Mengungsi Karena Takut Tsunami, Rumah Malah Terendam Banjir


Penulis: ¬†Ferdian Ananda Majni - 01 January 2019, 23:00 WIB
MI/ Ferdian Ananda Majni
MI/ Ferdian Ananda Majni

TSUNAMI usai banjir pun hadir. Itu jadi gambaran kondisi warga yang menetap di Komplek Perumahan Ciputen Agung, Desa Teluk dan Kampung Kadugareng, Desa Sukaramai, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten.

Sugeng, hanya bisa menatap nanar ke arah rumahnya. Dia berdiri tepat di tanggul sepanjang sungai Cipunten. Keberadaan tembok itu seakan tak berfungsi lagi. Bahkan dalam sepekan banjir mampu melewati tembok tersebut.

Warga Kampung Kadugareng, Desa Sukaramai, Kecamatan Labuan, Pandeglang, Banten ini tak menyangka, rumahnya tengelam diterjang banjir pada Senin (31/12/2018) malam.

"Saya baru balik ke rumah tadi pagi. Kami sekeluarga mengungsi karena takut tsunami," tutur Sugeng mengawali ceritanya.

Bersama isteri dan dua anaknya, Sugeng mengungsi ke kediaman keluarganya di Pandeglang. Sehingga bekal yang dibawakan juga terbatas.

"Kami hanya bawa pakaian seperlunya saja," lanjutnya.

Sugeng tak menyangka hujan yang mengguyur Labuan mengakibatkan banjir parah mencapai 4 meter. Pasalnya, banjir yang terjadi beberapa hari lalu hanya sekitar 1 meter.

"Saya tidak tahu banjir separah ini, karena beberapa hari lalu hanya sekitar 1 meter," paparnya perlahan.

Sugeng tak mampu menahan kesedihannya. Banjir yang terjadi pukul 22.00 WIB itu telah merendam seluruh harta bendanya. Tidak hanya perabotan rumah tangga, peralatan elektronik turut rusak tengelam bersama rumah yang selama ini ditinggali bersama keluarga. 

Nasib yang sama juga dirasakan Kurdi, warga kampung Kadukareng, Desa Sukaramai. Dia mengaku panik ketika mendengar arus banjir yang begitu deras memasuki permukiman.

"Saya panik, saya kira tsunami lagi," sebutnya.

Kurdi trauma dengan gelombang besar dan tsunami. Malam itu, padahal warga diingatkan untuk mengungsi akibat banjir, namun ia memilih meninggalkan rumah tanpa membawa barang apapun.

"Biasanya kalau pindah mengungsi cuma bawa pakaian, enggak pernah bawa perabotan atau lain-lain," jelasnya.

Keesokan paginya, Kurdi terperangah mendapatkan kondisi dalam rumahnya yang acak-acakan. Barang-barang yang telah disusun rapi di ketinggian, berantakan disapu arus banjir yang kuat. Bahkan beberapa perabotan rumah hilang terbawa banjir.

"Semalam pas meninggalkan rumah, saya sudah memindahkan barang-barang ke atas. Enggak tahunya banjir bisa setinggi ini," ungkap Kurdi seraya mengangkat tangan di atas kepala.

Bukan cuma mereka berdua saya yang mengalami kepedihan, Media Indonesia menemui sejumlah warga yang mengaku mengalami nasib serupa. Di tengah kewaspadaan meletusnya gunung Anak Krakatau yang mengakibatkan tsunami, mereka kembali harus bersiaga dengan luapan sungai yang sewaktu-waktu menerjang pemukiman.

Haris, warga Komplek Perumahan Ciputen Agung di Desa Teluk, Kecamatan Labuan, Pandeglang, mengaku selama 25 tahun tinggal di sana baru kali ini merasakan banjir yang cukup parah.

"Dulu memang tinggal dekat sungai, kalau hujan deras banjir cuma sedikit, tapi semakin lama semakin tinggi," sebutnya.

Haris mengatakan, pindah ke Kompleks Perumahan Ciputen Agung agar terhindar banjir. Namun, dia tak menyangka ketinggian perumahan itu kini bisa terjangkau banjir.

"Ini sudah banjir ketiga dalam pekan ini, belum ada solusi dari pemerintah," keluhnya.

Haris tak menepis, jika banjir yang melanda kawasan itu diawali intensitas hujan yang tinggi. Namun, faktor tidak berfungsi aliran sungai Ciputen menjadi permasalahan utama.

"Dulu di kawasan Teluk dan Sukaramai tidak semua terendam banjir, tapi ini bom waktu hingga semua permukiman terendam," ujarnya.

Haris meminta segera melakukan normalisasi sungai yang berada di Kecamatan Labuan. Pasalnya, permasalahan banjir tidak akan selesai jika sungai-sungai itu masih dangkal.

"Itu kapal yang hancur juga belum dibersihkan. Apalagi sungai dangkal ditambah tumpukan sampah dan bangkai kapal, jadinya aliran sungai terhambat. Pemerintah juga harus menertibkan bangunan-bangunan yang ada di pinggir sungai," tegas Harin. (O-2)

BERITA TERKAIT