Menyambut Turis, Gili Air Bangkit dan Berbenah


Penulis:  (Eno/M-2) - 09 December 2018, 03:20 WIB
 MI/RETNO HEMAWATI
MI/RETNO HEMAWATI

GILI Air, satu dari tiga Gili yang terkenal di lepas pantai barat laut Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia, dan sempat terhantam gempa 7 skala Richter, mulai bangkit kembali. Hal itu saya saksikan ketika melancong ke sana bersama rombongan jurnalis yang diundang Dafam Hotel Management, November silam.

Saat tiba di pelabuhan, kami disambut sejumlah petugas Mola-mola Resort Gili Air, tempat kami menginap. Sepanjang perjalanan kaki dari pelabuhan ke lokasi resor, saya yang kini berkalung bunga melihat banyak tempat mulai aktif. Banyak juga yang belum, tetapi setidaknya pulau kecil ini sudah mulai berbenah.

Gili Air pun saat itu sudah tak lagi gelap gulita. Listrik telah pulih dan pasokan bahan makanan sudah berlangsung normal. Kebutuhan air bersih juga sudah dapat dipenuhi meski harus dihemat sehingga air mandi tetap memakai air payau. Pasalnya, air bersih untuk memasak memang harus didatangkan dari Pulau Lombok. "Pipa perusahaan daerah air minum (PDAM) rusak di laut, jadi air bersih masih harus dibeli," kata Ni Ayu Hermawati, 45, penjual makanan lokal di Gili Air, saat itu.

Menurutnya, wisatawan domestik sudah mulai berdatangan. Tinggalnya pun tidak sebentar. Paling sedikit sepekan.

Dia sempat pula bercerita, seusai gempa pada 29 Juli 2018 itu, Gili Air sempat mencekam. Banyak penduduk mengungsi karena trauma gempa bakal terulang. Namun, kini mereka sudah kembali pulang. Tidak mengherankan kegiatan penyeberangan sekarang sudah aktif. Toko-toko kelontong, tempat makan, persewaan sepeda kayuh, juga toko-toko penjual suvenir hingga minyak kelapa pun sudah siap kedatangan tamu.

Tidak ketinggalan cidomo yang siap melayani pelancong berkeliling Gili Air. Ini satu-satunya transportasi lokal yang tersedia karena tidak ada kendaraan umum bermesin. Cukup merogoh kocek Rp100 ribu untuk sekali trip berkeliling. Mahal? Jangan heran. Soalnya, rumput makanan kuda penarik cidomo juga mesti 'impor' dari Lombok.

Sejumlah penginapan juga mulai beroperasi. Baik kelas resor seperti Mola-mola maupun homestay di rumah warga setempat. "Kami pastikan keadaan di Lombok, khususnya Gili Air, sudah pulih. Toko-toko sudah buka. Mola-mola Resort Gili Air pun sudah siap menerima tamu," terang CEO DHM Andhy Irawan.

Di Mola-mola, harga kamar rupanya juga didiskon jauh, bahkan hingga 80%, untuk memacu okupansi. Untuk Lumbung Suite di Mola-mola yang biasanya dibanderol dari Rp4,8 juta, turun menjadi Rp946.671. Sementara itu, Deluxe suite yang semula dari Rp3,08 juta menjadi Rp382 ribu.

Strategi itu lumayan berdampak positif. Tidak sedikit tamu yang memperpanjang periode menginap. Warga setempat pun menjadi kecipratan rezeki, seperti Ni Ayu Hermawati yang kini tidak lagi sering meninggalkan Gili Air karena sibuk melayani kebutuhan wisatawan dan penduduk setempat. "Semua pasokan bisa pesan dari Lombok, diantar kapal. Waktu tempuh ke Lombok hanya 15 menit," terangnya.

BERITA TERKAIT