Titik Kumpul Kemanusiaan demi SDGs 2019


Penulis: Djoko Santoso Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga - 05 January 2019, 02:10 WIB
MI/Tiyok
MI/Tiyok

MENGAWALI 2019, kita memasuki tahun kelima pelaksanaan prog­ram Sustainable Deve­lop­ment Goals (SDGs). Sederet target baru perlu dicapai, berikut sisa beban yang belum terselesaikan, terutama problem pengentasan rakyat dari kemiskinan dan kesehatan.

SDGs ialah proyek kemanusiaan, memihak kemakmuran dalam skala global. Pencapaian SDGs membutuhkan partisipasi dari semua pemangku kepentingan. Sejauh ini, angka capaian SDG untuk pengentasan rakyat dari kemiskinan menunjukkan tren membaik.

Namun, masih banyak yang perlu dikejar, mengingat Indonesia masih menempati urutan ke-99 dari 156 negara dalam capaian SDGs (SDG Index and Dashboard Report, 2018). Masih ada kelompok masyarakat yang terancam tidak bisa cukup makan setiap hari dan masih banyak perempuan meninggal saat melahirkan. Penanganan problem kemiskinan dan kesehatan diyakini masih bersifat parsial serta belum menyentuh akar penyebabnya.

Saat ini pemerintah menyatakan telah mencapai beberapa target SDGs, terutama dalam pemberantasan kemiskinan, akses air bersih, dan layanan kesehatan. Dalam pemberantasan kemiskinan, rasio populasi yang memiliki pendapatan kurang dari US$ 1,90 semakin menurun dengan tren yang semakin baik (SDGs Index and Dashboard Report, 2018).

Pemerintah berhasil menurunkan angka kemiskinan hingga satu digit, hingga mencapai 9,8% pada 2018, meskipun ini masih sangat besar angkanya secara kuantitatif mengingat besarnya jumlah penduduk Indonesia.

Target pemenuhan air bersih telah mencapai angka 76,44%. Target layanan kesehatan telah dicapai dengan bentuk jaminan kesehatan nasional yang tingkat kepesertaan mencapai 77,8%. Kedua angka capaian terakhir tersebut diharapkan akan mencapai 100% pada tahun ini (Ariesta, 2018); target yang cukup ambisius dan berat.

Secara khusus, angka capaian SDGs yang terkait dengan bidang kesehatan (SDG3–good health and well being) telah mengalami banyak perkembangan. Beberapa indeks yang mengalami tren positif, antara lain laju kematian maternal (ibu), laju kematian neonatal (bayi), dan laju kematian balita. Angka capaian masih belum baik, tetapi arahnya menuju perbaikan. Prevalensi HIV masih dalam batas terkendali, tetapi tren nya belum membaik.

Beberapa indeks masih perlu banyak upaya. Insiden tuberkulosis masih memiliki angka buruk dan belum ada tren membaik. Kematian akibat kecelakaan lalu lintas memiliki angka sedang, tetapi memiliki tren meningkat. Secara umum, kesejahteraan secara subjektif (subjective well-being) masih memiliki angka sedang, tetapi cenderung menurun (SDGs Index and Dashboard Report, 2018).


Fokus turunkan angka kemiskinan

Banyak pihak yang gampang iba dan merasa terpanggil untuk ikut memberantas kemiskinan. Namun yang lebih penting, bagaimana strategi jitu menurunkan angka kemiskinan bisa dijabarkan secara mendalam. Sejak dari perencanaan di Bappenas, terkonsolidasi dalam program dari pusat hingga ke daerah dalam bingkai pembiayaan APBN hingga APBD.

Dengan demikian, strategi pengentasan rakyat dari kemiskinan akan terintegrasi dan nyambung dari program pemerintah pusat hingga ke program yang dilaksanakan pemerintah desa.  

Saat ini, sekitar 10% masyarakat kita terpaksa bertahan hidup dengan pendapatan kurang dari US$ 1,25 (sekitar Rp18 ribu) sehari (Kementerian PPN/ Bappenas, 2017). Susah untuk  membayangkan, apa yang bisa dibelanjakan dengan pendapatan hanya segitu? Jelas, mereka ini warga yang menderita kelaparan. Akibat dari kemiskinan dan malnutrisi ini, mereka sangat rentan terserang sakit hingga risiko meninggal dunia. Hanya karena ketidakmampuan membiayai kebutuhan makan bergizi, mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang sehat, dan minimnya fasilitas pengobatan.

Misalnya, ada dua warga yang sama-sama berpenghasilan Rp18 ribu/hari. Yang satu hidup di kampung nelayan kumuh, kotor, air tergenang, tanpa MCK, dan banyak nyamuk. Yang satunya tinggal di kampung di kota yang bersih, hijau, sehat, dan dekat dengan Puskesmas. Pasti kualitas kehidupannya akan berbeda.

Karenanya, selain masalah kemiskinan individual, ada juga kemiskinan komunal atau lingkungan. Keduanya sama-sama memerlukan perhatian dan penanganan yang ekstra.

Kemiskinan ialah akar dari banyak masalah sosial, termasuk konflik sosial. Kare­nanya, mari satukan tangan untuk menurunkan angka kemiskinan. Tentu saja, lewat strategi yang jitu, program yang tepat, terencana, dan terintegrasi dengan baik.  


Redam ego, tiru keberhasilan

Karena itu, sudah semestinya kita bisa mencegah dan menghindari konflik sosial sejak dini, di antaranya dengan menangani secara serius pengentasan rakyat dari kemiskinan. Kita bisa sejak dini berinvestasi dalam kehidupan warga miskin, dengan menjadi mitra dan penolongnya, bukan malah mengeksploitasinya.

Di level makro, di ranah kebijakan, pemerintah terus mengejar pertumbuhan ekonomi dan pemerataan, menurunkan angka kemiskinan, meningkatkan kualitas kesehatan, dan pendidikan warganya. Karenanya, dalam pencapaian target SDGs, negara harus tak pelit berinvestasi pada tiga hal penting yang menunjang kualitas SDM, yaitu pangan, kesehatan, dan pendidikan.

Porsi belanja APBN-APBD harus diarahkan untuk menunjang pe­nguatan kualitas SDM seperti disebutkan di atas. Setiap rupiah yang dibelanjakan haruslah bisa makin memperkuat otot dan otak anak bangsa.

Intinya, dengan menyingkirkan egoisme jenis apa pun, kita punya kekuatan transenden dalam menyerap semangat yang terus mekar. Demi mengentas mereka yang ter­tinggal dan mendorong yang ingin maju. Dengan demikian, kita melangkah relatif lebih ringan dalam memenuhi semua target SDGs; demi kemanusiaan yang adil dan beradab. Selamat tahun baru!

 

BERITA TERKAIT