Topkarir Bayu Janitra Wirjoatmodjo Bukan sekadar Portal Pencari Kerja


Penulis: Despian Nurhidayat - 17 January 2019, 01:30 WIB
MI/PIUS ERLANGGA
 MI/PIUS ERLANGGA

TIDAK berani berpikir muluk soal karier, begitulah yang ada di benak pencari kerja sekarang ini. Jumlah lapangan kerja yang masih di bawah angkatan kerja, membuat setiap pekerjaan pun sangat disyukuri, meski belum tentu dengan gaji dan posisi sesuai dengan harapan.
Bagi para pencari kerja lulusan SMA atau SMK, kondisinya bahkan bisa jadi lebih berat. Latar pendidikan tersebut kerap menempatkan mereka tidak memiliki posisi tawar yang baik, walaupun sebenarnya mungkin memiliki ketangkasan dan keahlian yang cukup.

Tantangan bagi pelamar kerja lulusan SMA/SMK pun terlihat dari posisi mereka dalam tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia. Pada Februari 2018, Badan Pusat Statistik mengungkapkan jika lulusan SMK menempati tingkat pengangguran tertinggi.

Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia per Februari 2018 berjumlah 6,87 juta orang atau 5,13%. Angka ini sebenarnya sudah turun sekitar 2% jika dibandingkan dengan Februari 2017 yang berjumlah 7,01 juta orang atau 5,33%.

Permasalahan lapangan kerja bagi lulusan SMA/SMK itu pula yang disadari Topkarir. Berdiri pada 2015, portal pencarian kerja ini menjadikan para lulusan tingkat pendidikan tersebut sebagai sasaran layanan mereka.

"Sasaran kami ialah pencari kerja usia 19 tahun yang merupakan lulusan SMA atau SMK. Salah satu sebabnya karena kami juga menjadi mitra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Direktorat Pembinaan SMK untuk membantu lulusan SMK mendapat pekerjaan yang sesuai," tutur salah satu pendiri Topkarir, Bayu Janitra Wirjoatmodjo, kepada Media Indonesia, Sabtu (11/1).

Selain itu, Topkarir juga membuat program kerja sama bertajuk Berdaya, dengan tujuh grup perusahaan raksasa Tanah Air untuk penyerapan tenaga kerja itu. Ketujuh grup itu ialah Tri Putra Agung, Sinarmas, Garudafood, Salim Group, Djarum Group, Rajawali, dan Agung Sedayu.

Tidak berhenti di situ, sesuai dengan nama yang diusungnya, Topkarir tidak ingin sekadar menjadi portal pencarian kerja, tetapi pengembangan karier.

Hal tersebut dilakukan dengan program pelatihan--sertifikasi, beasiswa, tips karier, dan kewirausahaan. Program-program itu, berikut dengan program pencarian kerja, disebut bagi sebagai lima pilar yang diterapkan Topkarir. Program-program itu juga tidak terbatas pada lulusan SMK berusia 18 tahun saja, tetapi dapat diakses seluruh pencari kerja pengguna Topkarir.

Di sisi lain, sesuai dengan konsep pencarian kerja untuk anak muda pula, pengguna Topkarir memang ditargetkan hingga usia 29 tahun. Pilihan pekerjaan yang tersedia bagi angkatan kerja muda ini juga tidak terbatas pada latar pendidikan SMK/SMA saja, tetapi hingga S-2 (master). Meski begitu, seperti terlihat pada portal Topkarir, program-program yang disediakan tampak sangat sesuai bagi lulusan sekolah menengah dan sarjana.

Bayu menjelaskan program beasiswa dan kewirausahaan juga digelar dalam bentuk kerja sama. Beberapa yayasan yang menjadi mitra mereka ialah Ekacipta Foundation dan Djarum Foundation. Sementara itu, dalam program pelatihan, kerja sama utama mereka dengan berbagai balai latihan kerja milik pemerintah.

Bayu mengaku pihaknya juga menyadari bahwa dalam pengembangan karier tidak hanya butuh pelatihan teknis, tetapi juga inspirasi ide. Sebab itu pula, ia menjalin kerja sama dengan program Big Circle Metro TV agar para pencari kerja mendapat inspirasi nyata dalam berpikir inovatif, bahkan mungkin menjadi wirausaha.

8.600 perusahaan
Bayu yang kini menjabat CEO Topkarir mengungkapkan jika sistem pencarian kerja dilakukan dengan pencocokan scoring. Pada saat mengakses pilihan mencari kerja di portal tersebut, pengguna akan diminta mengisi identitas yang mencakup latar pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman organisasi, serta preferensi karier, hingga gaji yang dipilih. Dari situ, pencari kerja akan diberikan berbagai pilihan karier yang cocok.

Hingga kini, ungkapnya, Topkarir telah memiliki 1 juta pencari kerja terdaftar dan 8.600 perusahaan yang menyediakan lapangan kerja. Topkarir kemudian juga menyediakan fasilitas wawancara melalui video jika memang proses wawancara langsung tidak dapat dilakukan.
Meski begitu, diakui persentase keberhasilan rekrutmen memang belum terlampau tinggi. "Saat ini sudah 40% dari para pencari kerja yang mendapat pekerjaan," ujar Bayu.

Berbagai faktor dapat memengaruhi tingkat keberhasilan rekrutmen itu. Salah satunya ialah kecocokan pelamar dengan jenis lapangan pekerjaan dominan yang tersedia di Topkarir. Bayu menjelaskan ada tiga pekerjaan yang secara konsisten selama 1 tahun selalu mendapatkan permintaan yang tinggi, yaitu sales, IT, dan hospitality (restoran dan hotel). Permintaan untuk sales mencapai 30% dari total keseluruhan lapangan kerja yang tersedia.

Bayu juga mengaku belum membuat sistem analisis mengenai kondisi pascarekrutmen, yakni mengenai masa kerja dijalani. Masa kerja ini bisa ikut menunjukkan kualitas rekrutmen, meski sebenarnya ada berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi seorang pekerja tidak bertahan di pekerjaannya. Bayu mengaku masih mengembangkan sistem evaluasi soal lama masa kerja tersebut.

Soal pendapatan, Bayu menjelaskan Topkarir meraih pendapatan dengan sistem berlangganan yang diterapkan kepada perusahaan. Untuk menjadi pelanggan, perusahaan itu terlebih dulu akan melalui proses screening termasuk untuk mengetahui keabsahan perusahaan.

Namun, ia mengakui pula meski neraca pendapatan Topkarir terus meningkat, jumlahnya belum menutupi modal awal yang dikeluarkan. Akan tetapi, ia tetap optimistis sebab layanan pencari kerja bukan saja kian dibutuhkan para angkatan kerja, melainkan juga menjadi media perusahaan untuk mendapatkan pekerja yang berkualitas dengan cara efisien. (M-1)

 

BERITA TERKAIT