30 Hari Mencari Tinja


Penulis: Fathurrozak - 09 December 2018, 00:15 WIB
MI/FATHURROZAK
MI/FATHURROZAK

WAKTU mununjukkan pukul 08.00 WIB, empat perempuan ini sudah menyusuri gang-gang kecil. Sesaat, mereka berhenti di salah satu rumah yang tidak terlalu jauh dari bantaran Sungai Ciliwung.

Dikin, sang pemilik rumah mempersilakan masuk dan mengizinkan mereka melakukan pengujian. Mereka mengeluarkan jerigen kecil dan botol kaca dari boks abu-abu. Kedua wadah itu lalu diisi air dari pompa dan dicantumi label.

Dikin sudah mendiami Kampung Tanah Rendah, Kampung Melayu, Jakarta Timur, sejak 1950-an, saat orangtuanya masih ada. Masih jelas diingatannya, ia beberapa kali harus menggali tanah untuk mendapatkan air.

“Sudah tiga kali ganti, terakhir ya di tengah rumah posisinya. Kedalamannya sekitar enam meter dan tiga meter jauhnya dari posisi pompa. Ya alhamdulillah sih bening,” kenang lelaki yang rambutnya sudah mulai dipenuhi uban itu sembari menunjuk lantai bagian tengah rumah, Kamis (22/11).

Seusai mendapat data yang diperlukan, Novita Anggraini, beserta ketiga temannya, Ika, Gusmiati, dan Deliana Prasetiyana, lanjut mengambil sampel air ke rumah Imas yang tidak jauh dari rumah pasangan Dikin-Aliyah. Di rumah
Imas yang dekat sungai itu Novita mengambil air di keran.

Tak jauh dari rumah tersebut, terdapat getek bambu yang difungsikan  warga sebagai jalan menuju jamban apung. Sampel air dari kedua rumah itu kemudian dibawa menuju laboratorium PAM Jaya di Pejompongan, Bendungan Hilir.

Dikin bercerita rumahnya dikelilingi tangki septik (septic tank) para tetangga, meski rumah mereka tak memiliki jamban. Menurut Novi sumber air yang dikelilingi tangki septik meski bening dan tidak bau,setelah dites laboratorium
mengandung bakteri.

Novi yang bekerja sebagai STP & Laboratory OM di PD PAL Jaya DKI Jakarta tidak ingin menghakimi kondisi di rumah Dikin dan warga Kampung Tanah Rendah. Bersama ketiga rekannya, mereka menggali cerita dari tiap warga yang diambil sampel air.

Selain itu, guna mempermudah pengetahuan warga akan hasil tes air tanah, semuanya diterjemahkan dalam gambar dan ilustrasi.


Ngebikin Bareng

Dalam Permenkes No 492/Menkes/ Per/IV/2010 tentang Kualitas  Air Minum, disebutkan kegiatan pengawasan kualitas air minum meliputi inspeksi sanitasi, pengambilan sampel air, pengujian kualitas air, analisis hasil pemeriksaan laboratorium, rekomendasi, dan tindak lanjut.

Parameter wajib yang diuji ialah meliputi aspek mikriobiologi berhubungan dengan kandungan bakteri di dalamnya, parameter kimia anorganik, dan parameter fisik (seperti bau, warna, rasa), dan parameter kimiawi.

Novi bersama rekan-rekannya dalam tim Ngebikin Bareng melakukan pemetaan di Tanah Rendah guna mengidentifi kasikan hubungan antara orang-orang yang menggunakan getek dan kondisi air di kampung dan toilet di rumah.

Mereka menggali informasi tentang perilaku warga ketika mandi, cuci, dan buang air besar, ke mana perginya kotoran tinja yang dihasilkan, pola desain sumber air bersihtangki septik baik milik pribadi maupun tetangga sekitar. Selain
itu, mereka juga mencari informasi berdasarkan aspek sosial-ekonomi, seperti latar belakang, status rumah tinggal, pekerjaan, pendidikan keluarga berdasarkan empat klaster yang telah dibagi.

