Delegasi Indonesia Dorong Penyelesaian Katowice Outcome


Penulis: MICOM - 10 December 2018, 08:00 WIB
ANTARA FOTO/Saptono
ANTARA FOTO/Saptono

KETUA Perundingan Indonesia, Nur Masripatin, pada COP24 UNFCCC di Katowice, Polandia, mengatakan Katowice Outcome yang disediakan oleh CO Chair APA ini dinilai kurang detail dari Paris Agreement.

Mewakili Indonesia, Nur yang juga selaku National Focal Point untuk UNFCCC menyampaikan bahwa Katowice Outcome harus seimbang, koheren, dan lengkap menjadi tujuan kolektif semua negara untuk mengubah Perjanjian Paris menjadi tindakan nyata.

“Indonesia berpandangan proses selama seminggu ini, meskipun ada beberapa kemajuan signifikan yang harus dilakukan untuk menghasilkan teks negosiasi sebagai bahan persiapan Ministrial Level Meeting, Indonesia masih memiliki sejumlah pandangan berbeda tentang isu-isu penting dari Paris Agreement Work Program, yang tampaknya sulit untuk diselesaikan dalam waktu yang tersedia," jelasnya di Polandia, Minggu (9/12).

Nur kemudian mengemukakan bahwa ada pesan yang jelas bahwa Katowice Outcome harus berlaku untuk semua negara, tetapi masih menganut prinsip Common But Differentiated Responsobilities–Respective Capabilities. Hasil negosiasi yang mengamankan aspek kelengkapan, keseimbangan, dan hasil dari proses yang transparan dan inklusif adalah apa yang kita harapkan sejak Paris.

“Indonesia ingin mengadopsi Buku Katowice Rules Book yang komprehensif, yang memungkinkan semua Pihak dengan beragam keadaan nasional, kapasitas dan kemampuan untuk menerapkan dalam konteks nasional”, lanjut Nur.

Pada kerangka transparansi, Indonesia berbagi kekhawatiran yang diungkapkan oleh beberapa negara dalam plennary, bahwa teks perampingan memiliki sejumlah elemen penting yang dihapus. Perubahan signifikan telah dilakukan pada iterasi terakhir, baik dalam struktur maupun substansi.

“Kami melihat pentingnya Transparancy Framework (TF) dalam buku aturan PA. Dalam hal ini, Indonesia ingin melihat modality, procedure and guideline (MPG) yang komprehensif dan seimbang untuk TF antara tindakan dan dukungan, dan antar elemen dalam tindakan dan dalam dukungan," lanjut Nur.

Menutup intervensi dari Indonesia, Nur menyampaikan bahwa titik-titik kekhawatiran yang berbeda dari Para Pihak harus dicari solusinya untuk mencapai kemungkinan kesepakatan bersama.

“Karena itu, sangat diperlukan untuk menunjukkan fleksibilitas serta kesediaan untuk berkompromi untuk mencapai hasil Katowice sebagaimana diamanatkan oleh Perjanjian Paris”, pungkasnya. (OL-6)

 

BERITA TERKAIT