Debat Perdana Capres-Cawapres Harus Fair


Penulis: Golda Eksa - 12 January 2019, 15:03 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

MANTAN komisioner Komisi Pemilihan Umum Sigit Pamungkas berharap debat perdana antara paslon nomor urut 01 dan 02 berlangsung fair, khususnya terkait penayangan di televisi. KPU pun harus bisa mengontrol dan memastikan stasiun televisi yang menyiarkan kegiatan itu tetap mengambil angle yang adil bagi kedua kontestan.

"Karena ini, kan masalah penayangan di televisi itu menyangkut sudut pandang, suara, apakah terdengar atau tidak. Jangan nanti ada stigma bahwa pasangan tertentu diberi ruang yang lebih banyak di publik ketimbang pasangan lainnya," ujar Sigit disela-sela diskusi Jelang Debat Siapa Hebat, di Jakarta, Sabtu (12/1).

Baca juga: Presiden akan Marah Bila Ada yang Remehkan Transportasi Online

Diskusi itu juga menghadirkan peneliti komunikasi politik UIN Jakarta Gun Gun Heryanto; Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandi, Priyo Budi Santoso; Direktur Relawan TKN Jokowi-Amin, Maman Imanulhaq; dan Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta S Pane.

Selain itu, sambung dia, KPU perlu memperhatikan masalah lain, semisal indikasi adanya informasi bocornya soal debat ke publik. Benar atau tidak informasi itu penting diantisipasi agar nantinya tidak menghambat pelaksanaan debat.

Gun Gun menambahkan, dalam pelaksanaan debat masing-masing kandidat harus memerhatikan dua poin penting, yaitu koherensi dan kebenaran. Koherensi itu menyangkut benang merah pernyataan capres-cawapres dalam pelbagai topik yang diulas, serta konsistensi antara satu pernyataan dan perbuatan yang berbeda maupun karakter yang membawakannya.

"Mengenai kebenaran, ingat, sekarang ini era informasi yang berlimpah. Jadi, data-data yang disampaikan janganlah data-data yang kemudian tidak benar atau tidak berkorelasi dengan kondisi-kondisi faktual yang bisa diverifikasi oleh banyak orang melalui ragam sumber informasi." tandasnya.

Parameter itu diakui Gun Gun menjadi sebuah agenda penting bagi masing-masing kandidat. Apabila di panggung debat justru ada data yang diverifikasi sebagai data bohong atau keliru, maka realitas itu tentu sangat merugikan paslon yang berdebat.

Debat perdana capres-cawapres mengangkat 4 topik, yaitu hukum, terorisme, korupsi, dan penegakan HAM. Kedua paslon pun mengaku secara teknis siap menghadapi agenda tersebut.

Sementara itu menurut Maman, TKN Jokowi-Amin akan fokus menjadikan sesi debat untuk mengedukasi politik, seperti menggelar acara nonton bareng di sejumlah wilayah bersama masyarakat.

"Paslon kami sudah sangat siap apalagi punya pengalaman dan punya program jelas. Beda dengan pasangan nomor 02, saya rasa mereka tidak pengalaman dan tidak punya konsep jelas. Dalam debat nanti, Jokowi-Amin akan natural saja, tidak ada persiapan apapun," kata Maman.

Contohnya, imbuh dia, penegakan hukum yang bebas dari korupsi, bermartabat, dan terpercaya justru sudah dibuktikan oleh capres petahana Jokowi. Jokowi bahkan sudah menerapkan hukum sebagai instrumen untuk penegakan keadilan dan bukan instrumen kekuasaan atau intervensi.

"Dalam penanganan korupsi Jokowi sudah mengeluarkan Perpres 43/2018 sehingga yang disasar oleh pemerintah bukan hanya korupsi personal saja tetapi juga korporasi. Mengenai HAM, Jokowi juga tidak punya masa lalu yang terkait pelaku pelanggaran HAM berat. Nah, itu semua menjadi bekal dan kekuatan kami untuk memenangkan debat," terang dia.

Baca juga: Politik Saling Menjatuhkan Berpotensi Tingkatkan Jumlah Golput

Pendapat berbeda dilontarkan Priyo. Ia mengaku Prabowo dan Sandi telah siap lahir batin untuk menghadapi debat perdana yang diselenggarakan KPU. Capres-cawapres nomor urut 02 itu bakal memanfaatkan debat untuk mengeksplorasi mimpi-mimpi besar membangun negeri, terutama dari sektor hukum, penegakan HAM, korupsi, dan terorisme.

"Kita hormati sebagai presiden, Jokowi pasti punya prestasi, tapi banyak juga hal bolong-bolong karena itu fakta dan publik tahu ada lobang selama kepemimpinannya. Posisi kami ialah bagaimana bolong, lobang, kelemahan selama kepimpinan beliau itu bisa diperbaiki, disempurnakan, dilakukan langkah perbaikan ke depan sehingga menjadi lebih baik. Karena itulah dibutuhkan pemimpin yang lebih baik," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT