Balap Sepeda Buka Asa ke Tokyo


Penulis: M Taufan SP Bustan - 12 January 2019, 03:20 WIB
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A

TIM balap sepeda Indonesia untuk sementara sukses mendulang dua emas, satu perak, dan empat perunggu pada kejuaraan Asian Track Championship (ATC) 2019 yang berlangsung di Jakarta International Velodrome, Rawamangun, Jakarta. Pencapai­an itu membuka lebar-lebar peluang pembalap sepeda Indonesia menuju Olimpiade Tokyo 2020.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI) Raja Sapta Oktohari menyebutkan, peluang itu sangat besar karena semua negara di Asia baru memulai pencarian poin menuju Olimpiade pada awal tahun ini.

“Di sini kesempatan untuk mengumpul poin itu. Capaian saat ini cukup membanggakan,” tegas Okto saat dimintai keterangan Media Indonesia di Jakarta, kemarin.

Itu sebabnya, menurut Okto, semua pembalap Indonesia harus selalu berusaha keras di setiap kejuaran track yang mempunyai poin Olimpiade.  

Kedua medali emas Indonesia dari kejuaraan bergengsi itu dipersembahkan Muhammad Fadli Immammuddin di kategori paracycling putra dan Angga Dwi Wahyu Prahesta untuk kategori junior.
“Setelah menjuarai nomor individual pursuit 4.000 meter kategori paracycling C4-C5 (tuna­daksa) Fadli meraih medali emas.”

Yang membuat dia lebih bangga lagi ialah para pembalap­ Indonesia tampil begitu impresif. Alhasil, meski mereka gagal menjadi yang terbaik, mereka tetap mampu memberi perlawanan. Terbukti mereka mampu mempersembahkan medali perak dan perunggu.

“Target saya menang di setiap kejuaraan itu sehingga bisa membawa satu slot untuk ke Paralimpiade 2020. Perjuang­an tentu akan kita lakukan karena itu bukan hal yang mudah,” terang Fadli.

Persiapan mepet

Pasangan Ni’mal Magfiroh dan Sri Sugiyanti mengaku kurang puas dengan raihan perak di nomor 3.000 meter pursuit individu B putri paracycling. Pasalnya, hasil tersebut jauh di bawah pencapaian mereka di Asian Para Games 2018 lalu.

“Bagusan di APG kemarin. Memang tidak bisa dibohongin usaha itu, tiga minggu latihan dibandingkan 10 bulan,” kata Sri seusai perlombaan.

Ni’mal/Sri harus mengungguli pasangan Malaysia Nur Azlia Syafinaz Mohd Zais/Nurul Suhada Zainal di babak final setelah mencatatkan waktu 4 menit 7,889 detik atau defisit lima detik dari pasangan Malaysia.

Sementara itu, medali perunggu nomor tersebut diraih pasangan Malaysia lainnya Nur Syahida Tajudin dan Noraidilina Adilla J. Sam.

Tantangan terbesar bagi Sri dan Ni’mal sekarang ialah bagaimana meneruskan latihan agar memiliki tenaga seperti pembalap Malaysia yang menjadi rival mereka.

Pelatih NPC Paracycling Indonesia Fadilah Umar melihat anak asuhannya sudah lebih percaya diri ketimbang di kejuaraan tingkat Asia tahun lalu. Hanya karena persiapan mepet, hasilnya kurang maksimal. “Karena setelah kemarin jeda itu jadi kita hanya pulihkan kondisi di awal saja, walaupun bisa mereka merasa sedikit dipaksakan.”

Kejuaraan yang dimulai 8 Januari dan berakhir 13 Januari 2019 itu menjadi ajang persiapan  para pembalap Asia menuju Olimpiade Tokyo 2020. (Ant/R-2)

BERITA TERKAIT