CERPEN Malaikat yang Menunggu


Penulis: Kristin Fourina - 08 December 2018, 23:40 WIB

POTONGAN-POTONGAN kenangan tentangmu beranak pinak dalam ingatan. Satu demi satu kenangan itu mendatangiku setelah tiba-tiba kau menghubungiku kembali. Rupanya kau dengan sengaja ingin menyelinap dalam hidupku. Aku sudah lama tidak melihatmu, kini kau menghubungiku kembali. Katamu, beberapa hari terakhir ini kau tak bisa tidur. Namun, adakah kau berharap agar kelak aku bisa membuatmu jatuh tertidur setelah aku datang menemuimu?

Kata-katamu yang penuh rahasia mampu melipat jarak di antara kita. Menyeretku untuk menemuimu dari luar kota dan saat itulah kali pertama aku melihatmu meringkuk dalam kecemasan yang sangat. Jalan pikiranmu kurasa telah terperangkap dalam kegelapan panjang tanpa harapan.

 Menatapmu kembali setelah sekian lama tak berjumpa membuat jantungku berdebar, bukan karena nostalgia, melainkan karena keluhan-keluhanmu yang menyudutkan dirimu sendiri pada suatu ketidakwajaran. Dalam ingatanku, kini kondisimu bertolak belakang dengan gaya hidupmu yang penuh rasa semangat dan percaya diri pada saat aku mengenalmu jauh di masa lalu.

Aku menahan kecewa. Pertemuan yang harusnya penuh tawa rupanya hanya tersimpan dalam angan-angan.

Malam itu, bayanganmu di masa lalu tiba-tiba kembali memburu. Dulu, kita dalam kondisi sama, belum menanggalkan masa lajang. Padahal, usia kita juga telah sama berada pada kepala tiga. Memasuki kepala empat, kita juga sama-sama termenung. Jalan untuk menemu jodoh memang tak bisa dijelaskan.

Meski demikian, di antara kita tak ada yang kecewa, tetap tertawa dan gembira.
Kekosongan hatimu mulai terisi pada usia empat puluh tujuh. Kau menemukan separuh jiwamu yang lama hilang pada seorang gadis berumur dua puluh tujuh. Akhirnya, kau resmikan hubungan kalian yang membuatku pelan-pelan menyingkir darimu dan berkelana sampai ke luar kota.

Kini, lewat sepuluh tahun setelah kalian meresmikan hubungan, aku tidak percaya kembali menemuimu dalam sebuah kecemasan.

“Kapan kau mulai tak bisa tidur?”

“Oh, kuharap kau bisa membantu.”

Beberapa saat kau diam.

“Kau ingat dengan Pak Sumin yang menjadi guru ngaji di langgar tempat kita biasa mengaji sewaktu kecil dulu?” tanyamu.

Aku mengernyitkan dahi. Apa hubungan antara Pak Sumin dan kondisimu yang tak bisa tidur?

“Kau sudah lupa?” tanyamu kembali.

Mau tidak mau, aku memaksa ingatanku kembali ke puluhan tahun silam. Ketika itu, kita masih sama-sama di bangku sekolah dasar. Benar, di kampung kita memang ada satu langgar tempat kita selalu mengaji. Bukan karena rajin, melainkan karena Pak Sumin selalu memaksa dan menakut-nakuti. Kita tak berani menolak perintah Pak Sumin karena ia selalu memiliki banyak cara untuk membuat nyali kita redup.     

“Aku sama sekali tidak lupa,” jawabku.

“Aku percaya dengan kata-kata Pak Sumin.”

Aku tidak mengerti maksud kata-katamu. Mengapa hingga kini kau masih sengaja mengingat seorang tua yang kita takuti pada masa kanak kita dulu?
Apakah kau memintaku datang hanya untuk mengingat kenangan masa lalu?

“Kau ingat pada malaikat yang disebut-sebut Pak Sumin untuk menakut-nakuti kita dulu?”

