Medical Check Up Memadai Cegah Serangan Jantung


Penulis: Nik/H-3 - 26 December 2018, 05:00 WIB
DOK. BETHSAIDA HOSPITALS
DOK. BETHSAIDA HOSPITALS

SERANGAN jantung sering datang tak terduga. Jika tak segera mendapat pertolongan yang tepat, penderitanya bakal meninggal. Itu sebabnya, hingga saat ini serangan jantung menjadi penyakit penyebab kematian terbanyak di dunia, termasuk di Indonesia.

Sejatinya, serangan penyakit mematikan tersebut bisa diantisipasi, yakni dengan medical check up untuk melihat kondisi pembuluh darah jantung. Namun, perlu diingat, medical check up untuk jantung harus benar-benar dilakukan dengan teliti dan memadai agar hasilnya akurat.

Hal itu disampaikan dokter pakar intervensi jantung dan pembuluh darah (intervention ­cardiologist) dari Bethsaida ­Hospitals, Tangerang, Dasaad ­Mulijono, pada diskusi kesehatan di rumah sakit tersebut beberapa waktu lalu.

“Kadang ada keluarga pasien yang ‘protes’ kenapa anggota keluarganya bisa kena serangan jantung, padahal baru menjalani medical check up dan hasilnya bagus,” ujar Dasaad.
Dalam kasus seperti itu, lanjut Dasaad, perlu dipastikan dulu seperti apa proses medical check up yang telah dilakukan, apakah memadai atau belum.

Ia menjelaskan, serangan jantung terjadi karena adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner yang menyuplai darah ke organ jantung. Pemeriksaan yang baik seharusnya mampu mende­teksi penyempitan-penyempitan pada pembuluh darah jantung oleh timbunan plak.

“Serangan jantung terjadi ketika plak pecah yang kemudian memicu terjadinya pembekuan darah. Pembekuan darah itu sebetulnya untuk menutup ‘luka’ karena pecahnya plak, tapi karena areanya sudah sempit, bekuan darah itu justru menyumbat total aliran darah ke organ jantung.”

Tujuan medical chek up jantung antara lain mendeteksi penyempitan pembuluh darah tersebut untuk kemudian ditangani. Sehingga, terjadinya sumbatan yang memicu serangan jantung bisa dicegah.

Namun, tidak semua alat ­pemeriksaan jantung bisa mendeteksi penyempitan itu secara akurat. Pemeriksaan rontgen, misalnya, hanya bisa mengetahui kelainan pembesaran jantung. Pemeriksaan USG jantung atau ekokardiografi bisa mendeteksi kebocoran katup jantung, tapi tidak bisa mendeteksi penyempitan pembuluh darah koroner.

Bagaimana dengan prosedur tread mill? “Tread mill bisa mendeteksi penyempitan, tapi tingkat kesalahannya 50%,” kata dokter lulusan pendidikan spesialis jantung Australia itu.

Pemeriksaan dengan tingkat keakuratan tinggi ialah CT Scan jantung. Tingkat kesalahannya hanya 5-10%. “Biasanya jika dari hasil CT Scan menunjukkan adanya penyempitan, barulah dilakukan kateterisasi. Kateterisasi merupakan gold standard untuk mendiagnosis penyempitan pembuluh darah jantung dengan kesalahan 0%, sekaligus untuk melakukan tindakan mengatasi penyempitan tersebut.”

Penyempitan sebesar 60%, terang Dasaad, perlu diatasi dengan pemasangan ring/cincin. Adapun untuk penyempitan di bawah 40-50% diatasi dengan obat-obatan dan penerapan gaya hidup sehat.
Semakin canggih

Dasaad menjelaskan, saat ini teknologi penanganan penyakit jantung koroner semakin canggih. Untuk jenis ring, misalnya, ada ring yang bersalut obat yang dapat menekan angka kekambuhan atau penyempitan kembali pembuluh darah di area tersebut.

Selain itu, teknik pemasangan ring juga terus berkembang. Pemasangan tidak perlu pembedahan, cukup dengan kateterisasi yang dilakukan lewat pembuluh darah di pangkal paha, bahkan bisa lewat pembuluh darah di lengan.

“Sebetulnya untuk peralatan maupun tingkat keahlian dokter dalam penanganan jantung, Indonesia tidak kalah dari negara-negara maju. Di Bethsaida Hospitals ini, misalnya, memiliki sumber daya yang lengkap,” imbuh Dasaad.

Yang penting, lanjutnya, masya­rakat harus sadar pentingnya medical check up jantung dan pen­tingnya membawa pasien serangan jantung ke rumah sakit yang punya fasilitas yang dibutuhkan. “Sebab penanganan serangan jantung berpacu dengan waktu. Semakin cepat ditangani, semakin banyak otot jantung yang bisa diselamatkan dari kerusakan.” (Nik/H-3)

BERITA TERKAIT