Paris Bersiaga Penuh Jelang Unjuk Rasa


Penulis: Tesa Oktiana Surbakti - 08 December 2018, 18:20 WIB
 (Photo by Alain JOCARD / AFP)
(Photo by Alain JOCARD / AFP)

PARIS meningkatkan kesiagaan melalui sejumlah upaya keamanan utama jelang aksi protes barisan "rompi kuning". Pihak keamanan mengantisipasi gerakan unjuk rasa yang dikhawatirkan berakhir bentrok, seperti beberapa waktu lalu.

Pusat pertokoan, gedung museum, stasiun metro Paris dan Menara Eiffel, terpaksa ditutup sementara. Pertandingan sepak bola papan atas dan pertunjukkan musik pun terkena dampak penundaan.

Ibu Kota Perancis, Paris, dilanda kerusuhan terparah dalam beberapa dasawarsa terakhir. Pecahnya kerusuhan pekan lalu, mengguncang pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Emmanuel Macron, yang terseret ke dalam pusaran krisis.

Menteri Dalam Negeri Perancis Christophe Castaner mengatakan pihaknya memperkirakan jumlah massa yang akan turun ke jalan, tidak sebanyak aksi demonstrasi pekan lalu yang mencapai 8.000 orang. Sayangnya, unjuk rasa pekan lalu diwarnai tindak kekerasan.

"Dalam tiga minggu terakhir, kita telah melihat lahirnya kekerasan. Operasi keamanan berskala besar akan dikerahkan pada Sabtu ini," ujar Castaner.

Dia pun bersumpah tidak akan menoleransi siapapun yang bertujuan membuat kekacauan dan menghancurkan fasilitas publik. Mengingat, kerusuhan pada akhir pekan lalu meluas ke aksi pembakaran kendaraan, penjarahan pertokoan, hingga merusak monumen perang Arc de Triomphe.

Pada Jum'at lalu, Perdana Menteri (PM) Edouard Philippe bertemu dengan perwakilan "rompi kuning" yang mengklaim tidak memprovokasi masyarakat untuk terlibat dalam unjuk rasa. Setelah pertemuan, juru bicara gerakan "rompi kuning" Christophe Chalencon, mengatakan PM Perancis sepakat mendengarkan aspirasi barisan demonstran dan berjanji membawa tuntutan ke hadapan presiden.

"Sekarang kami menunggu Presiden Macron. Saya harap dia mau berbicara kepada masyarakat Perancis, sebagai ayah, dengan cinta dan rasa hormat, sehingga bisa mengambil keputusan yang tepat," pungkas Chalencon.

Lebih lanjut, Philippe mengungkapkan sebanyak 8.000 petugas kepolisian akan dimobilisasi di seluruh negeri. Ditambah lusinan kendaraan berlapis baja. Pusat pertokoan tersohor di sekitar Champs-Elysess yang sempat terdampak kerusuhan pekan lalu, sudah tertutup rapat. Pemilik toko telah mengosongkan barang dagangan sejak Jum'at lalu. Sebagian besar wilayah kota pun menutup rapat jendela dan pintu. Operator landmark ternama, seperti Menara Eiffel, Museum Louvre dan Museum Orsay, menyatakan penutupan lokasi beserta kegiatan di opera, teater, perpustakaan dan toko penjualan.

Pemerintah asing turut mengamati perkembangan situasi di kota yang paling banyak dikunjungi turis mancanegara tersebut. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) mengerluarkan peringatan kepada warganya untuk menghindari pusat keramaian. Adapun Kedutaan Besar Belgia, Portugal dan Republik Ceko, mengimbau warganya menunda rencana kunjungan ke Paris dalam waktu dekat.

Sepanjang pekan ini, Macron tampaknya mulai menyerah terhadap beberapa tuntutan demonstran, yang mencakup kebijakan untuk menyelamatkan masyarakat miskin, hingga menghilangkan rencana kenaikan pajak bahan bakar pada 2019. Akan tetapi, barisan "rompi kuning" belum mau menarik diri dari aksi protes, sampai tuntutan terealisasi sepenuhnya.(AFP/OL-4)

BERITA TERKAIT