Judas Priest Pamungkas Pesta Rock 2018


Penulis:  Ardi Teristi - 09 December 2018, 04:00 WIB
 ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA
ANTARA/RIVAN AWAL LINGGA

Umur para personelnya tidak lagi muda, tapi band heavy metal legendaris tersebut tetap mampu menghadirkan aksi fenomenal.

ALUNAN intro Firepower dari gitar yang dimainkan Richie Faulkner (gitar) dan Andy Sneap (additional guitar) memecah keheningan Allianz Ecopark, Ancol, Jumat malam (7/12). Lagu yang masuk dalam album teranyar Judas Priest berjudul serupa itu langsung tersaji intens di atas panggung.

Pukulan drum Scott Travis bertempo cepat kemudian memacu adrenalin penonton, ditimpali vokal Rob Halford yang meski kini telah berusia 67 tahun, menunjukkan dirinya masih pantas menyandang julukan dewa metal (metal god). Aksi twin gitaris yang bersahut-sahutan seolah ingin menunjukkan Judas Priest tetap eksis di usianya ke-49 dan heavy metal masih berjaya.

Band legendaris yang telah menjual lebih dari 50 juta kopi album tersebut tampak percaya diri menampilkan lagu Firepower sebagai pembuka konser Firepower Tour Dunia 2018 di Indonesia. Selain sesuai dengan judul tur dunia mereka, album Firepower yang mereka luncurkan pada Maret 2018 memang telah memanen ulasan positif dari berbagai situs musik metal. Album itu disebut album terbaik Judas Priest selain album Painkiller (1990).

Seusai Firepower, Judas Priest membawa para metalhead 'bernostalgia' lewat lagu Running Wild yang dirilis pada 1978, kemudian dilanjutkan Grinder.

Sebelum memasuki lagu kedelapan, Halford menyapa para penonton. "Apakah semua baik? Apa kabar? Kita punya power, passion, energy. Untuk para heavy metal di sini, kami berikan No Surrender," teriak Halford langsung diikuti intro lagu No Surrender.

Bukan konser Judas Priest namanya tanpa aksi Halford dan sepeda motor Harley Davidson-nya. Benar saja, seusai menyanyikan lagu ke-14, Another Thing Coming, deru motor terdengar, disusul aksi Halford naik ke atas panggung mengendarai 'moge' tersebut. Ia pun menyanyikan lagu ke-15 dan ke-16, Hell Bent for Leather, kemudian Painkiller.

Pada tiga lagu terakhir tersebut, Glenn Tipton tampil ke atas panggung. Penampilan gitaris Judas Priest sejak album pertama tersebut membuat para penonton terharu. Kendati tengah dirundung sakit parkinson, Tipton tetap menunjukkan semangatnya bermusik.

Total ada 19 lagu yang dibawakan Judas Priest dalam konser 1,5 jam itu, termasuk lagu-lagu andalan macam Sinner, Turbo Lover, Night Comes Down, Rising From Ruins, Metal Gods, Breaking the Law, dan Living After Midnight.

Konser di Jakarta tersebut sekaligus menutup rangkaian Judas Priest Firepower Tour 2018 yang digelar di 104 tempat.

Di antara penonton konser Judas Priest itu, ada gitaris Eet Sjahranie. Ia mengaku, seru bisa melihat band yang sering didengarnya waktu SMP pada 1970 dan 1980-an. Eet tidak mengikuti setiap album Judas Priest, tetapi menyimak lagu-lagu hit band asal Inggris itu lewat album The Best of Judas Priest.

"Mereka salah satu dedengkotnya (musik rock). Mumpung mereka masih ada dan konser di sini kenapa tidak nonton," kata Eet. Ia pun menyebut, yang istimewa dari Judas Priest ialah aksi twin gitarnya.

Ada pula Amin, penonton asal Jakarta, yang amat antusias dengan kedatangan band idolanya sedari muda ini. "Kedatangan Judas Priest ini bagi saya seperti kembali bernostalgia dengan masa lalu. Mereka juga sudah tidak lagi muda, tapi masih sangat enerjik saat tampil," pujinya.

Tutup tahun

Aksi Judas Priest tadi malam menjadi penutup spesial pesta musik rock dunia di Indonesia sepanjang 2018. Tahun ini memang spesial bagi pencinta musik rock Tanah Air lantaran musisi rock dunia dari berbagai aliran silih berganti menggelar konser di Indonesia.

Pesta musik rock 2018 dimulai Mei dengan Volcano Rock Festival 2018 yang menghadirkan Europe. Selanjutnya, pada Juli, para musisi rock dunia, seperti In Flames, IHSAHN, Escape the Fate, Dead Kennedys, hingga Brujeria, mengguncang Jakarta dalam gelaran Hammersonic 2018.

Memasuki September, giliran Limp Bizkit menggetarkan Bali dalam acara Soundrenaline 2018. Sebulan berselang, Megadeth memanaskan Yogyakarta lewat festival Jogjarockarta 2018. Yang masih hangat di telinga, pada November, Guns N' Roses sukses dengan konser Not in This Lifetime Tour di Jakarta.

Para pencinta musik rock Tanah Air memang terlihat tidak ada habisnya melahap setiap konser rock kelas dunia yang disajikan. Bahkan, tempat pergelarannya tahun ini tidak hanya berpusat di Jakarta, tetapi juga daerah-daerah lain di Indonesia, seperti Bali, Yogyakarta, hingga Boyolali.

Eet Sjahranie menyebut, penampilan para band rock dunia di dalam negeri tentu banyak memberi manfaat bagi pencinta dan musisi rock Tanah Air. "Pastinya berpengaruh karena menambah referensi juga buat kita," kata dia

Menurut Eet, para pencinta musik rock sekarang secara umum semakin berkembang. Mereka sudah terbagi sesuai yang mereka sukai dan setiap aliran hidup sesuai dengan segmennya sendiri-sendiri.

Dari sekian banyak musisi rock mancanegara yang tampil di Indonesia pada 2018, tiga band rock legendaris atas, yaitu Europe, Megadeth, dan Judas Priest didatangkan promotor Rajawali Indonesia. CEO Rajawali Indonesia Communication, Anas Syahrul Alimi, menyebut, pasar musik rock di Tanah Air sangat besar.

Indonesia disebut memiliki penggemar musik rock terbesar di Asia. Bahkan, Presiden Joko Widodo pun dikenal sebagai pencinta musik cadas ini. Sayangnya, Presiden yang secara khusus telah diundang untuk menonton, baik oleh Judas Priest maupun pihak promotor, tadi malam berhalangan hadir.

"Tadinya udah mau datang, tapi beliau tahu kondisi di Papua jadi beliau empati," kata Anas dalam jumpa pers seusai konser.

Bakkar Wibowo, Project Director Rajawali Indonesia, menambahkan, konser musisi-musisi rock dunia wujud komitmen pihaknya untuk selalu menghadirkan band rock terbaik di Indonesia. "Mereka akan banyak memberikan pengaruh dalam perkembangan musik rock di Tanah Air," ucapnya. (M-2)

BERITA TERKAIT