Cegah, Cegah, dan Cegah Suara Dunia Perangi Diabetes


Penulis:  Profesor Nila Farid Moeloek Menteri Kesehatan RI - 11 January 2019, 01:00 WIB
Thinkstock
Thinkstock

PENYAKIT tidak menular (PTM), termasuk diabetes, saat ini telah menjadi ancaman serius kesehatan global. Dikutip dari data WHO 2016, 70% dari total kematian di dunia dan lebih dari setengah beban penyakit. Dari 90%-95% dari kasus diabetes ialah diabetes tipe 2 yang sebagian besar dapat dicegah karena gaya hidup yang tidak sehat.

Indonesia juga menghadapi situasi ancaman diabetes serupa dengan dunia. International Diabetes Federation (IDF) Atlas 2017 melaporkan bahwa epidemi diabetes di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat. Indonesia ialah negara peringkat keenam di dunia setelah Tiongkok, India, AS, Brasil, dan Meksiko dengan jumlah penyandang diabetes usia 20-79 tahun sekitar 10,3 juta orang.

Sejalan dengan hal itu, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memperlihatkan peningkatan angka prevalensi diabetes yang cukup signifikan, yaitu dari 6,9% di 2013 menjadi 8,5% di 2018. Estimasi jumlah penderita di Indonesia mencapai lebih dari 16 juta orang yang kemudian berisiko terkena penyakit lain, seperti serangan jantung, stroke, kebutaan, dan gagal ginjal. Bahkan, dapat menyebabkan kelumpuhan dan kematian.

Diabetes merupakan masalah epidemi global yang bila tidak segera ditangani secara serius akan mengakibatkan peningkatan dampak kerugian ekonomi yang signifikan. Khususnya bagi negara berkembang di kawasan Asia dan Afrika.

Data IDF juga menunjukkan bahwa biaya langsung penanganan diabetes mencapai lebih dari US$727 miliar per tahun atau sekitar 12% dari pembiayaan kesehatan global. Data Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga menunjukkan peningkatan jumlah kasus dan pembiayaan pelayanan diabetes di Indonesia dari 135.322 kasus dengan pembiayaan Rp700,29 miliar di 2014, menjadi 322.820 kasus dengan pembiayaan Rp1,877 triliun di 2017.
 
Upaya efektif untuk mencegah dan mengendalikan diabetes harus difokuskan pada faktor-faktor risiko, disertai dengan pemantauan yang teratur dan berkelanjutan dari perkembangannya karena faktor risiko umum PTM di Indonesia relatif masih tinggi, yaitu 33,5% tidak melakukan aktivitas fisik, 95% tidak mengonsumsi buah dan sayuran, dan 33,8% populasi usia di atas 15 tahun merupakan perokok berat.

Oleh karena itu, perubahan gaya hidup harus dimasukkan dalam intervensi awal untuk komunitas berisiko.

Indonesia berkomitmen untuk mencegah dan mengendalikan diabetes melalui pemberdayaan masyarakat. Sebagai bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM), pemerintah Indonesia telah membentuk pos pembinaan terpadu (Posbindu) PTM sebagai upaya terdepan pencegahan dan pengendalian PTM.

Pencegahan dan pengendalian diabetes jelas membutuhkan perhatian semua orang dan juga kebijakan nasional dengan pendekatan revolusioner. Penyelesaian masalah diabetes terkait dengan perubahan perilaku dan membangun sinergi positif ntarkementerian/lembaga untuk menumbuhkan iklim yang kondusif, pada aspek pencegahan dan perubahan perilaku pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat, serta institusi seperti tempat kerja.

Tiga hal utama perlu dilakukan. Pertama, perubahan perilaku yang terkait dengan makanan sehat dan berimbang, aktivitas fisik, serta menghindarkan diri dari rokok dan alkohol. Kedua, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Ketiga, perbaikan tata laksana penanganan penderita dengan memperkuat pelayanan kesehatan primer, akan menjadi prioritas dalam beberapa tahun ke depan.

Kekuatan prevention, prevention and prevention dapat dimulai dari pendekatan penguatan pelayanan kesehatan di tingkat primer untuk mencegah dan mengendalikan diabetes. Pendekatan ini terbukti efektif untuk menurunkan faktor risiko PTM. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya PTM dan dengan menyiapkan lingkungan yang sehat bagi masyarakat. Dengan kata lain, masyarakat harus bisa menjadi lebih pintar untuk memilih apa yang perlu mereka konsumsi untuk mencegah diabetes.

Untuk itu, Indonesia juga menekankan pentingnya food labelling untuk peringatan kepada masyarakat mengenai makanan dan minuman yang tidak sehat (terlalu banyak mengandung gula, garam, dan lemak). Saat ini Indonesia telah mengeluarkan peraturan untuk industri makanan/minuman kemasan dan siap saji untuk mencantumkan kandungan gula, garam, dan lemak dalam makanan olahan.

Penting juga untuk memastikan ketersediaan lebih banyak pilihan dalam makanan sehat dan minuman di pasar. Hal ini untuk mendukung orang-orang mengalihkan konsumsi mereka dari pengolahan makanan dan minuman ringan ke makanan rumah tangga dan minuman sehat.

Inovasi-inovasi dalam pencegahan dan pengendalian serta pengobatan diabetes juga dinilai sangat penting dilakukan. Inovasi itu di antaranya Pentingnya diabetes registry, penggunaan aplikasi pada telepon seluler untuk pencegahan risiko dan kontrol, serta peringatan otomatis secara reguler untuk olahraga pada area publik (bandara, stasiun, pasar, supermarket).

Inovasi juga perlu dilakukan pada aspek pembiayaan, antara lain yang dikembangkan Spanyol dan Italia dalam model pelayanan kesehatan dan integrasi pelayanan kesehatan PTM oleh Belanda, Perancis, Jerman, dan Inggris.
Selain itu, dibahas perlunya pengkajian lebih lanjut dalam rekayasa genetika untuk mengurangi penderita diabetes tipe 1.

Untuk mencapai keberhasilan upaya pencegahan dan pengendalian diabetes, diperlukan kerja sama pemangku kepentingan lain di luar sektor kesehatan, baik lintas sektoral di tingkat nasional, kerja sama kawasan (regional), maupun secara global.

Seperti yang sering terjadi di banyak negara, memang bukan tugas yang mudah untuk berkolaborasi. Akan tetapi, perlu berkolaborasi dengan kementerian/lembaga lain (Kemenko PMK, Bappenas, Kemenkeu, Kemenaker, Kementan, Kemenpora, Kemendikbud, Kemenhub, Kemenperin, Kemendag, dan BPOM) untuk mengarusutamakan masalah kesehatan pada program sektor. Namun, Kemenkes terus memberikan upaya terbaik untuk mendukung pencegahan dan pengendalian diabetes.

 

BERITA TERKAIT