Tukar 3 Kg Sampah dengan Satu Buku Bacaan


Penulis:  (Ferdinand/N-2) - 29 January 2019, 01:45 WIB
MI/Ferdinand
MI/Ferdinand

SENYUM mengembang di wajah Afin, 12. Dua buku bacaan baru ada digenggamannya. Siswi kelas VI SD Kr Widya Wacana, Jamsaren, Kota Surakarta, Jawa Tengah, baru saja menyetorkan koran bekas ke bank sampah sekolah, Sabtu (26/1).'

Pagi itu Afin membawa setumpuk koran bekas yang diikat menggunakan rafia. Ia datang ke sekolah diantar ayahnya dengan sepeda motor. Saat turun dari motor, Afin langsung menuju bank sampah Sekolah. Lokasinya berada di sisi kiri depan dari gerbang dalam sekolahnya. Di sana Afin disambut dua siswa yang bertugas sebagai juru timbang dan tukang catat. Koran bekas yang dibawa Afin memiliki bobot 7 kilogram (kg).

“Wah, berarti dapat dua buku ini,” kata Kepala Sekolah SD Kr Widya Wacana Jamsaren, Six Hastuti Ariasati, yang berada di lokasi sembari tersenyum.

Afin menerima imbalan dua buku bacaan dari bank sampah sekolah dengan riang gembira. Dia tidak mengira koran bekas yang selama ini dibiarkan begitu saja di ruang belakang rumahnya bisa ditukar dengan buku bacaan baru. “Senang sekali, bukunya bagus-bagus,” kata Afin.

Hari itu merupakan operasional perdana bank sampah sekolah tersebut. Antusiasme siswa terbilang luar biasa. Terbukti, walau baru dibuka selama kurang lebih dua jam, tercatat sudah ada 76 siswa yang bertransaksi.

Sampah yang mereka setor beragam. Mulai dari botol bekas air mineral, kardus, sampai koran bekas. Setoran dari para siswa itu disimpan di gudang dan ditangani petugas khusus bank sampah.

Berbeda dengan bank sampah lain yang memberikan imbalan dalam bentuk rupiah, Bank Sampah Sekolah SD Kr Widya Wacana Jamsaren memberikan imbalan berupa buku bacaan.

“Setiap 3 kg sampah akan ditukar dengan satu buku bacaan. Itulah mengapa kami menamai bank sampah ini Tiki Tuku, akronim dari tiga kilo satu buku,” jelas Hastuti.

Ide mendirikan Bank Sampah Sekolah Tiki Tuku berangkat dari keprihatinan semakin banyaknya sampah anorganik. Padahal, jenis sampah tersebut sangat sulit diuraikan secara alami. Harus didaur ulang atau dimanfaatkan untuk membuat kerajinan.

Di sisi lain, kehadiran gawai dengan teknologi yang kian canggih mulai menggerus minat baca anak-anak. Sekarang anak-anak lebih betah bermain gawai jika dibandingkan dengan membaca buku. Pembentukan bank sampah sekolah itu diharapkan bisa membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Anak-anak dilatih menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan, sekaligus menumbuhkan minat baca mereka. “Kami berharap ini dapat meningkatkan budaya literasi anak,” harap Hastuti.

Inisiatif ini mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kota Surakarta, dalam menjual sampah dan penyediaan buku. (Ferdinand/N-2)

 

BERITA TERKAIT