Larutan Senja dan Nayla Akan Tampil di London Book Fair 2019


Penulis: Fathurrozak - 18 January 2019, 09:05 WIB
MI/Retno Hemawati
MI/Retno Hemawati
PADA Frankfurt Book Fair (FBF) tahun 201, Indonesia telah menorehkan prestasi menjadi tamu kehormatan. Kini kabar gembira hadir lagi setelah dua buku fiksi karya anak bangsa akan tampil di London Book Fair Maret nanti.
 
Kedua buku itu adalah Larutan Senja milik Ratih Kumala yang telah diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Potion of Twilight; dan Nayla karya Djenar Maesa Ayu. Dalam diskusi Women in Translation, di kawasan Jakarta Selatan, Kamis, (17/1), Ratih dan Djenar berbagi kebanggaan sekaligus proses penerbitan karya mereka ke dalam bahasa Asing.
 
Dalam proses penerbitan karya sastra ke dalam bahasa asing, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan, di antaranya ialah chemistry antara penulis karya dan penerjemah. Sebab, penulisan karya sastra sangat erat kaitannya dengan rasa, emosi, dan pemilihan diksi.
 
Ratih mengaku sempat didekati dua penerjemah untuk Larutan Senja. Ia tidak langsung mengiyakan, melainkan mencari tahu terlebih dahulu profil calon penerjemah. Lalu, Ratih berjodoh dengan Soe Tjen Marching, yang memang menawarkan dirinya untuk menerjemahkan ke-14 cerpen dalam Larutan Senja menjadi Potion of Twilight.
 
"Ketika itu dia (Soe Tjen) yang mendekati saya. Namun saya tidak serta merta mengiyakan. Mau lihat dulu terjemahan dia seperti apa. Saya merasa rugi, karya sastra dengan bahasa ibu kita, bukan bahasa nomor satu yang dibaca (internasional), sangat sulit mencari penerjemah, apa lagi karya fiksi. Mencari penerjemah susahnya minta ampun," cerita Ratih.
 
Istri penulis Eka Kurniawan ini mengaku juga sempat mencari informasi tentang penerjemah lain. Meski begitu ia merasa tidak cocok dengan sosok penerjemah lainnya. Ratih merasa Soe Tjen paham dan sudah jatuh cinta terlebih dulu dengan buku itu (Larutan Senja).
 
Namun ia juga menyebutkan bahwa sebagai penulis harus legawa bila ada beberapa kalimat yang dirasa berbeda ketika diterjemahkan. "Mau tidak mau, harus diterima, sebagai salah satu cara agar karyanya dibaca khalayak yang lebih luas lagi di kancah internasional," tukasnya.
 
Senada dengan Ratih, Djenar yang karya fiksinya berkarakter berima, juga mengakui menemui kondisi serupa."Walau aku tidak piawai berbahasa Inggris, paling tidak aku juga mengerti bila memang rasanya bukan ini yang aku mau. Dalam bahasa Indonesia, karyaku banyak yang berrima, agak sulit ketika diaplikasikan ke bahasa Inggris. Namun aku merasa selama maksudnya tersampaikan, itu akan baik-baik saja," kata perempuan yang belum lama ini berulang tahun ke-46.
 
Ikuti Tren Penerbit Luar
 
Dalam diskusi itu pula dibahas mengenai hak cipta yang dibeli penerbit negara lain. Jika kondisi itu terjadi maka ada beberapa pertimbangan kualifikasi yang dilakukan penulis maupun penerbit di negara asal.
 
Foreign Rights Manager Gramedia International Wedha Stratesti Yudha menjelaskan, beberapa di antara yang menjadi pertimbangan ialah tema yang sedang tren di negara tersebut.
"Beberapa tema yang menurut penerbit luar itu seksi, di antaranya tema yang ada muatan historis, atau isu yang sedang hangat dan disorot, misal tentang gender, feminisme. Kita juga melihat pola buku yang diterbitkan di negara tersebut, apa yang sedang menjadi tren. Kalau memang kita punya penulis yang kuat tentang isu itu, ya itu bagus dan menjadi pertimbangan untuk karyanya dipasarkan di internasional."
 
Wedha mengungkapkan, pada tahun ini, beberapa buku terbitan Gramedia juga diterbitkan dalam bahas asing oleh penerbit luar. Buku tersebut adalah Pasung Jiwa karya Oki Madasari yang akan diterbitkan oleh penerbit Mesir, The Book of Forbidden Feeling karya Lala Bohang yang akan diterbitkan di Vietnam, dan salah satu buku karya Diana Rikasari yang akan dipasarkan di Korea. (M-1)
 
BERITA TERKAIT