Usia 50 Tahun, Saatnya Screening Kanker Kolorektal


Penulis: (Nik/H-3) - 02 January 2019, 03:30 WIB
DOK BETHSAIDA HOSPITALS
DOK BETHSAIDA HOSPITALS

KANKER usus besar (kolorektal) merupakan kanker ketiga tersering di Indonesia. Seperti kanker pada umumnya, kanker kolorektal umumnya tidak menunjukkan gejala mengganggu di awal kemunculannya.

Hal itu sering kali membuat penderita kanker kolorektal baru datang ke dokter ketika sudah stadium lanjut. Padahal, jika kanker ditangani pada stadium dini, kanker itu bisa disembuhkan dengan tuntas dengan biaya lebih murah.  

"Untuk itu, sangat disarankan untuk melakukan pemeriksaan screening untuk mendeteksi dini kanker kolorektal," ujar dokter konsultan bedah digestif dari Bethsaida Hospitals Digestive center, dr Eko Priatno SpB-KBD, pada diskusi kesehatan di Bethsaida Hospitals, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, screening kanker kolorektal dianjurkan untuk dimulai ketika usia mencapai 50 tahun. Namun, pada mereka yang memiliki riwayat keluarga menderita kanker, screening perlu dimulai sejak usia 40 tahun.

Screening, terang Eko, dilakukan dengan pemeriksaan darah samar setiap tahun. Pemeriksaan laboratorium itu bertujuan memastikan ada tidaknya darah dalam feses sebab feses berdarah merupakan salah satu gejala kanker kolorektal. Namun, darah tersebut belum tentu kasat mata sehingga diperlukan pemeriksaan darah samar untuk memastikannya.

Pemeriksaan darah samar perlu dikombinasikan dengan pemeriksaan sigmoidoskopi fleksibel setiap lima tahun sekali serta kolonoskopi setiap 10 tahun.

Kedua pemeriksaan itu dilakukan dengan peralatan endoskopi untuk meneropong atau melihat kondisi usus besar. Bedanya, sigmoidoskopi dilakukan sebatas usus besar bagian bawah (dekat anus), sedangkan kolonoskopi dilakukan menyeluruh pada seluruh bagian usus besar.

"Dengan sigmoidoskopi dan kolonoskopi, dokter bisa melihat jika ada kelainan-kelainan pada usus besar, termasuk jika ada polip (benjolan kecil seperti kutil) pada dinding usus. Adanya polip merupakan faktor risiko kanker usus besar. Jika ditemukan, dokter bisa langsung membuang polip tersebut sehingga tidak sampai berkembang menjadi kanker," papar Eko.

Laparoskopi
Pada tahap yang lebih lanjut, kanker usus besar akan menimbulkan sejumlah gejala, seperti diare berkepanjangan atau tekstur feses berubah menjadi kecil-kecil, seperti pensil dan ada rasa tak lampias setelah buang air besar (BAB).

Gejala lain ialah BAB berdarah yang tak jarang dikira wasir. Kemudian, perut buncit, kembung, tidak bisa BAB maupun kentut karena kanker yang menyumbat usus, serta muntah, dan nyeri perut. Juga berat badan menurun.

"Jika mengalami gejala tersebut, jangan tunda-tunda segera periksakan ke dokter," saran Eko.

Soal penanganan, kanker usus besar diterapi dengan operasi radioterapi dan kemoterapi. Dokterlah yang akan menentukan pilihan dan kombinasi terapi itu, disesuaikan dengan kondisi kankernya.

Terkait dengan langkah operasi, Eko menjelaskan saat ini bisa dilakukan dengan laparoskopi atau teknik operasi lubang kunci. Disebut demikian karena operasinya tidak memerlukan pembedahan lebar. Cukup dengan lubang-lubang kecil. Melalui lubang itu dokter akan memasukkan peralatan operasi laparoskopi dan memotong jaringan kanker.

"Dengan laparoskopi, masa pemulihan pasien jauh lebih singkat, nyeri pun minimal," katanya.

Selain teknik laparoskopi, sambung Eko, Bethsaida Hospitals Digestive Center juga bisa melakukan teknik operasi intersphincteric resection yang bisa mempertahankan keberadaan anus meski kanker terletak dekat anus. Dengan demikian, nantinya, pasien tetap bisa BAB melalui anus, tidak perlu memakai kolostomi atau lubang pembuangan feses buatan di perut. (Nik/H-3)

 

BERITA TERKAIT