Generasi Milenial Diajak Perkuat Hubungan RI-Malaysia


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 08 December 2018, 18:44 WIB
ist
ist

GENERASI milenial sebagai penerus bangsa potensial memperkuat hubungan antarwarga (people-to-people) Indonesia dan Malaysia. Mereka diharapkan tak mewarisi tradisi gontok-gontokan yang kerap mewarnai hubungan kedua negara.

Hal itu mengemuka dalam diskusi bertajuk Budaya Serumpun Indonesia Malaysia yang digelar di kampus Universitas Mercu Buana, Jakarta, Sabtu (8/12). Diskusi yang dihadiri sekitar 500 mahasiswa itu merupakan bagian dari Wonderful of Melayu Creation Fest 2018 yang digelar mahasiswa Universitas Mercu Buana.

Turut hadir antara lain Direktur Pariwisata Kedutaan Besar Malaysia Roslan Othman, Wakil Ketua Tim Percepatan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi, dan Budaya Kementerian Pariwisata Tendi Nuralam, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Yuliandre Darwis, Wakil Dekan Fakultas Komunikasi Universitas Mercu Buana Abdul Rahman, dan Ketua Bidang Studi Public Relation Universitas Mercu Buana Elly Yuliawati.

Menurut Ketua Bidang Studi Public Relation Universitas Mercu Buana Elly Yuliawati, generasi milenial saat ini membutuhkan pengetahuan dan pemahaman berimbang mengenai hubungan Indonesia-Malaysia. Sayangnya, lanjut dia, pembicaraan publik mengenai relasi kedua negara lebih banyak didominasi isu negatif yang menonjolkan perbedaan. Antara lain sejarah konflik masa lalu (Konfrontasi 1960-an), isu perlakuan buruk tenaga kerja, klaim produk kebudayaan, hingga perseteruan pendukung tim nasional sepakbola.

"Ada kekosongan diplomasi publik di kalangan muda saat ini. Informasi yang mereka terima mengenai hubungan kedua negara selalu berbau konflik. Padahal dalam penguatan relasi people-to-people, kesepahaman itu penting," ujarnya.

Ia menambahkan forum atau wadah yang bisa menjangkau generasi muda untuk membangun kesepahaman perlu diintensifkan. Itu diharapkan bisa menggerus sentimen negatif dalam hubungan antarwarga RI-Malaysia. Dengan kian terbukanya informasi digital saat ini, generasi milenial juga bisa mencari informasi secara mandiri.

"Sudah lama hubungan bilateral ini tidak terdengar gaungnya apalagi kepada kaum muda. Ini penting untuk mempererat hubungan kedua negara," ucapnya.

Wakil Ketua Tim Percepatan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi, dan Budaya Kementerian Pariwisata Tendi Nuralam, menegaskan kedua negara sebenarnya memiliki tradisi yang serupa dalam konteks kebudayaan melayu. Mulai dari aspek religi, kesenian, produk kerajinan, hingga kuliner. Kedua negara berbagi kebudayaan dalam konteks rumpun Melayu. Kesepahaman mengenai rumpun Melayu menurutnya perlu diperkuat.

"Riak-riak kecil memang suka ada hingga menjadi ramai gesekan. Tetapi ketidaknyamanan itu bisa dihilangkan dengan kita mengenal satu sama lain," ungkapnya.

Ketua KPI Yuliandre Darwis berpesan agar kaum muda bisa melek digital dalam mengonsumsi informasi. Pertukaran informasi terkait kesamaan budaya perlu menjadi perhatian kaum muda. "Melalui dunia digital yang serba terkoneksi ini bisa memperkuat anak muda Indonesia dan Malaysia. Bangsa ini besar begitu juga dengan Malaysia," tukasnya. (OL-4)

BERITA TERKAIT