19 January 2019, 03:20 WIB

Penanganan Stunting Diperluas


Iqbal Al Machmudi | Humaniora

Ilustrasi
 Ilustrasi

WILAYAH prioritas penanganan stunting yang awalnya menyasar 100 kabupaten/kota, pada 2019 ditambah menjadi 160 kabupaten/kota. Penanganan dilakukan dengan perbaikan gizi melalui intervensi gizi spesifik.

Sebanyak 160 daerah yang menjadi prioritas penanganan merupakan daerah dengan kasus stunting tertinggi. Adapun penanganan stunting di daerah lain akan dilakukan secara bertahap.

Pada 2020 diharapkan telah menyasar 390 kabupaten/kota dan pada 2021 ditargetkan menyasar 514 kabupaten/kota.   

“Di setiap daerah sebenarnya ada stunting. Tetapi, pemerintah memberi perhatian lebih kepada daerah-daerah yang memiliki angka stunting tertinggi,” kata Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Kirana Pritasari di Jakarta, kemarin.

Dalam penanggulangan stunting Kemenkes berharap semua sektor dapat terlibat, terutama peran pemerintah daerah (pemda) dalam mendorong posyandu agar dapat memberikan panduan mengenai gizi seimbang kepada masyarakat.

Menurut Kirana, perbaikan gizi melalui intervensi gizi spesifik yang dilakukan sektor kesehatan tidak akan mencapai hasil maksimal tanpa ada intervensi sensitif dari sektor ­nonkesehatan.

Di antaranya, peningkatan produksi pertanian untuk mendukung ketahanan pangan dan gizi di rumah tangga, juga perlindungan sosial untuk pengentasan masyarakat dari kemiskin-an melalui program keluarga harapan. Selain itu, program nasional pemberdayaan masyarakat, persediaan air bersih dan sanitasi, serta program pemberdayaan perempuan.

Program penanganan stunting tersebut akan dilakukan secara bertahap.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, angka stunting tercatat sebesar 30,8%. Hal tersebut menunjukkan masalah stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena masih di atas ambang batas 20%.

Perbaikan gizi, khususnya untuk penurunan stunting, menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan kesehatan. Perbaikan gizi harus dilakukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu dimulai dari masa kehamilan sampai dengan anak berusia dua tahun.

“Pemerintah dengan segala upaya terus mencegah stunting. Stunting menjadi fokus Kementerian Kesehatan dalam 1.000 hari pertama kelahiran, dengan adanya Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Pola Hidup Sehat,” tutur Kirana.


Kelebihan gizi

Selain berupaya menurunkan angka stunting, Kementerian Kesehatan juga berupaya memperhatikan bayi yang gemuk, anemia pada ibu hamil, dan anemia pada remaja.
Kirana mengungkapkan, lebih dari separuh balita atau 55,7% mengalami kekurangan asupan gizi.  Di sisi lain, terdapat 6,8% balita yang asupan gizinya berlebih, yang sangat mungkin akan mengalami masalah gizi di kemudian hari.

Di samping itu, terdapat pula 34,4% balita yang kurang asupan protein, serta 54% balita yang asupan proteinnya lebih dari cukup. “Indonesia sedang menghadapi dua masalah yang harus diselesaikan dalam waktu bersamaan, yaitu masalah kurang gizi dan gizi berlebih. Peran keluarga sangat penting untuk menanganinya saat ini,” kata Ketua Persatuan Gizi Indonesia Minarto. (Ant/H-1)

 

BERITA TERKAIT