Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah ke Presiden


Penulis: Pol/Ant/H-2 - 12 January 2019, 06:40 WIB
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

PRESIDEN Joko Widodo bersilaturahim dengan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Mereka membahas peran penting guru dan persoalan yang dihadapi selama ini.

Salah satu guru yang hadir, Megayanti, menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan pengalaman dan keluh kesahnya sebagai guru honorer. Perempuan asal Pemalang, Jawa Tengah, itu ­menuturkan bahwa dirinya mengabdi sebagai guru sejak 2009.

Selama sembilan tahun awal kariernya, honor dia sebagai guru hanya Rp50 ribu per bulan. Kemudian sejak 2016, naik menjadi Rp150 ribu per bulan.

“Kami sama seperti yang lainnya, melaksanakan pendidikan walaupun honor kami Rp50 ribu, Rp150 ribu. Tapi kami bisa S-1, insya Allah. Tapi apa hanya sekadar sampai di situ, Pak?” ujar Megayanti.

Ia lalu menyampaikan masalah lain yang kerap dihadapi guru honorer. Untuk mendapatkan sertifikat pendidik, misalnya, seorang guru honorer bisa mendapatkan sertifikat itu dari perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan terakreditasi dan ditetapkan pemerintah.

Namun, lanjut Megayanti, ada batasan usia untuk mendapatkan sertifikat itu, yakni maksimal 35 tahun. Padahal, banyak guru honorer yang telah mendidik selama berpuluh-puluh tahun sudah melewati usia tersebut sehingga tidak berkesempatan mendapat sertifikat pendidik.

“Usia dibatasi 35 tahun, lah saya 36 tahun, enggak ada harapan dong, Pak,” ungkap Megayanti.
Persoalan lain terkait dengan sertifikasi pendidik, lanjut dia, ialah kuota yang terbatas, biaya ujian sertifikasi, serta keharusan memiliki ijazah S-1 yang linier dengan mata pelajaran atau jurusan yang diajarkan di sekolah.

Dalam menanggapi keluhan itu, Presiden Jokowi berjanji akan membahasnya dengan menteri-menteri terkait. “Saya harus berbicara dengan Menteri PAN-RB, Menteri Dikbud, dan menteri-menteri yang terkait dengan ini. Menteri Agama juga ya kan,” kata Presiden.

Pada kesempatan itu Presiden kembali menegaskan bahwa pendidikan merupakan pintu masuk kemajuan bangsa. Karena itu, guru sebagai pendidik generasi muda memiliki peran yang amat penting.

“Bangsa yang terdidik, cerdas, berakhlak baik, serta menguasai ilmu pengetahuan akan menjadi bangsa yang maju dan sejahtera,” ujarnya.

Dalam acara itu, para guru yang tergabung dalam PGSI dipimpin Ketua Dewan Pembina PGSI Abdul Kadir Karding dan Ketua Umum PGSI Mohamad Fatah. Adapun Presiden didampingi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy dan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. (Pol/Ant/H-2)

BERITA TERKAIT