan sejumlah ide menarik lainnya, meski awalnya ide pertanian ini tidak disetujui dan dianggap kurang menarik.

"Kami tidak tertarik pada pertanian. Tapi karena temanya cuaca, pertanian sangat terkait dengan masalah cuaca. Akhirnya, kami sepakat mengangkat pertanian ini dalam aplikasi buatan kami, Seed Plan," ungkap Riski.

Mengingat aplikasi ini akan digunakan Pemerintah Kota Bandung, para peserta harus menandatangani kesepakatan. "Ya, kami tidak masalah. Malah senang, karena apa yang kami hasilkan itu bisa dipakai dan dikembangkan di sini," timpal Rahmat.

Meski begitu, aplikasi mereka masih akan disempurnakan lagi, seperti fitur penghitungan panen dan luas tanah. Fitur itu, lanjut Rahmat, berisikan penghitungan luas tanah yang akan ditanami dan berapa profit yang diperoleh petani.

"Itu yang sedang kami buat untuk melengkapi aplikasi Seed Plan ini. Misalnya, ada petani yang mempunyai 11 hektare tanah ditanami padi. Lalu, pada masa tanam memadukan dengan melihat iklim dan cuaca di Seed Plan, maka akan bisa kita hitung berapa keuntungan yang diperoleh petani," jelas Rahmat.

Beli sepatu

Ternyata Permanent Betadev dibentuk sesaat sebelum lomba. Kebetulan mereka satu jurusan dan saling mengenal. Riski mengaku Rahmat yang mengkoordinasi dan menawarkan kepada teman-teman apakah bersedia mengikuti lomba Hackathon 2019: Hackbdgweather.

"Dia mencari anak-anak yang senang programming dan gim. Saya dan Diffa dianggap cocok. Ini semua serbakebetulan. Termasuk juga saat menentukan ide yang akan dipaparkan di depan dewan juri, itu juga mepet. Memang aturan dalam perlombaan, aplikasi baru dibuat setelah lolos seleksi pertama. Berkah juga bagi kami, ide itu selalu datang di saat kepepet," ujarnya disambut tawa teman-temannya.

Aplikasi Seed Plan ini membuat Permanent Betadev mendapat hadiah uang Rp10 juta dan seperangkat alat pendeteksi cuaca. Aplikasinya pun akan dikembangkan tim developer dari Pemkot Bandung, yang nantinya dimasukkan ke dalam program Smart City Bandung. "Ya alhamdulillah, hadiah ini bisa untuk membeli sepatu," canda Riski. Dalam waktu dekat mereka akan mengikuti beberapa ajang lomba aplikasi di Jakarta. (M-3)

 

BERITA TERKAIT