Kegiatan Kamis pagi itu satu dari sekian rangkaian panjang yang berjalan sejak Maret. Dua kegiatan besarnya bertajuk Labtek Apung dan 30 Hari Mencari Tinja.
Pemilihan Tanah Rendah sebagai lokasi ‘eksperimen’ ini pun, melalui proses panjang hingga berjalan sampai akhir tahun ini.

“Awalnya, kami mencari-cari objek yang digunakan untuk buang air besar di ruang terbuka, di sekitaran Ciliwung bilangan Manggarai atau Kampung Melayu,” jelas Indrawan Prabaharyaka, relawan tim Ngebikin Bareng Sabtu (1/12).

Sri Suryani dan Wahyu Astuti yang melakukan pendekatan ke warga. Mereka ikut kegiatan di getek, bersama ibu-ibu di Tanah Rendah. Sri yang juga mengepalai tim Ngebikin Bareng menyatakan lewat eksperimen sosial dan sains berbasis sanitasi ini, ia berharap ada proses penggalian ide kreatif dari eksplorasi kondisi sanitasi di kampung bantaran Kali Ciliwung.

“Kita pengen gali kemungkinan desain kolaboratif berbasis lapangan, yang terbuka untuk gagal, dikritisi, dan diperbaiki,” ungkap Sri.


Perubahan

Laboratorium Teknik yang Mengapung (Labtek Apung) menjadi wahana kolaborasi belajar mengenal perspektif yang berbeda. Dengan isu utamanya ialah air, belajar mengenal lingkungan rumah serta kampung. “Kemudian rasa ‘sayang’ dan menghargai lingkung an akan tumbuh dalam kegiatan yang dilakukan bersama-sama,” terang Novita yang juga bertugas mengajak anak- anak Tanah Rendah berkegiatan Labtek Apung.

Aksi 30 Hari Mencari Tinja, lanjut Novita sebagai aksi lanjutan mencari tahu persepsi warga tentang sanitasi, baik di getek maupun di rumah. Mereka, Sri menambahkan, ingin mengajak warganya membuat tim khusus.

“Bikin tim khusus Laboran dan Arsitek Kampung untuk fokus cari alternatif solusi pencemaran tinja. Kampung Tanah Rendah jadi laboratorium sekaligus studio lingkungan,” jelas lulusan University College London itu.

Ngebikin Bareng, yang mempertemukan individu beragam latar belakang disiplin ilmu, seperti teknik kimia, teknik lingkungan, arsitektur, mikrobiologi, dan komunikasi, ini, selama dua minggu ke kampung mengamati dan mewawancara kelompok warga yang memakai getek (rakit) untuk buang air di Kali Ciliwung, lalu membahas hasil dan kritik metodenya.

Dari diskusi itu, mereka memilih dua titik air sumur yang berpotensi tercemar tinja tangki septik. “Setelah dapat hasil uji tes air, kami bikin rembug warga dan Labtek Apung 3.0 untuk ngobrolin hasilnya. Ta da! 30 Hari Mencari Tinja pun tercapai!” lanjut Sri yang mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Ketika hasil uji lab mengatakan air sumur warga tercemar E coli dari tinja, Ngebikin Bareng berusaha mencari cara penyampaian masalah kesehatan ini ke warga dengan hati-hati. Diharapkan ada perubahan di Tanah Rendah.

Pertengahan Desember ini, Ngebikin Bareng bersama perwakilan warga dan Laboran Cilik akan berbicara dalam panel diskusi di Urban Social Forum (USF) di Solo, Jawa Tengah. USF merupakan inisiatif bersama untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman bagi aktivis perkotaan.

“Kami ingin perubahan dan ini butuh kolaborasi bareng banyak pihak. Di sisi lain, kita sebagai peneliti dan relawan juga belajar dengan mendengar dan melihat langsung kondisi lapangan dan terdorong untuk menggali kesadaran
lingkungan bareng warganya,” tutup Sri. (M-3)

BERITA TERKAIT