Neraca Perdagangan RI di 2018 Defisit, BI: Trennya Menurun


Penulis: Fetry Wuryasti - 11 January 2019, 16:34 WIB
ANTARA
ANTARA

DEPUTI Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan memang untuk neraca perdagangan masih ada tekanan dari sisi impor yang masih tinggi. Meski demikian, dia menekankan perlu dilihat bahwa tingginya impor masih berelasi dengan barang modal khususnya karena kegiatan investasi yang masih cukup besar.

"Konsumsi sendiri, perlu dicatat, angka survei pedagang eceran masih cukup tinggi. Jadi ekspektasi konsumen untuk melakukan kegiatan konsumsi itu masih cukup baik," ujar di Masjid Baitul Ihsan Kompleks Bank Indonesia , Jakarta, Jumat (11/1).

Baca juga: Laju Rupiah Mulai Kebal Tekanan Eksternal

Hal itu memberikan optimisme untuk angka pertumbuhan konsumsi di kuartal terakhir 2018 relatif masih di kisaran 5-5,5%.

"Itu bagus, mendorong domestik demand perekonomian kita di triwulan ke 4 2018 masih akan tinggi. Yang perlu dicatat domestik demand menjadi faktor pendorong pendorong pertumbuhan di 2018," tandasnya.

Untuk neraca perdagangan, dia memastikan masih akan defisit, dengan tren yang menurun. Karena untuk menjadi surplus penyebabnya kemungkinan harus kenaikan ekspor yang tajam atau penurunan impor yang tajam.

"Kan tidak seperti itu. Artinya tren yang kami lihat masih adanya impor barang modal terkait investasi yang mendorong impor tinggi. Tapi tren menurun," tukas Dody. (OL-6)

BERITA TERKAIT