Negeri Kanguru Berjuang Melawan Bara


Penulis: (Ant/Tesa Oktiani Surbakti/I-2) - 11 January 2019, 07:40 WIB
AFP/PETER PARKS
AFP/PETER PARKS

SEPANJANG 2018 ialah masa yang berat bagi 'Negeri Kanguru'.

Pada tahun itu, negara tersebut mencatatkan rekor tahun terpanas yang ketiga sepanjang sejarah Australia.

Sepanjang tahun, Australia mengalami kekeringan yang cukup parah di beberapa bagian wilayah. Imbasnya, musim kebakaran semak menjadi lebih lama.

Menurut Badan Meteorologi Australia, dengan kondisi kekeringan yang diperkirakan akan terus bertahan dalam beberapa bulan mendatang, dampak yang akan dirasakan masyarakat di negara itu akan semakin berat.

Bayangkan, suhu maksimum di seluruh Australia mencapai rekor terpanas kedua, yakni sebesar 1,55 derajat celsius di atas rata-rata atau satu tingkat di bawah tahun terpanas yang pernah terjadi pada 2013.

Jika dibandingkan dengan periode 1961 hingga 1990, suhu rata-rata di seluruh Australia pada 2018 tercatat sebesar 1,14 derajat celsius di atas rata-rata pada periode tersebut.

Kondisi di 'Negeri Kanguru' semakin diperparah akibat musim hujan tahunan sepanjang 2018 yang tercatat sebagai yang terendah ketujuh dalam sejarah negara itu.

"Ini tahun yang cukup sulit bagi orang-orang karena harus menghadapi kekeringan panjang," ungkap ahli klimatologi senior lembaga itu.

Pusat meteorologi tersebut melihat hanya ada perubahan minim yang dapat terjadi dalam waktu dekat.

"Tiga bulan mendatang akan terus menghadapi kondisi panas dan kering yang sebenarnya telah dialami sekitar 24 bulan terahir," terang Karl Braganza, kepala biro pemantauan iklim.

Diduga, kondisi cuaca yang serupa dengan El Nino yang mendera Samudra Pasifik dapat menghentikan musim hujan sepanjang tahun ini meskipun belum jelas bagaimana hal itu bakal terjadi.

Seperti diketahui, El Nino biasanya berkaitan dengan musim hujan yang lebih rendah ketimbang biasanya di Australia bagian timur.

Di negara itu, sepanjang 2018, musim hujan tercatat 11% lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata musim hujan di periode 1961 sampai 1990.

Akibatnya, suhu udara menjadi lebih panas. Di lain hal, saat musim dingin yang berangin melanda Australia, proses penguapan justru akan berlangsung lebih banyak.

Hal itu tentunya akan memicu kekeringan lanskap yang cukup cepat dan intens.

Ancaman tidak hanya itu. Analisis lainnya menyebutkan pemanasan global yang tengah terjadi saat ini diperkirakan menyebabkan musim kebakaran semak di Australia yang diprediksi lebih awal pada musim semi akan berlanjut hingga musim gugur.

Hal itu berbeda dengan yang terjadi selama beberapa bulan di musim panas.

"Perubahan musim dan tingkat keparahan musim panas sebagian besar didorong peningkatan suhu permukaan. Hal itu pada akhirnya berkaitan dengan pemanasan global," imbuh Braganza.

BERITA TERKAIT