Presiden Jokowi akan Hadiri Puncak Kongres Kebudayaan


Penulis: Syarief Oebaidillah - 07 December 2018, 20:55 WIB
ist
ist

DIRJEN Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengutarakan puncak acara Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) akan dihadiri Presiden Joko Widodo atau Jokowi di kantor Kemendikbud Jakarta, Minggu (9/12).

"Puncak acara KKI pada tanggal 9 Desember mendatang akan diisi dengan Pawai Budaya. Dan acara puncaknya penyerahan dokumen KKI kepada Presiden Jokowi," kata Hilmar Farid di Jakarta, Jumat (7/12).

Menurut Hilmar, Penyusunan Strategi Kebudayaan merupakan amanat dari Undang-undang Pemajuan Kebudayaan.

"Dan tahun ini, Strategi Kebudayaan akan ditetapkan pada saat Kongres Kebudayaan Indonesia 2018," tegas Hilmar.

Seperti diberitakan, Ditjen Kebudayaan Kemendikbud telah melaksanakan Kongres Kebudayaan Indonesia (KKI) 2018. Kongres kali ini menjadi tonggak penting pengelolaan kebudayaan nasional karena peran strategisnya dalam pemajuan kebudayaan, sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017.

Sementara itu, memasuki hari kedua Kongres Kebudayaan berlangsung semarak dan meriah. Berbagai ragam budaya Indonesia mewarnai kegiatan KKI di halaman Kompleks Kantor Kemendikbud Jakarta, yang dibuka sejak 5 Desember 2018.

Kegiatan yang berlangsung untuk masyarakat umum ini mendapat sambutan antusias berbagai kalangan, baik pegawai, pelajar, mahasiswa, seniman, dan budayawan. Di antaranya kegiatan yang dinikmati publik berupa seni lukis dilingkungan Kemendikbud. Sebanyak 30 seniman dari berbagai daerah menghadirkan mural dengan ragam tema yang diambil dari sepuluh objek kebudayaan.

Menurut Hilmar, berbagai kegiatan yang berlangsung meliputi seminar dari pembicara terkemuka, pertunjukan seni, dan lain-lain dalam rangkaian KKI. Termasuk, kata Hilmar, para seniman yang membuat mural.

"Mereka melukis mengikuti tema yang diangkat dalam karya mural mereka diambil dari 10 objek kebudayaan berdasarkan UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Ke-10 objek kebudayaan itu adalah permainan rakyat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, adat istiadat, manuskrip, tradisi lisan, seni, bahasa, dan ritus," jelas Hilmar.

Di tempat berbeda juga dilaksanakan forum diskusi dengan berbagai tema disajikan.

"Pembahasannya tentang tema bagaimana konsep mural satu sama lain bisa saling berkolaborasi. Selanjutnya mereka membuat sketsa, dan berdiskusi lagi untuk menentukan letak atau posisi tiap karya," tukasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT