Tren Defisit Cenderung Menurun


Penulis: Fetry Wuryasti - 12 January 2019, 07:20 WIB
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin
ANTARA FOTO/ICom/AM IMF-WBG/Anis Efizudin

DEPUTI Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo menilai neraca perdagangan Desember 2018 masih akan mengalami defisit, tapi trennya menurun jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya.

“Kalau masih defisit atau tidak, ya defisit. Tapi yang penting ialah trennya yang menurun. Kita lihat masih ada impor barang modal yang terkait investasi yang mendorong impor tinggi, tapi trennya ke arah menurun,” ujar Dody di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, kemarin.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada November 2018 mengalami defisit tertinggi sepanjang 2018 yakni sebesar US$2,05 miliar. Neraca perdagangan November dipicu defisit sektor migas dan nonmigas, masing-masing sebesar US$1,46 miliar dan US$0,58 miliar.

“Memang masih ada tekanan dari sisi impor yang masih tinggi, tapi impor itu masih related dengan barang modal, khususnya karena kegiatan investasi kita yang masih cukup besar,” kata Dody.

Di sisi lain, kinerja perdagangan Indonesia sepanjang 2018 dinilai masih tumbuh positif dan memiliki potensi besar ke depannya.

Sejumlah misi dagang dan perjanjian dagang yang banyak dilakukan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sepanjang tahun lalu diyakini cukup sukses ­mendongkrak kinerja ekspor nonmigas dan ­menahan defisit perdagangan lebih besar.

“Perjanjian-perjanjian dagang itu kan meminimalkan ketidakpastian pasar. Memang untungnya tidak banyak, tetapi lebih terjamin pembelinya,” ungkap guru besar Universitas Brawijaya Malang, Candra Fajri Ananda.

Perjanjian dagang dan misi dagang yang lumayan banyak dilakukan pada 2018, menurut Candra, menumbuhkan harapan akan lebih terjaminnya tingkat ekspor bebe-rapa komoditas andalan Indonesia ke depan.

Sepanjang tahun lalu, Kemendag memang aktif membuat perjanjian dagang. Tercatat delapan perjanjian dagang telah teratifikasi. Menyusul dua perjanjian yang tengah dalam proses ratifikasi, yaitu Indonesia-Chile CEPA dan ASEAN-Hong Kong FTA and Investment Agreement.

Kemendag juga diketahui telah melakukan penandatanganan atas empat perjanjian dagang kawasan, yakni 10th ASEAN ­Framework Agreement on Services, First ­Protocol to Amend ATIGA, ASEAN Agreement on Electronic Commerce, dan Indonesia-EFTA CEP.  Berbagai perjanjian dagang itu diperkirakan meningkatkan ekspor hingga US$1,9 miliar.

Pasar nontradisional

Tahun lalu juga Kemendag ­sudah melakukan misi dagang ke 13 ­negara, yang sebagian besar ialah pasar nontradisional. Dalam misi tersebut, transaksi yang dihasilkan mencapai US$14,79 miliar. Jumlah itu tumbuh 310% dari transaksi misi dagang 2017 yang sebesar US$3,6 miliar.

Perjanjian ataupun misi dagang tidak bisa secara langsung secara instan menguatkan neraca perdagangan Indonesia sehingga langsung surplus. Pasalnya, beberapa harga komoditas seperti minyak sawit dan batu bara mengalami penurunan harga.

Ekonom dari Universitas Indonesia Lana Soelistianingsih mengatakan, sejauh ini sektor migaslah yang menjadi penyebab neraca perdagangan Indonesia terpuruk di sepanjang 2018.

Tinggginya defisit itu disebabkan menurunnya ekspor migas dan naik-nya impor migas. Sebaliknya, sektor nonmigas masih membukukan neraca positif.

Mendag Enggartiasto Lukita menjelaskan, meski tidak tumbuh sebesar pada 2017, ekspor nonmigas hingga November 2018 meningkat 7,5% atau melampau target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 yang sebesar 5%-7%. (Pra/Ant/E-1)

BERITA TERKAIT