Rayakan Makanan dengan Ilustrasi


Penulis: Fathurrozak - 08 December 2018, 22:55 WIB
MI/FATHURROZAK
MI/FATHURROZAK

TINTA hitam meluber dari permukaan putih, seolah menjadi alas bagi tiga potong cumi berwarna putih dengan bubuhan warna cokelat. Empat iris cabai merah menjadi pemanis sajian hidangan tersebut. Sementara itu, sepotong lele tersaji bersama nasi putih lengkap dengan potongan tahu, tempe, kacang tanah, dan sambal. Ragam makanan itu menjadi sebagian dari deretan impresi kenangan, ajakan kita untuk mencerna yang ada di balik makanan.

Balakutak atau cumi yang dimasak dengan tinta hitam itu merupakan kenangan seniman Beng Rahadian pada masakan almarhum ibunya, saat masih menetap di Cirebon. Sementara itu, lele yang sederhana itu, sudah menemani Beng sejak dirinya kuliah di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, meski semasa kuliah ia tidak pernah mencicip mangut lele Mbah Marto yang sebenarnya terletak dekat dengan kampusnya.

Barulah ia menjajalnya ketika turisme kuliner mulai marak.
Kenangan juga muncul tatkala sekira delapan potong belalang cokelat tergambar menggunakan materi cat air di atas bidang kertas berukuran 21 sentimeter x 29,5 sentimeter. Kali ini, kenangan kurang mengenakkan yang menghampiri sang seniman. Meski ia menikmati menyantap belalang goreng di Gunung Kidul, Yogyakarta, tetapi tubuhnya menolak. Dia merasakan gatal di area tangan dan kaki, setelah memakannya.  

Cerita Makan Nusantara menjadi pameran tunggal terbaru ilustrator Beng Rahadian, yang mulai menggambar makanan sejak awal 2017 dan semakin intens pada tahun ini. Ia merasa perlu mendokumentasikan makanan yang pernah ia makan, sebagai salah satu cara merayakan makanan.

Ingatan Beng terhadap alergi belalang goreng di Gunung Kidul itu, salah satunya menjadi memori yang ia pilih. Bukan soal rasa saja, melainkan melalui makanan ia mengungkap caranya membaca situasi dan melihat fenomena sosiogeografis suatu wilayah.

“Itu (belalang goreng) harus saya masukkan meski efek ke saya tidak baik karena ternyata saya ada alergi. Namun, saya melihat ini menjadi suatu fenomena kawasan, di Gunung Kidul, yang karakteristiknya banyak sawah, lading, layaknya wilayah negara kita yang punya kawasan agraris. Belalang ini kan hama sawah, dan di sana, hama tidak dibunuh menggunakan pestisida, tetapi dikonsumsi,” ungkapnya, seusai pembukaan pameran di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (28/11).

Pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini pun memilih pendekatan realis, dengan mewujudkan bentuk dan impresi nyata dari suatu makanan. Meski tidak semuanya utuh dengan pendekatan realis dan banyak di antaranya lebih cenderung ekspresionis.

“Karena memori saya juga realis, jadi saya ingin pindahkan memori saya ke kertas, dengan selera, impresi saya terhadap makanan, saya wujudkan ke situ mendekati pengalaman itu. Jadi, realis menjadi pilihan yang tepat.”

Kurator pameran Yulian Ardhi menilai pendekatan yang dilakukan Beng dalam menggambar pameran menjadi penyegaran visual dan perkembangan diri dalam proses berkarya sang seniman.

“Pendekatan visual realistis yang Beng ambil dalam karya-karya pamerannya ini sangat berbeda dengan gaya visual yang dia tekuni selama ini. Peralihan gaya visual ini terasa menyegarkan.”


Ekosistem

Visual yang muncul bukan saja sesuatu yang pernah dimakan si pembuat karya. Ia memilih menaruh beberapa elemen yang berisi sosok yang memiliki hubungan dengan makanan itu atau bahkan tempat makanannya.

Sebut saja seorang yang menggunakan sepedanya untuk mengantar kerupuk dan beberapa kaleng yang tervisualkan di sampingnya. Sesederhana kerupuk yang dimakan, ada kisah di balik proses panjang, yang mungkin tidak kita sadari karena mudahnya kita memakannya. Ini menjadi suatu titik ajakan Beng Rahadian, untuk menggali sesuatu yang lebih dalam lewat makanan.

“Ketika melihat sebuah makanan sering terlewat begitu saja, karena sudah lewat ke perut kita. Padahal, di dalam sebuah makanan, ada ekosistem besar, ada kehidupan orang lain. Saya kira ini ajakan untuk mereka juga untuk menyimpan pengalamannya sendiri, ketika makan jangan hanya lewat, mari kita pikirkan lebih dalam, dari memikirkan apa yang kamu makan akan tahu dari mana kamu berasal,” katanya.

Cerita Makan Nusantara menjadi cermin untuk kita bahwa makanan bukan sekadar rasa, melainkan juga ada pemaknaan cerita dalam proses makanan itu tersaji di hadapan kita. (M-4)

BERITA TERKAIT