Titik Balik Putri Pertiwi lewat Lukisan


Penulis: Ardi Teristi - 13 January 2019, 06:20 WIB
ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
 ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

DERETAN lukisan dengan dominasi warna-warna ceria dipamerkan di Gedung Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jalan Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta, mulai 5 Januari hingga 13 Januari 2018. Ekspresi spontan dan sederhana tampak dalam 85 lukisan yang dipamerkan Putri Pertiwi, seorang dengan keterbelakangan mental (down syndrome).

Karya-karya dalam pameran ­bertajuk Titik Balik ini sebagian besar dibuat dalam rentang waktu 2 tahun terakhir. Melihat karya-karyanya, para penikmat seni bisa menjelajah dunia dan alam pikir Putri.

Pameran seni rupa bertajuk Titik Balik ini menjadi tahap penting bagi Pertiwi yang memiliki keterbelakangan mental. Dengan cara ini, ia dan karyanya dapat lebih diapresiasi masyarakat. Sang ibulah, Titiek Broto, yang menjadi sosok paling penting di balik karya-karya yang dihasilkan.

Ibunya yang selama ini merawat, membimbing, dan mendampingi Putri sekaligus menemukan serta menggali ketertarikan anak ketiganya itu pada dunia seni rupa. Demi menemani sang anak, perempuan yang terakhir menjabat Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Surabaya ini memilih untuk pensiun dini.

Salah satu karya yang mengungkapkan perasaan Putri yang sangat dalam ialah sebuah lukisan yang berjudul Bapak Meninggal yang dibuat pada 24 Juni 2014. Putri menggambar kejadian ketika sang Bapak meninggal setahun sebelum lukisan ini dibuat, pada 2013.

Dalam gambar tampak sebuah keranda yang membawa ayahnya yang meninggal dunia karena penyakit kanker ke permakaman. Putri secara detail mengingat nama-nama pengangkat keranda dan orang-orang yang ada di sekitar keranda.

Titiek Broto mengatakan, sang putri sangat terpukul saat sang ayah, Maryadi Broto, meninggal dunia. Putri sempat sakit dan beberapa kali opname di rumah sakit.

Sempat mengendur

Semangatnya untuk menggambar, terutama mewarnai pun sempat mengendur. Setelah itu, Putri justru menyukai untuk membuat sketsa atau melukis untuk menggambarkan realitas yang bergayut dalam imajinasinya.

“Sketsa itu sederhana, namun, begitu dramatis, apalagi Puteri mampu mengingat satu per satu figur yang digambarkannya, selaras dengan kemampuan artistiknya,” kata dia, Minggu (5/1).

Titiek Broto mengakui bahwa Putri memiliki keterbatasan. Dia kemudian bercerita, untuk sebuah lukisan kanvas berukuran sekitar 40 cm x 60 cm, Putri memerlukan waktu untuk menyelesaikannya hingga 3-4 kali pertemuan,” kata Titiek.

Sekitar 1,5 tahun terakhir, lanjut dia, Putri intens menggambar. Sang putri didampingi guru melukis, yang alumnus FSRD ISI (Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, Joelya Nurjanti (Lia). Seminggu dua kali Lia mendam­pingi Putri. Setidaknya sensor motorik dalam diri Putri bisa aktif dengan relatif baik.

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Panut Mulyono menyatakan, dukungannya pada pameran itu dan mendoakan Putri Pertiwi dapat menginspirasi bagi penyandang kebutuhan khusus dan masyarakat luas.

“Saya berharap pameran ini tidak hanya menjadi titik balik bagi Putri Pertiwi, namun juga menjadi momen titik balik bagi lingkungannya,” pesan Panut yang membuka ­pameran tersebut.
Salah satu dosen senior di ­Fakultas Teknlogi Pertanian UGM, Prof Sigit Supadmo Arief yang menjadi penggagas pameran ini menilai ­dalam karya Putri ada kekhasan.

“Salah satu ciri karya Putri khas adalah selalu ada garis-garis horisontal tegas dan kemudian diisi dengan warna-warna ceria,” pungkas dia. (M-4)

BERITA TERKAIT