Yusril: Pembebasan Ba'asyir Bukan untuk Kepentingan Politik


Penulis: Dede Susianti - 18 January 2019, 19:25 WIB
ANTARA
 ANTARA

PENASEHAT hukum pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Yusril Ihza Mahendra membantah pembebasan Abu Bakar Ba'asyir, dilakukan demi menaikkan elektabilitas paslon nomor urut 01.

Penilaian tersebut, menurut Yusril yang ditugaskan Presiden Jokowi untuk menyampaikan perihal pembebasan itu langsung ke Ba'asyir, hanya bagi pengamat saja.

"Kita sih tidak berpikir ke situ. Itu sih para pengamat. Kalau saya diberikan tugas oleh Presiden, saya jalankan, saya amati, saya kumpulkan semua berkas, saya laporkan lagi kepada Presiden. Saya meyakinkan Presiden, bahwa saatnya ustad Ba'asyir dibebaskan dan beliau (Presiden) setuju," jelas Yusril, Jumat (18/1).

Yusril menyebut bahwa sebenarnya, tentang pembebasan sudah sejak bulan Desember lalu. Tapi memang tidak berhasil karena ada beberapa kendala.

"Jadi kendalanya memang, berbagai peraturan ada syarat-syarat untuk dibebaskan. Tapi Pak Jokowi mengatakan, sudah jangan ada syarat-syarat yang memberatkan beliau. Pertimbangan saya, kata Pak Jokowi, pertimbangan kemanusiaan. Karena beliau sudah lanjut usianya, sudah ujur dan kemudian kesehatan sudah jauh menurun. Makanya berdasarkan kemanusian, beliau dibebaskan," tuturnya.

Sebelumnya diketahui, atas kasus terorisme, Abu Bakar Ba'asyir dihukum 15 tahun penjara. Hingga saat ini dia sudah menjalani hukumannya selama 9 tahun atau 2/3 masa hukuman.

Untuk menyampaikan pembebasan itu, Yusril mendatangi langsung Abu Bakar Ba'asyir yang ditahan di Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Gunung Sindur, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

Yusril tiba di Lapas Gunung Sindur sekitar pukul 09.30 wib. Pertemuan dengan Ba'asyir selesai sekitar pukul 13.30 wib. Hadir Lapas Gunubg Sindur keluarga Ba'asyir yakni anak bungsunya Abdul Rohim. (OL-4)

BERITA TERKAIT