Aku termenung, “Untuk menakut-nakuti kita bila tidak mengaji?”
Kau mengangguk.

Malaikat apa gerangan? Untuk yang ini aku mengaku lupa. Selama puluhan tahun, aku hanya ingat memang benar Pak Sumin selalu menakuti kita jika tak mau mengaji di langgar, tapi mengapa kau masih mengingat kejadian yang sudah lampau? Padahal, Pak Sumin sudah lama tiada.

“Malaikat Izrail?” tanyaku setengah berkelakar.

“Salah,” jawabmu singkat.

Aku terdiam, bukan karena ingin mengingat kenangan sewaktu kecil, melainkan justru karena urat yang bertonjolan di dahimu menunjukkan bahwa kau sedang tidak bercanda.

“Kau masih ingat dengan Malaikat Zabaniyah?” bisikmu nyaris tak terdengar.
“Pak Sumin selalu menakut-nakuti kita dengan menyebut-nyebut Malaikat Zabaniyah. Kata Pak Sumin, jika kita malas mengaji, malaikat itu akan mencari kita karena malaikat itulah yang dipanggil Tuhan untuk menyiksa orang-orang yang berdosa.”

Ketika kau membisikkan nama malaikat itu, kulihat matamu membulat serupa burung hantu yang sedang berburu.

“Kenapa diam saja?” tanyamu.

Matamu kini kulihat menyipit. Sebenarnya apa maksud di balik ucapanmu?
“Berhari-hari malaikat itu menungguku,” jelasmu.

Aku ingin mengerti maksud ucapanmu. Namun, tiba-tiba lidahku kelu.

“Malaikat itu menungguku ketika aku tidur,” bisikmu dengan wajah kaku.

Perlahan kau membuatku heran.

“Aku yakin malaikat itu sengaja menungguku di alam mimpi.”

“Dari kapan?” tanyaku.

“Kurasa beberapa hari terakhir ini.”

Kau tak bisa tidur karena takut pada Malaikat Zabaniyah yang kau sebut-sebut selalu menunggumu di alam mimpi?

“Percaya atau tidak?” tanyamu menyelidik.

Setelah kuanggukkan kepala, barulah kau mulai menceritakan kondisi rumah tanggamu selama ini dengan gadis pilihanmu yang usianya selisih dua puluh tahun denganmu itu.

Kau tampak melihat-lihat sekeliling. Adakah kau melempar pandang untuk mengetahui bahwa istrimu memang tidak sedang mengikutimu atau kau justru sedang memastikan bahwa malaikat yang kau ceritakan padaku itu memang tidak menunggumu di alam nyata?

Kau mengingatkanku kembali pada istrimu yang masih muda, yang dulu membuatku selalu merasa iri dan cemburu pada nasibmu. Bagaimana kini kau bisa merasa tak bahagia?

Kau katakan padaku bahwa kau memang seorang suami yang tak mampu menciptakan rasa bahagia. Sewaktu istrimu mengharapkan keadaan yang berkecukupan, kau sadar kau tak bisa memberikan. Kau juga sadar, setiap kali istrimu meminta, kau selalu tak punya dan tak bisa. Dalam segala hal, katamu.
Kau selalu gagal memenuhi setiap keinginan istrimu. Sejak itu, kau memasabodohkan apa pun yang dilakukan istrimu di hadapanmu. Kau hanya ingin melihat istrimu bahagia.

Suatu hari, ketika kau membukakan pintu dan seorang yang mengetuk pintu itu ialah seorang lelaki seumuran istrimu, kau hanya tersenyum kecut dan menyilakan lelaki itu masuk dalam rumahmu, menunggumu memanggilkan istrimu. Ketika istrimu mengenalkan lelaki itu padamu sebagai seorang kawan di masa silam, kau hanya mengatakan: “Oh.” Namun, kau sendiri yakin bahwa hubungan istrimu dengan lelaki itu lebih dari itu.

