Ratusan Perusahaan di Kota Sukabumi Gulung Tikar


Penulis: Benny Bastiandy - 07 December 2018, 17:13 WIB
Ist
Ist

SEKITAR 100-an perusahaan di Kota Sukabumi, Jawa Barat, terpaksa menutup usaha mereka. Penyebabnya karena berbagai faktor, seperti ekonomi maupun kenyamanan berusaha.

"Awalnya perusahaan di Kota Sukabumi tercatat sekitar 620-an. Sekarang berkurang menjadi sekitar 520-an lagi. Ada beberapa perusahaan yang gulung tikar karena faktor ekonomi, ada juga yang berpindah karena mungkin tidak nyaman," kata Plt Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Sukabumi, Iyan Damayanti, Jumat (7/12).

Baca juga: 8 Ribu Lebih Pemilih yang Masuk DPT Belum Lakukan Perekaman e-KTP

Iyan menyesalkan banyak perusahaan yang memilih hengkang. Sebab, dengan kondisi itu tentunya akan berdampak terhadap banyak karyawan yang kembali menganggur. "Kami sangat menyesalkan terjadi kondisi seperti ini. Seperti perusahaan di Kelurahan Sudajaya Hilir di Kecamatan Baros. Manajemen perusahaan memilih pindah ke Cicurug Kabupaten Sukabumi karena sering didemo. Mereka jadi tidak nyaman berusaha di sini," ujarnya.

Iyan mengaku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah berkoordinasi dengan aparatur kelurahan dan kecamatan untuk memberikan pengertian kepada masyarakat. Utamanya menyangkut pelayanan kepada investor agar nyaman berusaha di setiap wilayah di Kota Sukabumi. "Kita coba buat investor betah. Tanpa investor kita akan sulit. Apalagi pengusaha lokal di kita terbatas," ucapnya.

Iyan tak menyebut angka pasti jumlah pegawai yang terdampak dengan hengkangnya sejumlah perusahaan maupun yang gulung tikar. Tapi ia memberikan gambaran sebuah perusahaan yang hengkang dari Kota Sukabumi tidak mungkin membawa serta pegawainya ke daerah lain. "Yang jelas dengan tutupnya perusahaan maupun ataupun perusahaan yang hengkang akan menambah lagi jumlah pengangguran," terang dia.

Sejauh ini berbagai upaya mengatasi angka pengangguran terus dilakukan Pemkot Sukabumi. Di antaranya dengan menggelar job fair yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Targetnya, satu tahun bisa menyerap 5 ribu tenaga kerja.

"Tahun ini hingga akhir November target terlampaui. Tapi tren (penyerapan) turun. Pada 2015 sebesar 107%. Pada 2017 juga turun. Angkanya rata-rata turun sekitar 200-300 orang," pungkasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT