27 January 2019, 19:25 WIB

Melihat Benda Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad di Medan


Puji Santoso | Nusantara

ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/wsj
 ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi/wsj

TIDAK mudah membawa sejumlah barang-barang bernilai sejarah Islam yang usianya mencapai ribuan tahun itu ke Medan, Sumatra Utara.
Pihak panitia enggan memberikan secara teknis bagaimana benda bersejarah peninggalan Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat dapat sampai ke Medan. Sehingga akhirnya Medan menjadi daerah pertama sekali di Indonesia yang mampu menyelenggarakan Pameran Artefak Asli Rasulullah dan para Sahabat selama sebulan penuh.

"Dibutuhkan waktu setahun lamanya proses mendatangkan benda-benda bernilai tinggi ini ke Medan dari Arab hingga ke Malaysia. Semuanya itu asli adanya, bukan replika. Sudah diteliti oleh ahli sejarah dari Malaysia selama 30 tahun," ujar Hendra, salah seorang penggagas sekaligus penyelenggara kegiatan ini kepada Media Indonesia di sela-sela pameran di Gedung Pekan Raya Sumatra Utara, Jalan Jendral Gatot Subroto, Kota Medan, Minggu (27/1).

Pameran artefak asli Rasulullah dan para Sahabat Nabi ini memang baru pertama kali diadakan di Indonesia. Pameran ini terselenggara melalui kerja sama Perusahaan PT Penawar Legenda Maju (PLM) bersama Geri Warisan MAR Malaysia dan Dragon Heart SDN BHD Malaysia yang sudah mulai pada Senin (14/1) lalu hingga 12 Februari 2019 mendatang.

Hendra menjelaskan, ada sebanyak 40 item artefak Rasulullah SAW dan para Sahabat yang dibawa ke Medan. Misalnya, rambut, sepatu, bekas tapak kaki, darah bekam, tongkat, panah (busur), serban, tempat air minum zamzam, dan cemeti (cambuk) kuda yang semuanya milik Rasulullah SAW.

Sejumlah milik Sahabat Nabi, antara lain pedang Muaz Bin Jabal, pedang milik Amru bin Ash, pedang milik Usman Bin Affan, pedang milik Ali Bin Abi Thalib, Alquran emas milik Kesultanan Turki Ustmani, dan banyak lainnya.

Ada juga batu meteorit dari angkasa yang diyakini berusia 4.500 juta tahun, baju perang Armor Turki Usmani, pedang Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstatinopel, kunci makam Ashabul Kahfi, pedang perang Sayidina Husein, Kiswah Pintu Kabah, kiswah Makam Rasulullah SAW, ruangan dalam Kabah, kunci pintu Kabah. Selain itu ada jam matahari Mesir Kuno, kantong airm dan teko susu juga milik Rasulullah SAW.

Hendra mengatakan, berdasarkan hasil penelitian ahli sejarah Islam, sorban Nabi Muhammad ini hanya ada sembilan saja yang tersebar di dunia. Jadi tidak hanya di Turki saja.

"Kita sampaikan kepada masyarakat, barang-barang peninggalan Nabi ini tidak hanya ada di Tohkape di Turki saja. Suriah, Yordan, Yaman, dan negara-negara Arab lainnya. Sorban Nabi Muhammad yang kita pamerkan ini adalah satu dari sembilan yang terawat baik," ujarnya.

Para pengunjung terutama yang berada di kawasan Sumatra Utara dapat lebih leluasa dan lebih praktis melihat benda-benda peninggalan Nabi Muhammad daripada harus melihat benda-benda serupa yang berada di Museum Tohkape di Turki, maupun di Madinah, Arab Saudi.

Menurut Hendra, Kota Medan menjadi kota pertama kali di Indonesia yang beruntung menyelenggarakan pameran artefak asli peninggalan Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat Nabi.

"Kami sengaja menyelenggarakan pameran ini sebulan lamanya. Karena pameran ini tidak hanya mengandung unsur keimanan kepada Rasulullah semata, akan tetapi juga mengandung unsur pendidikan bagi generasi muda dalam memaknai sejarah peradaban Islam di jazirah Arab," ujar Hendra.

Benda-benda ini dapat menjadikan kita berfikir positif. Dapat menumbuhkan kecintaan, keimanan, dan mengedukasi anak-anak. Apa yang
tertulis di sini tidak diajarkan sekolah-sekolah. Ini semua ditujukan bagi anak-anak generasi muda yang sekarang dan akan datang.

Namun, sayangnya lokasi tempat diadakan penyelenggaraan ini tidak cukup dibilang representatif. Lokasi Pekan Raya Sumatra Utara (PRSU) yang dipilih untuk tempat pameran terbilang jorok dan tidak terawat. Pihak panitia terpaksa membeli dan memasang sejumlah AC dan berbagai infrastruktur lainnya untuk menempatkan benda-benda pusaka mulia milik Nabi Muhammad ini.

"Tempat ini tidak standar untuk menempatkan benda-benda pusaka mulia milik Nabi. Mestinya harus bersih, alat pendingin cukup, dan nyaman bagi pengunjung," ujar Hendra.

Elfrida Juliawati, 39, salah seorang pengunjung dari Tanjung Morawa, Deli Serdang, mengaku terkesima setelah melihat pameran ini.

"Begitu melihat bekas tapak kaki dan sepatu Nabi Muhammad serta sorban Beliau, tangis saya langsung tumpah. Kecintaan saya kepada Beliau tak dapat diucapkan dengan kata-kata," ujar Elfrida di lokasi pameran.

Elfrida mengaku pameran ini mengandung unsur pendidikan bagi generasi muda, terutama mengetahui peradaban sejarah Islam sejak ribuan tahun lalu, dan juga juga mampu memupuk kecintaan terhadap Nabi Muhammad dan para Sahabat Nabi lainnya.

"Saya akan kembali ke mari lagi bersama sekeluarga," ujarnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT