Agar tak Tercipta Orang Miskin Baru akibat Kecelakaan Kerja


Penulis: Liliek Dharmawan - 28 December 2018, 12:15 WIB
Humas BPJS Ketenagakerjaan Purwokerto/ANTARA
Humas BPJS Ketenagakerjaan Purwokerto/ANTARA

SENJAKALA, tetapi langit tidak memerah karena tertutup awan pada Rabu (26/12). Suasana itu menjadi saksi adanya kabar duka yang datang dari Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, Banyumas, Jawa Tengah (Jateng). 

Seorang lelaki bernama Daiman, 28, yang bekerja sebagai penderes jatuh dari pohon kelapa setinggi 20 meter. Ia menjadi korban meninggal yang ke-27 pada tahun 2018. Setahun ini sudah ada 97 kali penderes mengalami kecelakaan. Kalau dirata-rata 3-4 hari sekali ada yang terjatuh.

Narasi duka penderes yang terjatuh dari pohon kelapa seperti menjadi cerita sehari-hari di sejumlah kecamatan sentra penghasil gula merah maupun gula semut seperti Cilongok dan Pekuncen. 

Nasib itulah yang dialami oleh Salimin, 58, warga Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok. Pada 1987 atau ketika dia berusia 37 tahun, ia terjatuh dari pohon kelapa. Salimin masih beruntung, karena tidak meninggal. Namun, kedua tulang kakinya bengkok, sehingga tidak normal sampai sekarang. Ia harus memakai tongkat kalau jalan. 

"Saya terjatuh dalam kondisi duduk. Jadinya tulang telapak kaki dan tulang betis bermasalah. Kaki menjadi cacat. Saya memang tidak ke rumah sakit (RS) waktu itu, karena tidak memiliki biaya. Hanya diperiksa oleh mantri kesehatan desa," ungkap Salimin yang ditemui Media Indonesia pada Kamis (27/12).

Setelah jatuh, praktis selama 1,5 tahun tidak bisa apa-apa, sehingga istrinya harus banting tulang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bahkan, ia harus rela menjual kembali rumah yang baru saja dibelinya. Waktu itu, belum ada asuransi untuk para penderes.

"Saya menjual rumah untuk berobat maupun biaya hidup sehari-hari. Karena hidup semakin terjepit, pada tahun 1989, saya berusaha bangkit. Kebetulan ada tetangga yang memberikan pekerjaan membuat kotak telur dari papan kayu. Sebab tak mungkin lagi memanjat pohon. Ternyata cocok, sampai sekarang ini. Meski pendapatannya hanya Rp20 ribu per hari," kata dia.

Baca juga: Desa Terkucil yang Bermetamorfosis Jadi Destinasi Wisata 'Gokil'

Risiko tinggi para penderes itu, membuat Pemkab Banyumas membuat kartu penderes. Kartu tersebut akan berfungsi untuk mencairkan tali asih kalau jatuh dari pohon kelapa. 

"Pemkab mempedulikan nasib para penderes, sehingga mengalokasikan anggaran untuk memberikan tali asih bagi mereka yang mengalami kecelakaan. Penderes punya risiko tinggi. Sebab setiap hari harus mengambil air nira di puncak pohon kelapa," ungkap Kepala Subbagian Sosial dan Kesehatan Sekretariat Daerah (Setda) Banyumas Tasroh.

Tasroh menjelaskan tali asih untuk warga yang meninggal akibat jatuh dari pohon kelapa senilai Rp5 juta, sedangkan cacat tubuh mencapai Rp10 juta. Tahun 2017 lalu, Pemkab mengalokasikan anggaran senilai Rp1,2 miliar. Ketika itu, selama setahun ada kasus jatuh dari pohon kelapa sebanyak 139 orang, 22 di antaranya meninggal. 

Pada tahun ini, alokasi anggaran Rp1,3 miliar dengan jumlah 97 kasus kecelakaan, 27 di antaranya meninggal dunia. Alokasi anggaran masuk dalam bantuan sosial (bansos) pada APBD Kabupaten Banyumas

Ikut Jaminan Sosial
Nasib nahas karena terjatuh dari pohon kelapa juga menimpa Sakrun, 52, warga Desa Semedo, Kecamatan Pekuncen. Sakrun terjatuh dari pohon kelapa dua tahun lalu. 

Namun, dia sebagai anggota Kelompok Usaha Bersama (Kube) Manggar Jaya di Desa Semedo telah didaftarkan mengikuti BPJS Ketenagakerjaan. 

"Dengan mengikuti asuransi BPJS Ketenagakerjaan, saya mendapat bantuan penuh ketika berobat. Bahkan, selama masa penyembuhan dan tidak dapat bekerja, saya diberi santunan. Waktu itu nilainya sekitar Rp1,2 juta. Benar-benar nyata manfaatnya. Sekarang, saya bisa menderes lagi, naik pohon kelapa mengambil air nira," kata Sakrun.