Setelah itu, setidaknya sekali dalam seminggu istrimu dan lelaki itu bertemu di rumahmu. Ketika istrimu hendak pergi dengan lelaki itu dan meninggalkanmu seorang diri di rumah, kau menyerahkan begitu saja kepergian istrimu tanpa dendam dan amarah. Kau biarkan istrimu memasuki mobil lelaki itu dan melihatnya berada di dalamnya dari kejauhan. Seakan istrimu ialah boneka barbie cantik yang tersimpan dalam kotak kaca dan sedang dipinjam oleh kawanmu.

Saat istrimu pulang, kau mendengar ada bunyi gemerincing. Kau lihat ada tiga gelang melingkari tangannya. Sejak saat itulah kau selalu menggigil bila tak sengaja melihat gelang-gelang di tangannya.

Mengapa kau menahan rasa amarahmu? Yang terpenting ialah melihat istrimu bahagia, katamu. Lelaki itu, katamu, mampu memberikan semua yang tak mungkin bisa kau berikan pada istrimu.

Mengapa kau tak melepaskan istrimu untuk lelaki itu secara sah? Kau termangu dalam sendu. Katamu, kau tak rela kebahagiaanmu terhenti jika istrimu benar-benar pergi. Kebahagiaanmu ialah melihat istrimu bahagia setiap waktu tanpa harus melepasnya untuk berlalu. Bukankah melihat orang yang dicintai merasa bahagia adalah bentuk kebahagiaan yang hakiki?

Dan suatu malam, kau merasa bahwa Malaikat Zabaniyah sedang menunggumu ketika kau sedang berada dalam tidur. Sekujur tubuhmu terasa kaku. Satu-satunya gerakan yang masih bisa kau rasakan ialah helaan napasmu yang memburu. Dalam mimpimu, sosok malaikat itu tak bicara padamu. Ia hanya menunggumu.

“Kau percaya pada ceritaku?” tanyamu.

Aku yakin kau tak pernah membohongiku. Namun, kecemasan yang tampak pada raut wajahmu membuatku semakin pilu.

“Seolah-olah malaikat itu benar-benar menungguku karena aku telah melakukan banyak dosa,” katamu.  

“Padahal, kau tak tahu dosa apa yang telah kau lakukan?”

“Kau tahu, aku selalu merasa menjadi pedagang yang sedang menawarkan barang dagangan pada orang yang datang. Kau tahu, kadang aku merasa ganjil dengan apa yang kulakukan.”

Kau menjawab sambil menangis. Aku melihatmu menangis seperti ketika masa kanak dulu. Ketika Pak Sumin dengan sengaja memarahi kita karena nekat tak mengaji atau ketika orangtuamu mencambuki punggungmu karena kau ketahuan menyelipkan sebatang rokok di sela bibirmu.

“Malaikat itu sengaja menungguku,” katamu di sela isakmu yang membuat dadaku terasa sesak. Rupanya kau telah menukar rasa kantukmu dengan ketakutan dan kecemasan yang menghantuimu.

Aku meninggalkanmu dalam suasana hati yang kelam. Langkahku tak tegak seolah kehilangan tempat berpijak. Kata-katamu padaku membuat diriku sendiri tak yakin bahwa aku lebih mulia darimu. Orang-orang mengenalku sebagai lelaki tua santun yang belum pernah berumah tangga, sedangkan diam-diam ragaku selalu menemui banyak sosok perempuan yang silih berganti tanpa mereka ketahui.  

Malam itu aku terbangun dari tidur setelah sekujur tubuhku kaku dan yang terasa hanya deru napas yang memburu. Aku melihat sosok itu di seberang sana. Ia tak bicara. Namun, membuatku tercekat seolah tubuhku terikat. Napasku tersengal, jantungku berdenyar, dan tubuhku gemetar. Barangkali benar, malaikat itu juga sedang menungguku di alam bawah sadar?

BERITA TERKAIT