Bejamu Saman Alat Kerukunan Antarkampung Gayo


Penulis: Suryani Wandari Putri Pertiwi - 09 December 2018, 03:35 WIB
EBET
EBET

Keberadaan Bale Asam yang merupakan rangkaian dari Bejamu Saman ini telah lama hilang, bahkan sejak 20 tahun yang lalu.

DUDUK berderet sambil bersimpuh, belasan pemuda yang tergabung dalam kelompok menampilkan gerak kompak. Bahkan, tepukan pada tangan, dada, dan pahanya ini terdengar nyaring membentuk satu tempo untuk mengiringi syair yang mereka lantunkan pula.

Syairnya cukup berbeda dari Saman pada umumnya, kini di tarian bertajuk Bale Asam ini syairnya berkisah mengenai ucapan terima kasih, permohonan maaf serta sedikit ejekan bagi puluhan tim lainnya pada penutupan rangkaian Festival Budaya Saman di Stadion Seribu Bukit, Gayo Lues, Aceh, Sabtu (24/11).

Saman yang lahir di tempat ini, bukan hanya menonjolkan pada gerakan, melainkan juga lebih pada body perkusi dengan tepukan dilakukan dengan keras untuk menghasilkan suara. Konon menurut Hardiansya, pelaku Saman, seni ini sudah ada sejak zaman dahulu. "Entah bagaimana awalnya, yang pasti sudah ada sejak zaman dahulu dimainkan oleh anak-anak. Saat itu, ada syekh namanya Saman, dia menyebarkan agama Islam sambil melakukan gerakan ini, menjadi sarana dakwahnya," kata laki-laki yang akrab dipanggil Dian saat ditemui, Jumat (23/11).

Namun, keberadaan Bale Asam yang merupakan rangkaian dari Bejamu Saman ini telah lama hilang, bahkan sejak 20 tahun yang lalu. "Masyarakat tahu dan pernah mendengar tentang Bale Asam ini, tapi tak ada yang mengetahui secara jelas sehingga Indonesiana, platform yang diinisiasi Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, ini, merekontruksi kembali," kata Didi Pramayoga, kurator Festival Budaya Saman 2018. Diikuti 330 penari Saman dan 330 penari Bines perempuan dari 11 kecamatan, acara ini berlangsung meriah.

Bagi masyarakat Gayo seni pertunjukan tersebut hanya bagian kecil dari Saman yang sebenarnya bagi mereka berarti filosofi kehidupan dan tutur kata. Hal itu tecermin dalam Bejamu Saman, yakni tradisi yang diadakan antarsatu desa dengan desa lain untuk menjalin silaturahim. Kata Bejamu berarti bertamu untuk menjalin serinen (sahabat) yang menjadi simbol persaudaraan yang menurun pula pada sanak keluarganya.

"Dimulai dengan mengirimkan satu pemuda desa untuk meminang desa lain sebagai rekan bejamu. Kemudian keinginan tersebut akan diterima tokoh masyarakat hingga di musyawarahkan dengan warganya. Jika sudah dapat mufakat mengenai alasan diterima-tidaknya dan kapan pelaksanaannya, hal ini akan disampaikan pada para pemuda baik desa tamu maupun penamunya," kata Sabri, Camat Rangon sekaligus pelaku Saman.

Di hari pelaksanaannya tiba, seluruh laki-laki setiap anggota keluarga ini akan datang dan menginap selama dua hari dua malam atau dalam bahasa mereka Saman roa lo roa ingi. Segala fasilitas apa pun yang dibutuhkan selama pelaksanaan pun disiapkan tuan rumah. "Mulai dari makan, pakaian, tempat, dan lainnya harus dilayani penerima tamu. Kami menghargai dan menghormati mereka. Waktu selaman itu pun tujuannya untuk mengikat hubungan yang artinya sahabat sejati dunia akhirat," kata Sabri.

Jumlah yang datang ini pun harus diimbangi pula oleh tuan rumah karena nanti serinen ini menjalin hubungan antarkeluarga. Kopi dan rokok yang tak bisa lepas dari masyarakat Gayo pun menjadi cara pendekatan mereka. "Biasanya akan saya taruh rokok sembari mengobrol, ia pun demikian. Jika masing-masing mengambil rokok lawannya, berarti sudah bersedia jadi serinen," ungkap Dian. Jika sudah mendapatkan serinen, ia pun akan mengajak orang tersebut untuk tinggal di rumahnya.

Jamuan pertama kali ialah beragam minuman, mulai air putih, kopi, teh, susu hingga sirup yang menandakan tuan rumah mencoba memahami apa kesukaan serinen-nya. "Jika serinen minum kopi, maka selama dua hari dua malam itu dia akan disuguhi minuman tersebut," lanjut Dian. Proses selanjutnya berjalan seperti biasa dengan mereka melakukan interaksi, bercerita layaknya sebuah saudara baru. Bahkan, di sela-selanya disisipkan sebuah pertunjukan Saman yang dilakukan kedua desa secara bergiliran.

Jika proses Bejamu Saman telah berakhir, ada pula prosesi pemberian selepah atau oleh-oleh sebagai bekal kepada serinen, bukan hanya berupa makanan khas Gayo, melainkan bisa juga kebutuhan lain, seperti sandang, papan, kasur, bantal, tanah, bahkan kebun yang dapat dikelola.

Sampai akhir hayat

Setelah serinen terjalin antara keduanya, itu berarti berlaku pula untuk sanak saudara termasuk anak cucu mereka. Keturunannya akan dikenalkan pula dengan keluarganya hingga terjadi hubungan sangat dekat, bahkan dikatakan seperti saudara sekandung. "Secara hukum memang tidak, tetapi perilaku mereka sudah seperti saudara sekandung. Itu juga berlaku hingga pada proses pernikahan," kata Sabri. Ia menjelaskan anaknya akan susah jika dikawinkan dengan anak serinen-nya. "Secara hukum sah saja, tapi secara adat tidak bisa karena anak dia sudah jadi anak saya," imbuhnya.

Seperti hubungan persaudaraan yang tercipta dari hubungan darah, serinen ini pun akan menganggapnya sama, meskipun tinggal mereka berjauhan sekalipun. Contohnya saja mereka akan saling menjaga dan melindungi anggota keluarga jika bertemu sedang melakukan hal tidak layak akan ditegur atau jika mendapati kecelakaan akan ditolong. "Saya agak tenang kalau anak saya pergi ke mana-mana, pasti ada yang lindungi. Mereka biasanya akan bertanya asalnya dari kampung mana, nama orangtuanya siapa, dan lain lain," kata Sabri yang juga pernah mengalami kecelakaaan. Ia yang juga punya belasan serinen ini mengaku bahwa setelah ditelusuri baik penabrak maupun korban masih satu serinen dari kakeknya yang berakhir damai.

Ya, Bejamu Saman yang juga di dalamnya berisi serinen ini pun bisa menjadi alat kerukunan antarkampung Gayo. Mereka senantiasa menjaganya hingga kini dengan sesekali berkunjung ke rumah serinen pada Idul Fitri atau saat hajatan yang dilakukan serinen-nya. Bahkan ketika tidak diundang karena lupa, serinen-nya akan merasa dilecehkan karena tak menghargai. Namun, tetap karena dilandasi rasa persaudaraan yang tinggi, mereka akan saling memaafkan dan berdamai.

BERITA TERKAIT