Miris, 2.670 Kilometer Drainase di Kota Depok Penuh Sampah


Penulis: Kisar Rajaguguk - 14 January 2019, 16:25 WIB
MI/ BARY FATHAHILAH
MI/ BARY FATHAHILAH

DPRD Kota Depok risau terhadap buruknya kondisi drainase di Kota Depok. Drainase sepanjang 2.760 kilometer kiri kanan jalan di 63 kelurahan 11 kecamatan dipenuhi lumpur tanah dan sampah. Sehingga air hujan gagal mengalir ke saluran pembuangan besar.

Anggota Komisi B DPRD Kota Depok Bernhard Simorangkir mengatakan drainase jalan di 63 kelurahan 11 kecmatan di Kota Depok sepanjang 2.760 kilometer kondisinya buruk sehingga jalan-jalan penuh dengan genangan air. 

“Genangan itu terjadi akibat drainase yang mampat sehingga air hujan gagal mengalir ke saluran pembuangan besar. Air yang harusnya amblas, justru menggenang dan meluber ke jalan raya,“ ujar Bernhard, Senin (14/1).

Celakannya lagi, meski sudah berlangsung sejak bertahun-tahun, tidak ada penanganan dari dinas terkait. 

“Saya sudah jalan 5 tahun jadi anggota DPRD di Kota Depok. Setiap hujan turun jalan protokol, jalan provinsi, jalan kota dan jalan lingkungan kebanjiran dan enggak ada penanganan sama sekali. Logikanya kalau tanggap, dicek saluran drainasenya dan segera benahi. Orang mau lewat enggak nyaman, kenderaan mau parkir juga malas,“ kata dia.

 

Baca juga: Rapat Koordinasi PKS-Gerindra Bahas Fit And Proper Ditunda

 

Bernhard mendesak Wali Kota Depok Idris Abdul Shomad untuk segera membentuk peraturan daerah terkait transparansi sistem drainase perkotaan di Kota Depok. 

“Sistem drainase di Kota Depok sudah stadium 4, tidak mengherankan jika sebentar turun hujan permukiman warga, sekolah, perkantoran mengalami kebanjiran. Tidak heran pula drainase yang dangkal dan tumpat lantaran sampah tak dibersihkan membuat ngeri karena berkaitan dengan penyakit, “ ujar Anggota Komisi B DPRD Kota Depok itu.

Menurutnya, buruknya saluran drainase di Kota Depok terjadi karena buruknya tata kota. Hal itu membuat 2.670 kilometer panjang drainase di kiri kanan jalan di Kota Depok mengalami pendangkalan dan menjadi tempat karena sampah.

Ketua Fraksi Restorasi Hati Nurani DPRD Kota Depok itu merasa kecewa karena sistem drainase tampak tak maksimal. Padahal, itu menjadi penting karena merupakan saluran pembuangan air. 

"Drainase kita buruk, makanya air menggenang disana sini jika turun hujan sebentar," katanya.

Bernhard mendesak Pemerintah Kota Depok untuk segera membentuk perda tentang penyelenggaraan sistem drainase Kota Depok. Pembentukan Peda drainase sesuai dengan Pasal 34 ayat (1) Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Nomor : 12/PRT/M/2014 tentang Penyelenggaraan sistem drainase perkotaan. 

“Bunyi Permen PU-Pera menegaskan, pemerintah daerah diminta membentuk peraturan daerah mengenai sistem drainase perkotaan sesuai dengan karakteristik wilayahnya, “ paparnya.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok Supomo tidak menampik jika 2.670 kilometer panjang drainase di kiri kanan jalan di Kota Depok mengalami kedangkalan dan tumpat. Kondisi tersebut kata Supomo karena disebabkan sampah dan pembetonan yang dilakukan warga untuk usaha.

“Jangan hanya pemerintah yang disalahkan. Tetapi juga warga yang tidak disiplin membuang sampah secara sembarangan ke drainase. Kita lihat sepanjang drainase yang kita korek, isinya adalah sampah-sampah plastik dan botol minuman,“ ujar Supomo.

Menurut Supomo, selain terjadi pendangkalan drainase dan peyumbatan akibat sampah juga telah terjadi pendangkalan kali, sehingga bila terjadi hujan darainase tidak berfungsi dan mengakibatkan banjir. 

“Selain itu, juga terjadi pendangkalan Sungai. Aliran sungai tidak mampu menampung debit air sehingga air Sungai kembali ke drainase dan membanjiri badan jalan dan permukiman,“ papar Supomo.

Supomo menegaskan Dinas PUPR Kota Depok tidak menjamin drainase buruk di kota itu tertangani 100 %. Sebab dana PUPR terbatas. Untuk memperbaiki 2.670 kilometer drainase dibutuhkan dana sebesar Rp6 triliun. Karena itu, Supomo memperkirakan kerusakan drainase akan semakin parah. (OL-3)

BERITA TERKAIT