Desa Terkucil yang Bermetamorfosis Jadi Destinasi Wisata 'Gokil'


Penulis: Liliek Dharmawan - 17 December 2018, 16:00 WIB
MI/Liliek Dharmawan
MI/Liliek Dharmawan

KABUT pagi berarak menyelimuti pepohonan yang berjajar di perbukitan. Sesekali tabir kabut terbuka sehingga terlihat puncak Gunung Slamet dari kejauhan. Udaranya sejuk dengan suhu sekitar 18 derajat Celcius. 

Begitulah suasana Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng) yang memiliki ketinggian 650-1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Desa yang terletak sekitar 25 kilometer (km) arah utara dari pusat Kota Purbalingga itu gampang dijangkau. Jalan menuju ke destinasi wisata Serang sudah beraspal semua dan cukup lebar, sehingga kendaraan roda empat dapat sampai ke lokasi. 

Begitu masuk Desa Serang, ada satu destinasi wisata yang mulai bisa disapa yakni Kampung Kurcaci. Letaknya di pinggir jalan utama. Dari tempat parkir kendaraan hanya berjalan melewati jembatan bambu menyeberangi sungai kecil. 

Di Kampung Kurcaci, ada rumah-rumah mungil bercat kontras dengan pepohonan yang menjulang tinggi pada areal hutan pinus. Sejuknya lingkungan hutan pinus itu membawa sensasi tersendiri.

"Bertamasya ke sini mudah, tidak terlalu jauh jalan kakinya. Meski demikian, begitu berada di Kampung Kurcaci tidak lagi mendengar suara kendaraan. Hanya gemericik air. Sejuknya begitu terasa. Inilah yang membuat kami betah. Apalagi untuk masuk harga tiketnya hanya Rp5 ribu. Kita dapat berswafoto di pepohonan yang rindang maupun di rumah-rumah Kampung Kurcaci," ungkap Aris, 20, seorang pengunjung asal Pemalang atau tetangga Kabupaten Purbalingga, pekan lalu.

Kampung Kurcaci adalah satu dari sejumlah destinasi wisata yang menggabungkan antara wisata alam dan kreativitas anak-anak muda kampung. 

Itu juga yang menjadi andalan destinasi wisata di Desa Serang. Seperti halnya Kampung Kurcaci, Desa Wisata Lembah Asri Serang (D'Las) juga menyuguhkan beragam obyek. Kalau di D'Las, pangsa pasarnya adalah keluarga, sehingga dibangun sarana wisata untuk anak-anak sampai orang dewasa. 

Fasilitas wisata di D'Las cukup lengkap. Ada 'playground', wahana permainan air, taman bunga, kebun stroberi. Juga wahana untuk anak-anak muda yang suka tantangan. Misalnya High Rope, Flying Fox dan ATV Bike.

"Destinasi wisata D'Las ini benar-benar tempat wisata keluarga. Untuk anak-anak ada, kemudian bagi anak muda dan orang tua juga ada. Tadi saya mengajak anak untuk bermain wisata air kemudian berfoto-foto di taman bunga. Anak yang remaja malah minta flying fox. Lengkap pokoknya," ujar Bambang, 48, pengunjung di D'Las. 

Memang untuk bermain flying fox, misalnya, harus ada tambahan biaya, akan tetapi kata Bambangm tarif masuk ke D'Las murah, hanya Rp5 ribu.

Pengelola sengaja menyiapkan berbagai permainan untuk menambah semarak wisata setempat. Misalnya High Rope biayanya dipatok hanya Rp50 ribu, kemudian Flying Fox Rp20 ribu dan ATV Bike Rp15 ribu. Ada juga berkeliling D'Las menunggang kuda dengan bayaran Rp15 ribu.

Jika ingin mengeksplorasi lebih lengkap lagi, Desa Serang masih menyuguhkan sejumlah destinasi lainnya seperti Wisata Taman Pudang Mas Sikopyah dan Serang Garden. Obyek yang ditampilkan di Serang Garden adalah taman bunga dan kebun stroberi. 

