Usus Sehat, Daya Tahan Anak Prima


Penulis: (*/H-2) - 09 January 2019, 11:20 WIB
dok.mi/seno
dok.mi/seno

ANAK sakit tentu bikin orangtua sedih dan risau. Apalagi, jika frekuensinya terbilang sering. Misalnya, setelah kena hujan, sakit. Sehabis bepergian, sakit, atau misalnya tiap ada teman sekolahnya yang sakit batuk pilek, anak ikut tertular.

Menurut dokter spesialis anak dr Ariani Dewi Widodo SpA(K), kondisi yang demikian menandakan daya tahan tubuh anak lemah. Apa yang harus dilakukan untuk memperkuat daya tahan tubuh?

"Salah satu yang utama ialah menyehatkan sistem pencernaan anak," ujar Ariani pada Workshop Nestle Lactogrow Grow Happy, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Seperti yang dikatakan Bapak Kedokteran, Hippocrates, pada zaman Yunani kuno, bahwa datangnya penyakit-penyakit bersumber dari pencernaan. Berbagai penelitian terkini juga membuktikan bahwa kondisi sistem pencernaan turut menentukan daya tahan tubuh.

"Usus merupakan organ imunitas terbesar. Sebanyak 60%-70% sel imunitas ada di usus," kata Ariani.

Salah satu faktor yang menentukan kesehatan saluran pencernaan ialah keberadaan dan komposisi lebih dari 100 triliun bakteri di usus. Saluran cerna dikatakan sehat bila minimal 85% bakteri di usus merupakan bakteri baik (probiotik). Porsi bakteri jahat (patogen) idealnya hanya 15%.

Beberapa bakteri baik itu misalnya jenis bifidobacterium dan lactobacillus. Bakteri baik berperan meningkatkan sistem imun, membantu metabolisme tubuh, juga memproduksi sejumlah zat yang bahkan tidak bisa diproduksi tubuh, seperti beberapa vitamin.

"Jadi, penting sekali menjaga keseimbangan komposisi bakteri dalam usus tetap ideal. Jangan sampai justru lebih banyak bakteri jahatnya daripada bakteri baiknya," pesan Ariani.

Bagaimana cara menjaga dominasi bakteri baik di usus? Menurut Ariani, caranya ialah menerapkan gaya hidup sehat. Termasuk, menghindari konsumsi junk food, menjauhi polusi udara, minum air yang bebas dari zat-zat beracun, mengelola stres, serta meminimalkan penggunaan antibiotik jika memungkinkan.

Selain itu, konsumsi makanan sesuai konsep gizi seimbang juga sangat penting, termasuk makan sayur dan buah. "Sayur dan buah berperan penting dalam menjaga saluran cerna. Tapi untuk anak porsinya perlu diatur, terutama sayur, karena kalorinya hampir nol, sedangkan anak membutuhkan asupan kalori cukup untuk tumbuh kembangnya. Perlu diingat juga, konsumsi sayur dan buah tidak bisa digantikan suplemen yang mengklaim terbuat dari sayur dan buah," terang Ariani.

Kebersamaan berkualitas

Pada kesempatan sama, psikolog Elizabeth T Santosa mengingatkan pentingnya orangtua terlibat secara berkualitas dalam aktivitas bersama anak. Sayangnya, penelitian yang dilakukan tim dokter dan psikolog Nestle Lactogrow pada awal 2018 di enam kota di Indonesia menghasilkan temuan yang cukup mengejutkan.

Dari hasil wawancara dengan responden orangtua yang memiliki anak berusia 2-6 tahun, hanya 48% yang menemani anak menonton TV dan turut terlibat mamahami karakter, plot cerita, dan nilai dalam tontonan tersebut. Adapun 32% orangtua, bahkan tidak pernah atau jarang menemani saat anak menonton TV. Sisanya 21% orangtua mengaku menemani anak, tetapi tidak paham mengenai tontonan tersebut.

"Dengan kata lain, orangtua sering kali bersama anaknya, tetapi kurang terlibat dalam beraktivitas bersama anak," ujar Elizabeth.

Padahal, lanjutnya, penelitian menyebutkan orang dewasa menyisakan memori tentang rasa nyaman di masa kanak-kanak dan perasaan dicintai orangtua melalui kegiatan yang dihabiskan bersama orangtua. "Jadi, bagaimana agar orangtua lebih terlibat dalam pengasuhan anak? Pertama, jangan fokus pada jenis aktivitas, tetapi waktu kebersamaan. Kedua, harus ada interaksi, tanya jawab, dan komentar saat anak bermain. Tidak ada distraksi. Eye to eye contact, dan buat anak merasa dirinya paling penting," saran Elizabeth.

BERITA TERKAIT