Ketua Kube Manggar Jaya Akhmad Sobirin mengatakan selain jaminan penuh berobat bagi penderes yang sakit akibat jatuh dari pohon kelapa, BPJS Ketenagakerjaan memberikan santunan cukup besar untuk mereka yang meninggal. 

"Ada anggota kami yang meninggal akibat terjatuh dari pohon kelapa. Untungnya, sudah kami daftarkan di BPJS Ketenagakerjaan, sehingga dicairkan santunan Rp64 juta untuk ahli waris. Meski sudah tahu manfaatnya, tetapi tahun 2018 vakum menjadi anggota BPJS Ketenagakerjaan. Tetapi saya pastikan pada 2019 mendatang, para anggota Kube Manggar Jaya bakal kembali mendaftarkan anggotanya ke BPJS Ketenagakerjaan," tambahnya.

Adanya manfaat menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan juga disadari Inagro Jinawi, perusahaan yang bermitra dengan para petani penderes. Inagro telah mengalokasikan dana CSR untuk mengikutsertakan penderes dampingannya. 

"Kami memang sengaja mengalokasikan dana CSR perusahaan untuk membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan bagi para petani penderes. Alhamdulillah, sudah ada yang merasakan dampaknya. Sejumlah penderes yang terjatuh langsung dibawa ke RS  dirawat sampai sembuh tanpa bayaran. Pengurusannya mudah," ungkap pemilik Inagro Jinawi, Setya Widiastuti.

Secara bertahap, pihaknya mendaftarkan para mitra penderes mulai tahun 2018. Saat sekarang sudah ada 800 penderes dampingan Inagro yang didaftarkan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Nantinya, total penderes yang bakal didaftarkan sebanyak 1.400 orang. 

"Bagi kami, kepesertaan mereka sangat penting. Sebab, pekerjaan penderes memiliki risiko tinggi. Bayangkan setiap harinya mereka memanjat dua kali, pagi dan sore. Mereka 30 pohon yang tingginya mencapai 15-20 meter. Sebagai perusahaan, tentu kami harus peduli terhadap nasib mereka. Salah satunya adalah mengikutsertakan mereka dalam jaminan sosial," katanya.

Baca juga: Menolong Sesama dengan Nasi Kotak Gratis

Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Purwokerto, Ahmad Athobarry, memberikan apresiasi terhadap perusahaan yang mengalokasikan dana CSR untuk membayar iuran para penderes. 

"Apa yang dilakukan Inagro Jinawi patut menjadi contoh bagi perusahaan atau koperasi yang bermitra dengan penderes. Pasalnya penderes yang ikut serta dalam BPJS Ketenagakerjaan, tak bakal menjadi warga miskin baru kalau terjadi kecelakaan. Mengapa? Karena penderes yang mengalami kecelakaan akan mendapat santunan yang layak," kata Athobarry. 

Sebagai contoh, beberapa waktu lalu ada penderes di Pekuncen yang meninggal akibat terjatuh dari pohon kelapa. Ahli warisnya mendapat santunan hingga Rp64 juta.

Penderes yang jatuh dari pohon kelapa cukup banyak, bahkan rata-rata setiap tahunnya bisa menembus angka 100 orang bahkan lebih. Bisa dibayangkan kalau tidak mengikuti jaminan sosial ketenagakerjaan dan hanya mendapatkan santunan dari Pemkab Banyumas dengan nilai Rp5 juta hingga Rp10 juta. Berbeda dengan mengikuti BPJS Ketenagakerjaan yang terjamin pengobatan di RS secara gratis serta adanya santunan kematian yang cukup besar.

"Ini semata-mata untuk menghindarkan terciptanya orang miskin baru, sehingga kami terus melakukan sosialisasi kepada seluruh penderes yang ada di Banyumas. Iurannya sangat murah hanya Rp16.800 per bulan. Saya yakin semua penderes mampu, namun masih terkendala soal kesadaran. Itulah mengapa, kami menggandeng penggerak jaminan sosial nasional (perisai) agar terus mensosialisasikan pentingnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan," jelasnya.

Sebab, khususnya penderes di Banyumas, jumlahnya mencapai 36 ribu lebih. Akan tetapi yang mengikuti BPJS Ketenagakerjaan baru sekitar 2% saja. Oleh karena itu, selain memberikan sosialisasi, pihaknya juga mendorong kepada pemkab untuk mengeluarkan regulasi supaya perusahaan atau koperasi yang bermitra dengan penderes, supaya mengalokasikan dana CSR-nya untuk iuran BPJS Ketenagakerjaan. Agar para penderes tak menjadi warga miskin baru ketika mengalami kecelakaan. (OL-3)
 

BERITA TERKAIT