Era Disrupsi Mencari Keseimbangan Baru


Penulis: Dhika Kusuma Winata - 07 December 2018, 20:34 WIB
MI/ Susanto
MI/ Susanto

EKONOM Agustinus Prasetyantoko memperkirakan peekembangan teknologi digital bakal kian menyeruak ke seluruh sektor kehidupan ke depannya. Arus teknologi akan kian intensif.

Namun, ia optimistis berbagai disrupsi yang saat ini terjadi tidak akan menjungkirbalikkan seluruh pranata yang sudah terbangun, melainkan mencari keseimbangan baru.

"Sekarang masa mencari keseimbangan baru. Apakah dengan berbagai disrupsi yang terjadi ini semua akan serba online misalnya, saya yakin tidak," ucapnya dalam acara Catatan Akhir Tahun yang digelar Unika Atma Jaya Jakarta, Jumat (7/12).

Dia memaparkan disrupsi akibat revolusi teknologi 4.0 kini dialami berbagai sektor. Mulai dari keuangan, jasa, hingga media. Menurutnya, sektor pendidikan juga bakal mengalami disrupsi. Namun, itu bukan berarti kegiatan perkuliahan tatap muka secara fisik bakal hilang.

Hemat dia, ada yang tidak tergantikan dari kuliah tatap muka fisik yakni interaksi alamiah. Di Amerika, lanjutnya, memang ada kampus yang sepenuhnya daring, tapi ada juga sebagian yang justru menguatkan kembali perkuliahan offline.

"Kuliah daring memang perlu diperbanyak, tapi kuliah di kelas juga perlu diperkuat. Ini soal keseimbangan yang perlu terus dicari formulanya. Itu tidak menggantikan tapi melengkapi," ujar Prasetyantoko, yang juga merupakan Rektor Unika Atmajaya itu.

Untuk beradaptasi di era disrupsi ini, lanjutnya, kampus yang diasuhnya kini terus menambah kelas perkuliahan daring. Saat ini tercatat ada delapan mata kuliah yang bisa dilakukan secara daring.

"Kita tidak akan penuh membuka kelas daring tapi dengan skema campuran. Ada daring juga ada tatap muka." (OL-4)

BERITA TERKAIT