Tiga Kilo Sampah, Satu Buku Bacaan 


Penulis: Ferdinand - 26 January 2019, 16:00 WIB
MI/Ferdinand
 MI/Ferdinand
Kepala Sekolah SD Kr. Widya Wacana Jamsaren, Kota Surakarta, Jawa Tengah, Six Hastuti Ariasati menyerahkan buku bacaan kepada siswa yang menyetorkan sampah di bank sampah sekolah tersebut, Sabtu (26/1/2019).

SENYUM gembira mengembang di wajah Afin,12. Dua buku bacaan baru tergenggam erat di tangannya. Siswa kelas VI Sekolah Dasar Kr. Widya Wacana, Jamsaren, Kota Surakarta, Jawa Tengah, itu baru saja menyetorkan koran bekas di Bank Sampah Sekolah, Sabtu (26/1). 

Pagi itu Afin membawa setumpuk koran bekas yang diikat menggunakan rafia. Dia datang ke sekolah diantar oleh ayahnya menggunakan sepeda motor. 

Begitu turun dari motor, Afin langsung menuju Bank Sampah Sekolah. Lokasinya berada di sisi kiri depan dari gerbang dalam sekolahannya. Di sana, Afin disambut oleh dua siswa yang bertugas sebagai juru timbang dan tukang catat. Koran bekas yang dibawa Afin ternyata memiliki bobot 7 kilogram. 

"Wah, berarti dapat dua buku ini," kata Kepala Sekolah SD Kr. Widya Wacana Jamsaren, Six Hastuti Ariasati yang berada di lokasi sembari tersenyum. 

Afin pun menerima imbalan dua buku bacaan dari Bank Sampah Sekolah dengan riang gembira. Dia tidak mengira koran bekas yang selama ini dibiarkan begitu saja di ruang belakang rumahnya bisa ditukar dengan buku bacaan baru. 

"Senang sekali, bukunya bagus-bagus," katanya siswa yang mengaku suka membaca itu. 

Hari itu merupakan operasional perdana Bank Sampah Sekolah tersebut. Antusiasme siswa terbilang luar biasa. Terbukti, walau baru dibuka selama kurang lebih dua jam, tercatat sudah ada 76 siswa yang bertransaksi. 

 

Baca juga: Kelurahan Pulo Luncurkan Bank Sampah Kampung Benda

 

Sampah yang mereka setor beragam. Mulai dari botol bekas air mineral, kardus, sampai koran bekas. Setoran dari para siswa itu disimpan di gudang dan ditangani oleh petugas khusus Bank Sampah. 

Berbeda dengan bank sampah lain yang memberikan imbalan dalam bentuk rupiah, Bank Sampah Sekolah SD Kr. Widya Wacana Jamsaren memberikan imbalan berupa buku bacaan. 

"Setiap tiga kilo sampah, akan ditukar dengan satu buku bacaan. Itulah mengapa kami namakan bank sampah ini Tiki Tuku, akronim dari tiga kilo satu buku," jelas Hastuti. 

Ide mendirikan Bank Sampah Sekolah Tiki Tuku berangkat dari keprihatinan atas semakin banyaknya sampah anorganik. Padahal, jenis sampah tersebut sangat sulit diuraikan secara alami. Harus didaur ulang atau dimanfaatkan untuk membuat kerajinan. 

Di sisi lain, kehadiran gawai dengan teknologi yang kian canggih mulai menggerus minat baca anak-anak. Sekarang anak-anak lebih betah berlama-lama bermain gawai dibandingkan dengan membaca buku. 

Ibarat sekali dayung dua pulau terlampaui, pembentukan Bank Sampah Sekolah itu diharapkan bisa membantu menyelesaikan dua persoalan tersebut. Anak-anak dilatih menjaga dan memelihara kebersihan lingkungan, sekaligus menumbuhkan minat baca mereka. 

"Kami berharap ini dapat meningkatkan budaya literasi anak," kata Hastuti. 

Dia gembira, inisiatif ini mendapatkan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kota Surakarta. DLH membantu mencarikan tempat penjualan sampah yang uangnya akan digunakan untuk membeli buku, dan Arpusda memberikan suport dalam bentuk bantuan buku bacaan. (OL-3)

BERITA TERKAIT