Terapi Target Lebih Tepat Sasaran


Penulis: Putri Anisa Yuliani - 26 December 2018, 08:15 WIB
Sumber: Tim Riset MI/Grafis: Caksono
Sumber: Tim Riset MI/Grafis: Caksono

TAK ada firasat di pikiran Muhammad Jasin dirinya bakal terkena kanker usus besar dalam waktu hampir bersamaan dengan istrinya, Susi. Pensiunan dosen Universitas Indo­nesia itu menyebut punya gaya hidup yang terbilang sehat dengan menghindari makanan berpenga­wet, rajin makan sayur, daging, serta rutin tenis sekali seminggu.

Namun, tak disangka pada 2012 penyakit itu datang. “Desember enam tahun lalu saya ingat betul sehabis main tenis saya merasakan tidak bisa BAB. Saya sudah meminum obat hingga mendatangi dokter tetapi tidak mempan. Sampai seminggu. Kemudian, saya masuk UGD. Dari situlah diketahui ada penyumbatan karena kanker di usus besar saya,” terangnya dalam diskusi Peran Terapi Target dalam Penatalaksanaan Kanker yang digelar Cancer Information and Support Center di Jakarta, pekan lalu.

Dokter menyatakan kankernya memasuki stadium 1. Ia pun menjalani operasi untuk mengangkat jaringan tumor dan kemoterapi.

Dokter tidak menjelaskan secara gamblang penyebab kanker usus besar itu bisa menimpanya. Namun, Jasin menduga kesukaannya terhadap daging merah menjadi biang keladinya. “Ibu saya penjual daging. Jadi, saya cukup sering makan daging sapi maupun kambing sejak kecil,” katanya.

Adapun istrinya, Susi, meski sama-sama pernah divonis kanker usus besar, gejala yang dialami sangat berbeda. Perempuan berusia 65 tahun itu mengatakan gejalanya seperti penyakit mag, yakni mual. Namun, semakin lama mual itu semakin parah sehingga membuat perutnya kesakitan. “Akhirnya saat saya periksa ke dokter, ketahuan ada kanker stadium 1.”

Ia pun menjalani radiasi dan kemoterapi. Soal penyebab, dokter tak memberi penjelasan. Namun, ia menduga kebiasaannya yang amat gemar makan mi instan menjadi pemicu datangnya penyakit tersebut. “Saya suka makan mi instan pakai cabai rawit dan saus cabai. Bisa beberapa kali dalam sepekan saya makan mi instan,” katanya.

Sesuai kondisi pasien

Kanker kolorektal seperti yang dialami Jasin dan sang istri memang menjadi problem kesehatan besar di Indonesia. Menurut Data WHO, Globocan 2018, kasus kanker kolorektal di Indonesia saat ini menempati urutan keempat setelah kanker payudara, serviks, dan paru dengan jumlah kasus baru mencapai 30.017.

Teknologi pengobatan untuk kanker tersebut terus dikembangkan. Salah satu hasilnya ialah terapi target (targeted therapy). Dokter konsultan hematologi dan onkologi medik, Cosphiadi Irawan, menjelaskan terapi target merupakan pengobatan tepersonalisasi bagi penderita kanker.

Terapi target dilakukan dengan kombinasi sejumlah obat-obatan yang disesuaikan dengan karakteristik kanker pada pasien. Terapi ini lebih tepat sasaran sehingga efek sampingnya kurang jika dibandingkan dengan pengobatan konvensional, seperti kemoterapi, pembedahan, dan radioterapi.

“Banyak yang beranggapan bila terapi target merupakan pengobatan pendamping kemoterapi. Padahal, terapi target merupakan kemajuan pengobatan untuk melengkapi apa yang tidak ditawarkan kemoterapi. Terapi ini meningkatkan kualitas hidup pasien kanker, bahkan dapat memperpanjang harapan hidup pasien,” paparnya.

Pada kesempatan sama, Dokter Spesialis Bedah & Ahli Kanker Saluran Cerna (Digestive) dari RS Kanker Dharmais, Fajar Firsyada, menerangkan terapi target umumnya diterapkan pada pasien kanker stadium lanjut. “Karena ini merupakan personalized therapy. Terapi­nya bisa sangat berbeda meskipun kankernya sama dengan stadium yang sama pula sebab betul-betul disesuaikan dengan karakteristik kanker pasien,” jelasnya.

Ia menambahkan, terapi target juga memberikan manfaat besar pada pasien kanker yang awalnya tidak bisa dioperasi menjadi bisa dioperasi sehingga memberi kemungkinan untuk bisa ditangani dengan lebih baik.

Selain kemajuan dalam pengobatan kanker kolorektal dengan terapi target, lanjutnya, saat ini juga dimungkinkan untuk melakukan pemeriksaan biomarker yang bertujuan untuk melihat apakah seorang pasien bisa mendapatkan manfaat terapi target.

“Pemeriksaan biomarker ini sangat menguntungkan pasien karena dapat menghindarkan dari pemakaian obat yang tidak tepat dan biaya yang tidak perlu, dan paling utama efek, samping yang minimal,” katanya. (H-2)

BERITA TERKAIT