Indonesia-Inggris Sepakati Kerja Sama Multisektor Bidang Lingkungan


Penulis: Indrastuti - 07 December 2018, 21:10 WIB
ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo
ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo

MENTERI Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya menyambut baik hasil pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris Mark Field yang diselenggarakan di Sekretariat Delegasi Indonesia (Delri) dalam Konferensi Iklim PBB COP 24 UNFCCC di Katowice, Polandia pada (7/12).

Pertemuan tersebut menghasilkan kesepatan kerja sama dalam program pengelolaan hutan, lahan pertanian, serta manajemen mangrove dan pengelolaan sampah plastik laut.

"Saya optimistis dengan kerja sama ini karena kerangka konsep yang menyeluruh dan jangka panjang. Yang terpenting adalah memberikan dampak kepada sistem dan langkah sistematis di negara kita," jelas Siti.

Dalam bidang pengelolaan hutan, kerja sama yang dilakukan adalah Bio Carbon Initiative dengan Jambi sebagai lokasi serta Forest Carbon Partnership di Kalimantan Timur.

"Melibatkan masyarakat dalam menjaga hutan akan mengubah cara pandang mereka dalam menilai apa yang disebut sebagai karbon. Tidak semata negatif, ternyata mereka juga bisa mendapatkan manfaat dari situ,” Siti menambahkan.

Agenda kerja sama lain adalah Green Economic Growth di Papua, serta inisatif Indonesia dan Kongo mendirikan International Tropical Feed Land Center yang juga mengelola lahan gambut.

"Kita akan siapkan Nota Penandatangan segera. Saat ini, kerja sama pengelolaan lahan pertanian telah mulai, dalam bidang sawit kita pertajam, dan pengelolaan sampah plastik laut baru akan dimulai, termasuk juga mangrove," papar Siti.

Terkait sawit, ujar Siti, Pemerintah Inggris dan Indonesia sepat mendorong tata kelola manajemen sampah plastik laut. Pembahasan mengenai tata kelola ini akan dilanjutkan sebelum pertemua United Nation Environtmen Assembly (UNEA) yang berlangsung Maret 2019 di Nairobi, Kenya.

Lebih lanjut, ujar Siti, Pemerintah Inggris telah menyetujui pendanaan untuk program-program tersebut. Program pengelolaan hutan di Jambi dan Kalimantan Timur akan mendapat bantuan senilai US$37,5 juta, di Papua 11 juta Pounsterling. Bantuan yang diberikan berupa bantuan teknis dan capacity building.

Bantuan untuk Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) telah berjalan selama dua tahun sebesar 1,5 juta Poundsterling serta 3 tahun ke depan sebesar 4,5 juta Poundsterling untuk pembenahan tata kelola dan peningkatan standar ISPO.

Dirjen Peralihan Perubahan Iklim KLHK Ruandha Agung Sugardima dalam kesempatan yang sama juga menyampaikan  bahwa Indonesia akan melaporkan laporan tahunan kedua terkait penurunan emisi kepada COP untuk validasi.

"“Dari 29% target Indonesia, pada 2017 telah tercapai sebesar 8%. Kita targetkan pada tahun ini sebesar 10-11%, akan dilaporkan lebih detail minggu depan,” jelasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT