Tanya Marlo, Chatbot HIV/AIDS Pertama di Dunia


Penulis:  (*/M-2) - 29 December 2018, 08:30 WIB
DOK. INSTAGRAM/TANYA.MARLO
DOK. INSTAGRAM/TANYA.MARLO

STIGMA yang masih beredar di masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) rupanya menjadi salah satu hambatan penanganan HIV/AIDS di Indonesia. Lantaran stigma tersebut, banyak ODHA enggan mencari penanganan kesehatan yang baik.

Kondisi tersebut menjadi landasan bagi UNAIDS Indonesia bersama Nimbly Technologies dan Botika meluncurkan chatbot mengenai HIV/AIDS pertama di dunia bernama Tanya Marlo.

Tanya Marlo merupakan sebuah platform chat mobile yang terintegrasi dengan aplikasi Line, menggunakan karakter Marlo dengan sosok laki-laki yang kasual dan berkacamata. Line dipilih karena jumlah penggunanya yang mencapai sekitar 90 juta, dengan 80%-nya ialah remaja.

"Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi digital, kami ingin berinteraksi melalui cara-cara baru dengan generasi muda yang mungkin belum terjangkau dengan informasi mengenai HIV dan AIDS," tutur UNAIDS Indonesia Country Director, Krittayawan (Tina) Boonto, saat jumpa pers di Jakarta, Selasa (18/12).

Tanya Marlo menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) dengan machine learning dan natural language process (NLP) berbahasa Indonesia. Percakapan pada Tanya Marlo terintegrasi dengan machine learning. Dengan begitu, tidak hanya keyword yang bisa dikenali, tapi juga bentuk-bentuk kalimat pada percakapan chatbot itu.

Tidak sukar mengakses chatbot Marlo. Melalui aplikasi Line, pengguna tinggal menambahkan akun @Tanyamarlo dalam daftar teman.

Ada 4 fitur pada akun tersebut. Pertama, Info HIV, berupa fitur yang menyediakan informasi seputar HIV/AIDS. "Informasi berasal dari riset dan jurnal ilmiah berbahasa Inggris yang kami terjemahkan ke bahasa Indonesia," tambah Co-Founder dan CMO Nimbly Technologies, David Webb.

Fitur lainnya ialah kuis interaktif soal pemahaman akan HIV/AIDS, dan juga fitur konsultasi. Fitur konsultasi memberikan akses pada pengguna kepada konselor yang tepercaya. Kerahasiaan pengguna pun akan dijaga. "Salah satu faktor ODHA tak mau periksa ialah takut dan malu. Maka di Tanya Marlo ini setiap percakapan sifatnya rahasia sehingga diharapkan pengguna bisa dipaparkan dengan informasi yang mendukung," ujar Tina.

Fitur keempat ialah tes HIV. Tanya Marlo akan menginformasikan klinik-klinik yang menyediakan jasa tes HIV. Pengguna yang ingin tes HIV di Jakarta pun bisa membuat janji secara online melalui Tanya Marlo.

Lebih lanjut, chatbot tersebut tidak akan dilepas sendiri dalam mempelajari kebutuhan pengguna, tapi tetap disupervisi Nimbly dan Botika agar setiap pertanyaan dan respons yang diberikan sesuai dengan konteks dan kebutuhan pengguna.

Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI, di Indonesia kini diperkirakan ada sekitar 640 ribu orang yang hidup dengan HIV. Sementara itu, ditaksir baru 48% ODHA mengetahui status HIV mereka. Adapun jumlah infeksi baru HIV tertinggi ialah di kalangan anak muda usia 15-24 tahun, mencapai 52% dari total infeksi HIV baru.

BERITA TERKAIT