Yang Wafat Sepanjang 2018


Penulis:  Rizky Noor Alam - 29 December 2018, 08:15 WIB
dok.yahoo
dok.yahoo

Nama besar perusahaan tidak dapat menjamin produknya dapat bertahan di pasaran.

PERKEMBANGAN dunia teknologi informatika memang begitu dahsyat, selain mempermudah kehidupan umat manusia, nilai ekonomi yang dihasilkan pun mulai diperhitungkan. Meskipun gegap gempita seakan tak terbendung dalam melahirkan inovasi ke tengah-tengah masyarakat, produk yang dihasilkan tidak selamanya sukses. Bahkan, produk teknologi berupa aplikasi besutan para raksasa teknologi seperti Google dan Yahoo pun tak luput dari 'seleksi alam' di dunia teknologi informatika sepanjang 2018.

Nah, apa saja aplikasi maupun perangkat teknologi yang mati tahun ini? Berikut penelusuran Media Indonesia.

Yahoo! Messenger

Sebelum Google merajai dunia teknologi, Yahoo! bisa dibilang menjadi pilihan utama masyarakat dalam berinternet, selain memiliki fungsi mesin pencarian, layanan e-mail-nya pun terbilang populer dan paling banyak digunakan pada masanya.

Berbekal kesuksesan tersebut, Yahoo pun menelurkan layanan berkirim pesan yang lebih simpel jika dibandingkan dengan e-mail karena menyajikan percakapan layaknya chatting, yaitu Yahoo! Messenger alias YM. Layanan pesan instan yang dirilis perdana pada 9 Maret 1998 tersebut menawarkan berbagai fasilitas koneksi, seperti PC to PC, PC to phone, dan PC to PC service, file transfer, webcam hosting, text message service, dan chat rooms. Sayangnya, YM! kemudian kalah bersaing dengan aplikasi pesan instan yang belakangan banyak muncul dan lebih mobile friendly sehingga terpaksa ditutup Yahoo! pada 17 Juli 2018.

Path

Path, media sosial yang sempat digandrungi masyarakat, termasuk di Indonesia tersebut, bisa dibilang usianya masih muda ketimbang YM! yang sudah berusia 20 tahun. Saat ditutup, Path baru berusia 8 tahun. Diluncurkan pada November 2010, Path disuntik mati pada Oktober 2018. Aplikasi tersebut sebenarnya memiliki fitur-fitur menarik, seperti jumlah pertemanan yang terbatas sehingga terkesan eksklusif, notifikasi visit jika ada teman yang stalking profil pengguna lainnya, unggahan aktivitas pribadi harian seperti musik yang sedang didengar, notifikasi tidur, maupun bangun tidur, serta stiker-stiker ikonik. Menjelang penutupan aplikasi yang sahamnya dimiliki Grup Bakrie itu, tagar #goodbyepath dan #terimakasihpath sempat meramaikan lini masa platform media sosial lainnya, seperti Twitter dan Instagram.

Google+

Tidak hanya Yahoo! yang merasakan pahitnya persaingan industri teknologi informatika. Pesaingnya, Google, pun merasakan hal yang sama. Sebagai perusahaan IT raksasa, tidak semua layanan yang ditelurkan Google menuai nasib baik di masyarakat, Google+ sebuah media sosial besutan Google pun direncanakan akan tutup pada April 2019. Layanan yang dirilis pertama kali pada 28 Juni 2011 sebenarnya memiliki jumlah pengguna aktif yang cukup banyak sekitar 111 juta pengguna di seluruh dunia. Namun, akibat skandal bocornya data 500 ribu penggunanya dalam kurun waktu 2015-2018 pada Oktober 2018, membuat Google berencana menutup layanannya tersebut sebagai respons atas skandal itu.

ASIMO

ASIMO merupakan robot humanoid buatan Honda yang dikenalkan ke publik pada 2000. Honda sebenarnya mulai mengembangkan robot humanoid tersebut sejak 1980. Nama ASIMO merupakan singkatan dari Advanced Step in Innovative Mobility atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia memiliki arti langkah besar dalam pergerakan yang inovatif.

Robot dengan tinggi 130 sentimeter dan berat 54 kilogram tersebut ditenagai baterai 51.8 V lithium-ion yang dapat diisi ulang dengan daya tahan 1 jam sekali isi. Kemampuan yang dimilikinya sangat maju dalam industri robot, seperti mengenali objek yang bergerak, postur, gestur, lingkungan sekitarnya, suara, wajah yang mana semuanya dapat mendukungnya untuk berinteraksi dengan manusia.

Walakin, Honda memilih untuk memensiunkan ASIMO sebab perusahaan asal Jepang tersebut memilih untuk fokus mengembangkan robot-robot yang lebih praktis dan bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Karma

Anda tentunya sudah familier dengan action camera GoPro. Untuk melengkapi produk kameranya, GoPro telah merilis drone yang diberi nama Karma, pada 2016.

Akan tetapi, popularitas Karma ternyata kalah jika dibandingkan dengan dengan drone-drone lain yang dirilis saingannya DJI, sebuah perusahaan teknologi yang fokus menjual perangkat udara tanpa awak seperti drone asal Shenzhen, Tiongkok. Hal tersebutlah yang mungkin menurut para pihak membuat GoPro angkat tangan dalam peta persaingan drone yang didominasi DJI sejak awal 2018.

BERITA TERKAIT