Baca juga: Menolong Sesama dengan Nasi Kotak Gratis


Ada juga Wadas Gantung di Gunung Malang yang menjadi favorit anak muda. Sebab, untuk menjangkau lokasi setempat harus jalan kaki menaiki bukit. Tapi yakinlah, kelelahan akan terbayar, apalagi kalau beruntung melihat 'sunrise' yang indah. Di situ juga merupakan pos 1 pendakian ke Gunung Slamet via Gunung Malang.
 
Sementara Taman Podang Mas Sikopyah menyuguhkan spot-spot untuk swafoto yang terletak di lereng perbukitan jalur menuju Tuk Sikopyah.

Dengan dibukanya destinasi wisata itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Serang telah menjadikan wisata budaya dengan menggelar ritual pengambilan air dari Tuk Sikopyah. Tiap tahun, sebagian besar penduduk Serang ikut serta dalam prosesi budaya tersebut. 

Dalam ritual itu, ratusan warga membawa 'lodong' atau tempat air dari bambu untuk mengangkut air dari Tuk Sikopyah dan dibawa ke aula Pemdes Serang untuk disemayamkan. Kemudian  air dibagi-bagikan kepada seluruh warga. 

Prosesi tersebut mendapat animo ratusan bahkan ribuan pengunjung. Apalagi, dalam beberapa tahun terakhir Pemdes Serang memasukkan agenda ritual pengambilan air Tuk Sikopyah pada agenda Festival Gunung Slamet.

Hal itu membuat ritual pengambilan air Tuk Sikopyah telah menjelma jadi wisata budaya yang menjadi magnet pengunjung ke Desa Serang. Lebih dari itu, pengambilan Tuk Sikopyah sesungguhnya merupakan kearifan lokal warga dalam mempedulikan lingkungan. 

"Tradisi pengambilan air dari Tuk Sikopyah merupakan kearifan warga dalam menjaga mata air. Menjaga mata air juga dibarengi dengan melestarikan lingkungan. Pepohonan di sekitar tidak boleh ditebang supaya air tetap mengalir, bahkan pada musim kemarau sekalipun," kata sesepuh Desa Serang, Kiai Samsuri.

Selain wisata alam dan budaya, Serang juga menyuguhkan wisata buah khususnya stroberi. Pengunjung yang ingin memetik stroberi sendiri dipersilakan. Mereka dapat memilih stroberi yang telah masak dengan harga Rp25 ribu per kilogram (kg). 

Bagi pengunjung, bisa juga langsung membeli tanpa harus memanen sendiri. Ada juga variasi kuliner dari tanaman stroberi yakni stroberi goreng dan keripik daun stoberi.

Dorong Kemandirian
Perjalanan Serang menjadi desa wisata penuh liku. Apalagi, dulunya Serang merupakan daerah miskin yang terkucil. Bahkan, desa masuk dalam kategori IDT (Inpres Desa Tertinggal) pada zaman Orde Baru. Adalah Sugito, Kepala Desa (Kades) Serang yang mencoba untuk membawa Serang melepaskan diri dari desa tertinggal. 

"Awalnya saya melihat ada potensi sayuran dan buah. Selain itu, sebagai daerah yang berada di lereng Gunung Slamet, Serang menyajikan pemandangan indah yang khas. Pada 2009, kami mulai mengembangkan Agro Education Tourism," ungkap Sugito saat ditemui Media Indonesia pekan lalu. 

"Saya masih ingat, kerja sama pertama kali dengan SMP Negeri 2 Purbalingga yang menggelar outbond di Serang. Mereka juga tidur di homestay yang dulu masih begitu sederhana," tambahnya.

Seiring berjalannya waktu, Pemdes Serang yang kemudian merekrut anak-anak muda desa setempat mencoba untuk membuat semacam 'rest are' sekitar tahun 2013. 

"Kami sengaja membangun 'rest area' karena wisatawan yang datang ke Serang tidak memiliki tempat untuk bersantai. Kebetulan ada tanah desa 1,3 hektare (ha) sebagai lokasi tempat istirahat tersebut," ulasnya. 

Sugito mengatakan, 'rest area' merupakan cikal bakal darti D'Las yang kini merupakan destinasi wisata utama di Serang. 

"Kami mengembangkan sejak 2014 lalu, dengan bantuan dana dari berbagai dinas di lingkungan Pemkab Purbalingga. Bahkan, pada 2016, Pemdes mengambil kebijakan untuk menggelontorkan dana desa senilai Rp800 juta untuk pengembangan wisata," jelasnya.

Menurut Sugito, sejak tahun 2010 lalu, Pemdes telah membentuk Badan Usaha Milik Desa (BUMDEs) yang untuk mengurus manajemen D'Las. Kalau untuk obyek wisata lain seperti Wadas Gantung, Kampung Kurcaci, Serang Garden dan Taman Podangmas Sikopyah yang mengelola adalah anak-anak muda dusun setempat. 

"Jadi, anak-anak muda di sini banyak yang menjadi pengelola onyek wisata, karena memang menjanjikan. Mereka tidak perlu merantau untuk mencari kerja, karena di desa sudah ada," katanya. 

Sugito mencontohkan, D'Las misalnya, mampu merekerut 40 tenaga, 20 di antaranya adalah karyawan tetap. Sementara di masing-masing destinasi wisata lainnya, ada 8-15 pemuda. 

"Mereka terus berusaha untuk berinovasi dalam memasarkan obyek wisata yang dikelolanya," ungkapnya.

Dijelaskan oleh Sugito, pendapatan desa dari pengembangan wisata cukup signifikan. Sebab, untuk D'Las, misalnya, jumlah pengunjung harian dapat mencapai 1.000 orang, dan meningkat pada akhir pekan menjadi 5-6 ribu. Bahkan, kalau libur Lebaran semakin tinggi jumlahnya, dapat mencapai lebih dari 20 ribu. 

Meningkatnya jumlah wisatawan tentu akan berdampak pada naiknya jumlah pendapatan. Tahun 2017, misalnya, pendapatan dari wisata tercatat Rp1,6 miliar dan meningkat pada tahun ini menjadi kisaran Rp2 miliar. 

"Pada 2019 mendatang, kami menargetkan perolehan pendapatan dari wisata mencapai Rp2,4 miliar. Kalau dibandingkan dengan desa-desa di Purbalingga, maka pendapatan Desa Serang paling tinggi," jelasnya.

Tidak hanya itu, warga di sekitar obyek wisata juga memperoleh dampak baik, seperti pengelola warung di obyek wisata. 

"Saya hanya menjajakan makanan kecil dan minuman. Tetapi lumayan pendapatannya. Kalau harian, rata-rata bisa memperoleh Rp300 ribu, tetapi jika liburan Lebaran atau akhir pekan, maka dapat mencapai Rp3 juta hingga Rp4 juta. Tentu saja bagi orang kecil seperti saya, sangat merasakan dampak adanya wisata yang dikembangkan Pemdes Serang," kata Tahirin, 42, pedagang di kompleks wisata D'Las.

Perkembangan homestay juga baik. Sehingga bagi wisatawan yang ingin menginap di Serang tidak terlalu bingung. Sebab, kini ada 48 homestay yang siap melayani para pengunjung. Tarif menginapnya murah, hanya Rp75 ribu. Itu pun masih ada makan pagi ala desa yang disuguhkan.

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Purbalingga, Prayitno, mengatakan bahwa pihaknya terus mendorong desa-desa yang memiliki potensi wisata agar menjadi desa wisata. 

Menurut Prayitno, setiap tahunnya, pemkab mengalokasikan bantuan dana untuk pengembangan desa wisata. Sebagai contoh, tahun ini kami menggelontor Rp900 juta untuk empat desa. Kalau untuk Desa Serang, alokasi juga cukup  besar sejak tahun 2015 lalu. 

"Bahkan, telah beberapa kali memperoleh dana dengan total hingga Rp1,2 miliar. Kami terus mendorong, karena pengembangan desa wisata akan mampu memandirikan desa. Salah satu contoh yang sukses adalah Desa Serang," papar Prayitno.

Memang, kerja keras mulai dari kepala desa, tokoh masyarakat, pemuda dan seluruh elemen masyarakat Desa Serang kini membuahkan hasil. Serang 
telah menjadi salah satu destinasi wisata di Purbalingga yang menjadi favorit pengunjung. Padahal, dulunya adalah desa terkucil yang ternyata mampu bermetamorfosis jadi destinasi wisata 'gokil'. (OL-3)

BERITA TERKAIT